Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
Bab 59


__ADS_3

Damar mengantarkan makanan untuk Jessica, malah justru mendapatkan amukan dari Jessica. Jessica masih tidak terima dengan apa yang damar lakukan padanya. Damar seolah mengurung didalam rumah itu. "Kamu tidak bisa mengurungku disini?"


" Mengapa tidak bisa? Buktinya sekarang kamu sudah berada disini." Ucap damar.


" Berapa lam kamu akan mengurung ku disini?" Aku bisa gila! Bagaimana bisa aku tinggal di rumah ini? Tenang dan terpencil, dan tidak apa-apa disini! Siapa yang akan bisa tinggal disini?" Teriak Jessica.


" Aku. Kenapa? Ini adalah rumah orang tuaku. Aku lahir disini. Aku tinggal dan besar di rumah ini. Dan aku sangat senang tinggal disini."


" Benarkah! Jika kamu memang senang berada disini, kenapa kamu pergi? Setidaknya kamu menetap disini dan memulai pekerjaan sebagai petani. Jadi kita tidak mungkin bertemu satu sama lain."


" Itu karena aku bodoh. Aku berpikir jika aku pergi dari sini maka hidupku akan menjadi lebih baik, tetapi ternyata aku salah. Hidupku tambah hancur. Lupakan, aku sudah berada disini sekarang. Aku mungkin akan tinggal disini. Bahkan mungkin sampai aku mati." Kata damar.


" Kalau begitu tetaplah disini sampai aku mati sendiri! Aku tidak mau tinggal denganmu!" Teriak Jessica mendorong damar.


Saat Jessica ingin pergi damar menariknya, " kamu tidak akan bisa pergi. Karena kita ini adalah suami istri. Kita sudah terikat. Bagaimana pun kamu tinggal pergi sendiri, kamu akan tetap bersama denganku. Kecuali kamu menyetujui untuk cerai denganku."


Jessica mengamuk lagi, dia mengambil makanannya diatas meja dan melemparkannya keluar jendela. "Kamu mencoba untuk menghukum ku, kan? Itu tidak akan bisa. Kamu pikir aku akan menderita, justru kamu sendiri yang menderita. Yang sakit bukan hanya aku, tetapi juga kamu." Kata Jessica. Damar menghiraukan lalu pergi begitu saja.


Damar berkunjung ke makam orang tuanya. Kebetulan makan itu terletak di belakang rumah. Damar berdoa untuk kedua orang tuanya, sudah lama dia tidak mengunjungi kuburan kedua orang tuanya. Namun saat dirinya tengah berdoa, dia mendengar suara benda jatuh dari dalam rumah. Terkejut, damar segera berlari ke dalam rumah. Nampaknya Jessica menjatuhkan sebuah kaca hingga pecah. Namun yang lebih mengejutkan damar, Jessica sudah menggoreskan serpihan kaca ke pergelangan tangannya hingga berdarah.


" Sudah aku katakan, kamu tidak akan bisa menghukum ku." Ucapnya dengan tangisan.


Segera damar menghampiri istrinya, dan berteriak meminta bantuan. Jessica melakukan itu agar dirinya bisa keluar dari rumah. Karena rumah itu terletak jauh dari rumah sakit makanya Jessica sengaja menggoreskan tangannya dengan serpihan kaca yang tajam.


Di tempat lain, Denis datang berkunjung ke rumah ibu mertuanya. Dia membawakan buah-buahan untuk ibu mertuanya, tidak lupa dia meminta maaf karena kesibukan dia baru bisa datang berkunjung untuk menjenguk ibu mertuanya itu.


Ibu Laras sangat senang dengan kehadiran menantunya. Ibu Laras sangat berterima kasih atas bingkisan oleh Denis untuknya. Dia bersyukur memiliki menantu yang sangat pengertian padanya. Ibu Laras mengatakan jika dia akan tetap menjaga kesehatan dengan baik, agar bisa meminang cucu. Dia menanyakan kepada Laras apakah sudah ada tanda-tanda kehamilan.


Namun Laras menjawab jika mereka baru saja menikah, tentunya Laras belum hamil. Ibu Laras lalu menasihati Denis untuk jangan terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dan ingin Denis juga memberikan waktu untuk Laras. Namun, Denis tidak menjawab. Denis melirik ke arah Laras. Seolah memberi kode apakah Laras sudah berbicara pada ibunya atau belum. Laras hanya menunduk tidak berani menatap wajah suaminya. Karena sudah lelah menunggu, Laras untuk berbicara dengan ibunya. Denis dengan keberanian berani membicarakan hal itu kepada ibu mertuanya.

__ADS_1


" Kedatangan aku kesini bukan hanya menjenguk ibu, tapi aku ingin membicarakan soal wewenang untuk mengolah aset." Kata Denis.


" Apa maksudmu?" Tanya ibu keras tidak mengerti.


" Bukankah Laras sudah berbicara dengan ibu?" Tanya Denis.


" Laras tidak membicarakan apapun." Jawab ibu Laras.


" Ah, bukan apa-apa. Ibu sebaiknya istirahat dulu, dokter sudah bilang jika ibu harus banyak istirahat." Ucap Laras sambil tersenyum kepada ibunya.


" Baiklah. Ibu istirahat dulu ya." Ucap ibu Laras lalu pergi.


Denis menatap Laras dengan kesal. Dia sudah datang dengan kebahagiaan, jika Laras akan membicarakan hal itu pada ibunya. Denis berencana bukan hanya perusahaan ibunya yang bekerja padanya namun juga dia ingin agar beberapa aset ibunya diambil ahli olehnya. Denis berkata kepada Laras jika dia membantu mengolah aset ibu mertuanya, maka itu juga membantu Laras. Hitung-hitung sebagai warisan baik untuk Laras maupun untuk cucunya di masa depan. Namun Laras justru tidak mau membicarakan hal itu pada ibunya membuat Denis menjadi kesal.


" Kenapa kamu tidak membicarakannya kepada ibu?" Tanya Denis kepada Laras.


" Itu hanya alasan mu saja. Ibu terlihat baik-baik saja. Katakan padaku apa masalahmu?"


" Aku tidak setuju dengan hal itu Denis. Bagiku itu adalah aset ibu, tidak pantas bagi kita untuk ikut campur didalamnya." Ucap Laras. Sedari awal dia tidak menyetujui ide tersebut. Karena dia ingin mereka hidup tanpa harus bergantung pada aset kekayaan ibunya.


" Bukankah kita sudah membicarakannya, apa kamu tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?" Ucap Denis begitu marah kepada istrinya.


" Aku mengerti. Tetapi bagiku tidak pantas bagi kita untuk terlibat dalam aset ibu." Ucap Laras.


Denis merasa kesal, dia menahan amarahnya. Dan pergi keluar. Laras mengejar Denis karena mereka berdua sudah berjanji kepada ibu untuk makan malam bersama.


" Denis kamu mau kemana?"


" Aku mau pulang."

__ADS_1


" Apa kamu marah padaku?"


" Seharusnya kamu sudah tahu tanpa harus bertanya." Jawab Denis.


" Kamu tiba-tiba pulang. Berarti kedatangan mu disini bukan karena khawatir dengan ibu melainkan hanya ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan." Ujar Laras.


" Jadi kamu mencurigai ku sebagai orang yang menginginkan harta ibumu." Ucap Denis dengan kesal.


" Bukan begitu, Denis."


" Lalu apa? Jika bukan begitu, mengapa kamu tidak membicarakan hal itu kepada ibumu? Untuk apa kamu menikah dengan ku jika kamu menaruh kecurigaan padaku."


" Bukan begitu, Denis. Maksud aku apa yang kamu inginkan dari pasti aku patuhi tetapi tidak juga milik ibuku."


" Tetapi itu akan menjadi milik mu!"


" Tetapi bukan sekarang, Denis. Aku yakin kamu bisa membuat perusahaan mu sendiri tanpa harus bergantung kepada ibu." Kata Laras sambil memegang tangan suaminya.


Namun, Denis menepisnya, " kamu hanya berkata seperti itu. Karena kamu lahir dari sendok emas. Kamu pikir hal itu gampang. Kamu hidup dengan enak dimana ibumu selalu memberikan apa yang kamu inginkan. Kamu tidak tahu prosesnya itu tidaklah gampang. Aku sangat kecewa terhadap kamu. Kamu istriku namun kamu tidak membantuku sama sekali. Malah lebih baik orang yang bukan istriku namun dia selalu membantu ku." Kata Denis.


" Apa maksudmu? Siapa orang yang membantu mu itu?" Tanya Laras.


" Banyak! Tidak perlu aku harus sebut satu persatu." Ucap Denis.


" Jika kamu ingin pulang, pergilah. Aku akan bermalam disini." Ucap Laras yang kesal dengan Denis.


" Baik, aku akan pergi." Lalu mengendarai mobil pergi.


Laras terdiam, dia merasa sakit hati dengan perkataan Denis barusan. Seolah apa yang dia lakukan selama ini tidak dihargai oleh denis. Laras hanya ingin mengeluarkan pendapatnya, namun Denis terus memaksakan kehendaknya. Membuat Laras begitu merasa sakit hati atas perkataan Denis. Ibu keras mendengar hal itu, dia mendekati putrinya. Hingga Laras menangis di perlukan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2