Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
episode 40


__ADS_3

Terpancar kesedihan di raut wajah wanita paruh baya itu mendengar perkataan putra sulungnya "mas kamu yakin dengan pekerjaan tersebut."


Sang putra tertunduk lesu "Mas masih pikir pikir Bu tapi kalau ibu tidak setuju mas tidak akan terima karena ridho orang tua ridho Allah juga."


Sang ibu menatap wajah putranya dengan seksama tersirat rasa sedih yang bercampur bangga di hati wanita paruh baya itu "mas apapun keputusan mas, Abah dan ibu akan terima dengan lapang dada jika itu tuk masa depan mas ibu ikhlas namun satu yang harus mas dengarkan saat ini di mana pun mas berada jaga sikap dan perilaku mas jika mas baik dengan orang lain, mas juga akan di baiki lagi. Hargai dan hormati orang lain terlebih dahulu sebelum diri mas sendiri."


Mendengar ucapan sang ibu membuat mas Yudhi setengah yakin akan keputusan nya itu dan setengahnya lagi akan dia dapatkan dari jawaban sang ayah nanti "mas akan lakukan segala nasehat ibu terima kasih atas kepercayaan yang ibu berikan pada mas."

__ADS_1


Dan di sinilah jawaban akan keputusan yang akan merubah masa depannya itu akan terjadi, duduk di hadapan kedua orang tuanya dan orang-orang yang dia sayangi.


"Mas apapun keputusan mas, Abah dan ibu akan terima dengan ikhlas jika memang sudah jadi keputusan mas dan mas yakin dengan pekerjaan ini kami sebagai orang tua tidak akan memaksa mas dan akan selalu mendukung mas. Jaga amanat dan nasehat Abah dan ibu, Abah yakin kamu akan belajar banyak dari pekerjaan ini" ucap abah dengan tenang walau sedikit tersirat kesedihan di matanya.


"Terimakasih Abah dan ibu mendukung keputusan mas dan percaya pada mas, semua nasehat dan amanat yang Abah dan ibu berikan akan masa jalani dan lakukan. Benar kata Abah, mas akan belajar banyak dari keputusan mas ini." ucap mas yudhi dan dia sudah yakin dengan keputusan nya itu.


Hening itulah yang terasa di ruangan ini hingga sepasang mata menatap tajam ke arah wanita paruh baya yang sedang duduk di hadapannya sedangkan yang di tatap tidak menyadarinya, tampak butiran-butiran bening membasahi kedua pipinya yang sudah tak tampak lagi kencang. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di pikiran wanita paruh baya itu apakah sang putra akan baik-baik saja di kota lain, apakah sang putra akan makan dengan teratur, apakah sang putra bisa menjaga kesehatan nya, apakah sang putra akan bisa merawat diri tanpa kehadiran nya dan masih banyak lagi. Sang putra menatap wajah sang ibu yang ada di hadapannya, mendekat dan terus mendekat hingga berjongkok di hadapan sang ibu.

__ADS_1


Sang ibu terus memeluk putranya itu dengan kencang seakan-akan ini pelukan terakhir baginya "jaga kesehatan mas jangan lupa sholat dan jaga amanat Abah dan ibu dengan baik, ibu percaya sama mas."


Mendengar ucapan sang ibu, mas yudhi hanya menganggukkan kepalanya dan Abah mengelus tangan ibu memberi kenyamanan pada istrinya itu.


"Mas 3tahun waktu yang lama bagi ibu jangan lupa kasih kabar ibu pasti rindu sama mas. Mas belum berangkat saja ibu sudah merindukan mas."


Putra sulungnya itu tersenyum "iya mas gak akan lupa, mas pasti akan sangat merindukan ibu,Abah dan adik-adik. Doakan mas selalu ya Bu hingga bisa jadi anak yang bisa ibu dan Abah banggakan".

__ADS_1


Sang ibu mengangguk "pasti ibu selalu dan terus menerus mendoakan anak-anak ibu tiada henti."


Mas Yudhi sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi nya dan keputusannya itu lah yang akan merubah masa depannya. Suasana di ruangan tersebut terasa begitu sedih namun masih terpancar kehangatan di dalamnya. Kehangatan keluarga yang akan sangat dia rindukan.


__ADS_2