Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
episode 33


__ADS_3

Setelah menyadari akan kesalahannya yang Abah lakukan atau yang ia ucapkan baik yang di sengaja maupun tidak sengaja tiada henti Abah selalu meminta maaf pada ibu. Dan di sinilah ibu membuang rasa egois di dalam dirinya walau masih terasa perih, walau luka itu belum kering luka yang bikin sakit tapi tidak berdarah dan demi ketiga anak tercinta nya itu pula ibu memaafkan semua kesalahan yang Abah lakukan dan ucapkan itu namun rasa kepercayaan yang selama ini dia berikan kepada suaminya itu dengan sepenuh hati telah berkurang kadarnya terkikis seiring kejadian itu tapi bagaimana pun juga Abah masih suaminya dan ayah dari anak-anak nya itu.


Kisah kelam itu di tutup dengan akhir yang bisa di bilang bahagia bukan bukan.. bukan bahagia karena masih ada luka di sana yang tidak tahu kapan sembuhnya dan tentunya akan meninggalkan bekas jadi lebih tepatnya terselesaikan dengan baik.


Lembaran-lembaran kusut dan buram itu di tutup rapat dan di gantikan dengan lembaran-lembaran yang masih putih dan bersih berharap kisah baru yang tertulis di tiap lembaran tersebut itu mengisahkan kisah yang bahagia dan menyenangkan.


Hubungan ibu dan Tante letha pun makin hari makin baik dan erat saja, tiap Minggu Tante letha selalu berkunjung ke rumah bersama anak-anak nya dan om Adit jika ia tidak sibuk sedangkan hubungan ibu dengan keluarga om Adit lainnya juga masih baik tapi tuk jeng Erna dan om Satrio sendiri, mereka biasa saja tak ada tegur sapa jika bertemu ibu dan untungnya ibu jarang bertemu mereka hanya pernah bertemu di dalam beberapa kesempatan saja. Kata om Adit, kelakuan om Satrio masih sama seperti dulu dan tidak tahu kapan berubahnya sang ayahnya pun sudah lelah menasehati nya hingga om Adit sendiri sudah angkat tangan tidak mau mencampuri urusan om Satrio lagi. Mendengar cerita om Adit tentang om Satrio ibu hanya bisa menghembuskan nafas kasar nya dan berdoa agar om Satrio bisa merubah sifatnya itu yang merugikan orang lain.

__ADS_1


Eva, Bagas dan mas yudhi menjalani hari-hari nya kini dengan senyuman lagi dan belajar terus belajar itu lah kewajiban mereka sebagai seorang pelajar. Tak terasa mas Yudhi sudah menyelesaikan ujian nasional nya tinggal menunggu pengumuman dan di ruangan kecil ini tempat dimana mereka sekeluarga menghabiskan waktunya tuk bercengkrama sambil menonton acara favorit mereka, "Mas yakin gak bisa lulus dengan nilai baik?" tanya Eva pada mas nya itu.


"Yakinlah de, mas tuh dah mati matian tuk ujian itu" jawab mas Yudhi sambil fokus lihat ke layar tv.


"mas kaya tentara aja mati matian" sela Bagas dan mendengarkan ucapan nya semua anggota keluarga yang ada di sana tertawa.


"Bu, rasanya aku gak akan kuliah ?" ucap mas Yudhi.

__ADS_1


"kenapa?? kamu takut Abah gak bisa biayain kamu, Abah masih kuat buat biayain kamu mas" jawab Abah sedikit kecewa dengan ucapan putra sulungnya itu yang tidak mau meneruskan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


"Bukan begitu bah, aku tau Abah masih kuat tuk biayain aku tapi kan masih ada Eva dan Bagas yang harus Abah biayain juga walau pun Abah gak kuat biayain juga aku bisa aja kan kuliah sambil kerja tapi aku gak mau itu semua, aku hanya ingin fokus satu kegiatan saja" ucap mas Yudhi.


"Lalu mau mu apa mas?" tanya ibu lagi


"Yudhi mau kerja Bu" jawab mas Yudhi.

__ADS_1


__ADS_2