
Setelah percakapan dengan putri selalu ibu Laras, paginya Lidia segera menelepon putranya yang semalam tidak pulang ke rumah. Lidia harus memberitahu tentang putri yang mengidap penyakit jantung koroner, karena itu bisa menjadi kesempatan bagi Denis memperbaiki hubungan pernikahan mereka, dan juga Lidia masih bisa menikmati kekayaan dari Laras sang menantu. Mau bagaimana pun Lidia tidak ingin Denis mengalami krisis karena bercerai dengan Laras. Dan Lidia melakukan itu semua juga demi masa depan putranya. Lidia segera meminta Denis untuk menemui laras sekaligus meminta maaf pada Laras, agar Laras bisa luluh dan memberikan kesempatan kedua untuk Denis.
Setelah mendengar pembicaraan ibunya melalui telepon, segera Denis keluar dari apartemen Naomi dan menuju rumah tempat tinggalnya dengan Laras. Sesampainya disana, dia berpapasan dengan Laras yang kebetulan sedang keluar dari rumah. Dengan cepat Denis keluar dari mobil dan bersimpuh meminta maaf atas kesalahannya.
Rasa sakit hati Laras masih tertanam, pengkhianatan Denis padanya membuatnya tidak bisa mudah untuk luluh lagi kepada Denis. Dia tidak perduli seberapa usaha Denis untuk kembali kepadanya.
" Laras, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku masih mencintaimu." Ucap Denis sambil bersimpuh.
" Aku tidak perduli dengan ucapan mu itu. Lebih baik kamu pergi dari sini!" Laras mengusir Denis dari hadapannya, dia sudah muak bertemu dengan Denis.
" Tidak! Aku tidak akan pergi! Ini juga rumahku, dan aku berhak tinggal disini!" Ucap Denis mengingat jika rumah ini adalah pilihannya. Dan rumah itu merupakan rumah impian. Tidak mungkin bagi Denis pergi dari rumah itu.
" Berhak? Kamu hanya membayar uang mukanya saja, namun semua cicilan aku yang bayar. Masih pantas kamu menyebut itu rumah mu, rumah ini sudah berhak untukku. Akan aku bayar uang mukanya itu." Kata Laras sudah tidak ingin lagi bersama dengan Denis. Dia ingin mengakhiri semuanya.
Denis menjadi bingung harus berbuat apalagi. Laras tidak seperti dulu yang mudah luluh bahkan gampang percaya padanya. Namun kini Laras sepertinya berkata tegas jika dia ingin berpisah. Karena tidak ingin meninggalkan Laras, dia teringat akan perkataan ibunya mengenai ibu Laras yang terkena penyakit jantung koroner, dan Laras pasti tidak mengetahui hal itu. Dengan menjual nama ibunya, Laras pasti bakalan luluh padanya.
" Kamu egois! Asal kamu tahu sekarang ibumu itu sedang sakit, dia mengidap penyakit jantung koroner dan harus segera di operasi. Apa kamu tahu? Kamu pasti tidak tahu, kan? Dan kamu masih mau menambah masalah dan membuat ku kembali jatuh sakit, apa kamu tidak berpikir begitu!"
Laras terdiam sekaligus terkejut akan apa yang dikatakan oleh Denis. Meski Laras baru tahu tentang hal itu, namun itu tidak membuat niat Laras untuk luluh pada Denis. Dia mauk kedalam mobilnya tidak perduli dengan Denis yang terus berteriak padanya.
Denis yang juga hilang akal, berdiri dihadapan mobil Laras dengan berkata, " langkahi dulu mayat ku jika kamu masih niat untuk pergi! Laras, kamu harus berpikir ini juga Denis ibumu!"
__ADS_1
Meski sayang, namun rasa sakit hati sekaligus benci sudah menguasai diri Laras. Dia tidak perduli dengan teriakan Denis dihadapan mobilnya. Dia menekan gas mobilnya, lalu melakukan mobilnya hingga Denis terkejut dan segera menghindar. Laras tersenyum licik, dia yakin jika Denis hanya mengancam namun tidak berani untuk mati.
Di rumah sakit, damar sudah rapi dengan kemeja hitamnya serta celana hitam untuk bertemu dengan Laras. Dia sudah memberitahu suster jika dirinya memilih untuk tidak menginap sehari lagi di rumah sakit. Dia merasa badannya sudah lumayan sehat untuk bertemu dengan Laras. Jika Laras ingin bertemu dengannya pasti sama tahu wanita itu pasti membutuhkan bantuannya. Damar keruangannya untuk mengambil dompet dan ponselnya yang tergeletak dia meja, terlihat Jessica duduk diatas kasur milik damar. Damar tidak perduli dengan keberadaan Jessica didekatnya, dia bahkan tidak menyapa sama sekali kepada Jessica. Namun saat damar hendak pergi, Jessica menahannya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Jessica.
" Itu bukan urusanmu. Bukannya kamu tidak suka jika kita saling ikut campur dalam urusan masing-masing." Ucap damar.
" Kamu masih kurang baik, kata dokter. Istirahatlah sebentar."
" Untuk apa kamu begitu perhatian padaku. Meski kamu melarang aku akan tetap pergi." Ucap damar melepaskan tangan Jessica yang menahannya.
Jessica hanya memandangi kepergian damar dengan tatapan sedih, meski dia membenci suaminya, namun di lubuk hatinya dia tidak ingin kehilangan suaminya. Dia tahu kemana damar akan pergi, karena sebelumnya dia juga mendengar percakapan damar dan Laras melalui telepon. Jessica tidak akan membiarkannya begitu saja, bagaimana pun dia masih sah berstatus istri dari damar. Dia tidak akan merelakan damar jatuh kepelukan Laras.
" Maaf, jika aku agak terlambat." Ucap damar meminta maaf atas keterlambatannya.
" Tidak masalah, aku juga baru saja sampai disini." Ucap Laras.
Laras menjadi tidak enak dengan damar karena dia baru tahu tentang damar yang baru masuk rumah sakit karena dipukuli oleh orang lain. Laras segera meminta maaf karena sudah meminta damar untuk menemui padahal keadaan masih kurang sehat.
" Aku minta maaf sudah memintamu untuk datang kesini. Aku juga memintaaaf karena tidak menjengukmu sebelumnya." Ucap Laras.
__ADS_1
" Tidak masalah. Kamu tidak perlu membicarakan hal itu, seorang katakan tentang masalahmu."
Laras segera memesan makan untuknya dan juga damar. Selagi makan Laras lalu menceritakan tentang masalah yang baru dialami. Tentang pengkhianatan sekaligus penipuan yang selama ini dia terima. Dia sudah memikirkan sebuah keputusan yang akan diambil untuk hubungan pernikahannya dengan Denis.
" Apa kamu yakin dengan keputusan mu itu?" Tanya damar, tidak ingin Laras mengambil sebuah keputusan yang salah.
" Aku yakin, aku sudah memutuskannya. Sekarang aku membutuhkan seorang pengacara." Kata Laras dengan mantap namun tidak bisa menahan kesedihannya.
" Aku sudah menemui semua pengacara bahkan pengacara terbaik pula. Namun aku justru memilih suamimu di karenakan semua pengacara yang aku temui, bisa saja diketahui oleh ayah mertuaku, makanya aku memilih suamimu. Tapi jika kamu membutuhkan bantuan, akan aku Carikan pengacara yang terbaik untukmu." Kata damar.
Tanpa mereka berdua sadari, Jessica juga datang ke restoran itu. Namun dia dikejutkan melihat Laras menyentuh tangan suaminya, bahkan suaminya tanpa ragu memegangi tangan Laras. Hal itu membuat Jessica begitu kesal dengan Laras, dia lalu menghampiri mereka berdua.
" Oh, jadi begini kelakuan mu setelah mengetahui suamimu berselingkuh sekarang giliranmu ingin merebut suami orang." Teriak Jessica menghampiri Laras dan damar.
" Laras! Apa yang kamu katakan? Itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" Bentak damar.
" Emang kenyataannya begitu, kan? Tidak saudaranya, dia pun juga punya kelakuan yang sama. Emang dasar wanita gatal!" Hina Jessica kepada Laras.
Laras mengambil gelas airnya, lalu menyiramnya kepada Jessica. Dia sudah tidak tahan dengan apa yang Jessica katakan padanya.
" Apa yang kamu lakukan!" Bentak Jessica yang sudah basah. Tidak terima Jessica mengambil hiasan kaca di meja itu, hendak ingin memukuli Laras.
__ADS_1
Laras lalu mengancungkan pisau ke arah leher Jessica, " Kamu tidak tahu bagaimana marahnya seorang wanita yang sudah diselingkuhi. Selama ini aku memang diam, namun aku sudah tidak tahan lagi dengan omongan mu itu!"
Jessica begitu ketakutan, Laras terus memajukan pisau itu mendekati leher Jessica hingga leher Jessica tergores sedikit. Laras lalu meletakkan pisau itu di meja. Laras mengambil tasnya, dan berbisik kepada damar jika dia harus pulang. Sedangkan Jessica begitu ketakutan dengan ancaman Laras barusan, diamnya Laras bukan berarti wanita itu lemah.