Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
episode 43


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak perpisahan sekolah Eva dan sudah sebulan ini pula kegiatan Eva hanya di rumah saja membantu sang ibu, bukan Eva tidak mau melakukan kegiatan lain nya tapi memang tidak ada kegiatan lain tersebut selain membantu ibu.


Ya sebulan terakhir ini dia hanya menghabiskan waktu nya di rumah saja dan dia pun telah bosan dengan rutinitas nya itu tapi mau bagaimana lagi sudah puluhan surat lamaran pekerjaan yang dia kirim ke perusahaan-perusahaan di Jakarta tapi hingga detik ini belum satu pun yang menghubungi nya walau hanya sekedar tuk interview saja.


Lelah,bosan dan merasa putus asa yang Eva rasakan saat ini. Membuat surat lamaran itu membutuhkan modal yang tidak sedikit hingga membuat uang di tabungan pribadinya terus menerus berkurang, dia berusaha memutar otak nya tuk mencari cara agar uang di tabungan nya tidak habis dan kalau bisa dapat bertambah terus tapi itu tidak mungkin gimana mau bertambah sedangkan dia saja belum bekerja.


"Pusing tujuh keliling ini mah" batin Eva berkata sambil melihat saldo akhir di buku tabungan nya. Dia tidak mungkin minta uang pada kedua orang tuanya, dia tidak mau menambah beban kedua orangtuanya dan saat ini yang bisa dia lakukan hanya bisa menunggu keberuntungannya saja.


Dari pada rambutnya rontok hingga bisa menyebabkan kebotakan karena memikirkan masalah tersebut lebih baik dia ke dapur membantu sang ibu.


"Masak apa Bu hari ini?" tanya Eva yang melihat ibunya sedang memasak di dapur.

__ADS_1


"Ya ampun va, kamu bikin kaget ibu saja sih kalau ibu jantungan gimana??" jawab sang ibu sambil menepuk bahu Eva.


"Maaf Bu nggak sengaja" balas Eva dengan cengiran nya. "O ya Bu, ibu belum jawab pertanyaan Eva tadi nih" sautnya lagi.


"Tumis kangkung, sambal, goreng tempe dan goreng ikan nila VA. Kenapa kamu udah lapar ya??" kata sang ibunda.


"Iihh ya belum lah Bu kan barusan selesai sarapan dan ini juga masih jam sepuluh pagi emang nya perut Eva apaan jam segini udah lapar lagi" jawab Eva dengan bibir manyun nya itu.


"Iiihh ibu nih" jawab Eva kesal hingga kangkung di depan matanya jadi sasaran empuk kekesalan nya.


Melihat kelakuan putri semata wayangnya itu membuat ibu senyum senyum nggak jelas gitu. " udah jangan di masukkan ke dalam hati ucapan ibu, tadi kan ibu dah bilang cuma bercanda, kamu sensitif banget sih udah kaya lagi PMS saja sih." sindir ibu.

__ADS_1


Eva hanya tersenyum manis pada ibu dan meneruskan kegiatan nya membantu ibu.


"Bagaimana kelanjutan surat lamaran kamu itu sudah ada yang menghubungi kamu belum?". tanya sang ibu pada Eva yang terkejut dengan ucapan tersebut.


"Ya nggak gimana-gimana, Eva hingga saat ini belum dapat telpon dari perusahaan manapun" jawab Eva menghela nafas nya.


"Sabar ya, rejeki itu nggak bakal kemana yang penting kamu sudah berusaha bisa saja kan ini juga ujian bagi kamu biar nanti kamu bisa menghargai hasil kerja keras kamu sendiri." kata ibu dengan penuh bijaksana.


"Iya juga ya Bu, Eva kan baru sebulan nganggur susah mengekuh begini padahal di luar sana ada yang lebih dari Eva. Seharusnya Eva bersyukur pada Tuhan karena masih bisa berkumpul sama keluarga coba kalau eva sudah kerja nanti kan belum tentu bisa berkumpul bersama lagi." jawab Eva


"Nah kamu paham kan jadi apa pun ujian yang Tuhan berikan pada umatnya terima dengan ikhlas dan tawakal lihat dengan positif saja dan ambil hikmah nya saja jadi itu bisa buat kamu tenang. Ingat selalu berpikiran positif" kata ibu yang di sertai dengan anggukan dari Eva sebagai jawaban setuju.

__ADS_1


__ADS_2