Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
Bab 57


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, hubungan pernikahan damar dan Jessica bukannya berubah namun tetap seperti biasa. Jessica mulai terang-terangan bermain dengan pria di bar setiap malam. Damar begitu lelah dengan sikap Jessica yang tidak pernah berubah. Hingga saat Jessica tengah asyik berpesta dengan teman-teman prianya, damar datang dan menariknya keluar dari pesta tersebut. Jessica mengamuk, dia tidak mau ikut bersama damar. Namun damar terus memaksa hingga mereka berdua pergi ke sebuah desa yang jauh dari kota.


Jessica begitu ketakutan, namun dia terus memberontak untuk pulang. Tetap saja damar dengan pendiriannya, damar tidak menurunkan Jessica dijalan meski Jessica terus meminta untuk turun. Mereka berdua sampai disebuah rumah, yang dimana rumah tersebut dikelilingi pohon-pohon yang lumayan besar. Di rumah, Jessica mengamuk meminta untuk pulang. Bahkan Jessica memaksa salah satu pengawal yang sudah berada didalam rumah tersebut untuk mengantarkannya. Pengawal itu tidak bergeming, membuat Jessica dan melemparkan barang-barang yang ada di rumah itu ke arah pengawal.


" Aku mau pulang! Berikan kunci mobilnya aku mau pulang!" Teriak Jessica.


" Tidak akan bisa! Aku tidak akan mengizinkanmu pulang! Kamu harus tahu jika pengawal itu adalah utusan ayahmu untuk menjaga kita disini. Jadi, ini adalah ide untuk bisa menghentikan mu." Kata Damar.


" Berikan kunci mobilnya, biarkan aku pulang." Ucap Jessica memaksa damar untuk memberikan kunci mobilnya.


Bukannya memberi, damar justru pergi menyimpannya di sebuah brankas dan menguncinya. Jessica sangat marah, dia ingin pulang. Namun tidak perduli dengan perkataan Jessica. Damar menyimpan kunci brankas itu ke dalam saku celananya.


" Kunci mobilnya ada di brankas, jika kamu bisa membukanya. Maka kamu boleh bisa pulang." Ucap damar.


" Jangan memperlakukan ku seperti ini! Mengapa ponsel ku tidak bisa digunakan? Padahal masih ada sinyal, bahkan aku juga melihat sedang menelepon seseorang tadi pagi." Tanya Jessica.


Perjalanan menuju desa itu lumayan memakan 3 jam, hingga mereka sampai disana di pagi hari. Di saat Jessica dia mencoba menggunakan ponselnya untuk menghubungi seseorang agar bisa membantunya pulang ke kota. Namun, ponsel Jessica tidak bisa digunakan untuk menelpon, padahal sinyal di ponsel lumayan baik dilihatnya. Jessica begitu panik, karena ponselnya tidak bisa digunakan. Berbeda dengan Jessica, damar terlihat santai saja. Bahkan disaat Jessica protes dia tetap santai sambil mengeluarkan bahan makanan yang baru saja dia beli.


" Apa kamu sengaja membuat ponselku tidak bisa berfungsi, hah!" Bentak Jessica yang kesal, karena sedari malam dia meminta pulang namun damar tetap pada pendiriannya.


" Aku tidak tahu." Jawab Damar tidak perduli, masih sibuk mengeluarkan bahan makanan untuk sarapan mereka nanti.

__ADS_1


" Jangan tanyakan padaku, tanyakan saja pada ayahmu." Ucap damar.


Jessica merasa kesal dengan jawaban damar, baginya jawaban itu tidaklah memuaskan hatinya. Jessica ingin pulang ke kota. Dengan amukan, dia membuang semua bahan makanan yang sudah damar keluarkan dari kantong plastik.


" Jangan gunakan ayahku sebagai alasan! Hubungi ayahku sekarang jika kamu berani! Biar aku tahu siapa yang membuat ide seperti ini!" Bentak Jessica. Dia tahu jika ide ini bukanlah ide dari ayahnya, melainkan dari damar sendiri. Bagi Jessica, damar sengaja mengajaknya ke desa terpencil.


Sebagai manusia kesabaran juga ada batasnya, damar mencoba tidak perduli. Namun, amukan Jessica membuatnya emosinya tidak bisa lagi untuk di tahan. Damar mengambil pisau yang masih terbungkus kertas yang ada dalam kantong, pisau yang baru dia beli di pasar untuk membantu memotong sayur. Damar memegang pisau itu, lalu mengarahkan kepada Jessica. Membuat Jessica berjalan mundur, karena ketakutan.


" Apa kamu yakin kamu menggunakan ponsel mu itu untuk menghubungi ayahmu, bukan pacarmu!" Benark damar yang kesal kepada Jessica yang dari tadi mengamuk.


" Damar." Ucap Jessica memohon dengan raut wajah ketakutan.


" Apa kamu sudah tidak waras, hah!" Bentak Jessica yang merasa jika ide ini merupakan ide gila dari damar untuknya.


" Dan siapa yang salah?" Tanya damar.


Jessica merasa kesal dan mendorong damar, lalu pergi menaiki tangga. Damar hanya bisa terdiam, menenangkan dirinya. Dia melihat ponselnya, terdapat banyak notifikasi pesan dan juga panggilan terjawab baik dari Maharani maupun Denis. Damar lalu pergi menenangkan diri disebuah rawa yang tidak jauh dari rumah, dia melihat cincin pernikahan, seolah cincin yang dipakainya hanya sebuah simbol namun arti pernikahan itu sendiri sudah tidak ada.


Damar melihat ponselnya, panggilan terjawab dari Denis membuatnya ingin menelepon pengacara tersebut. Hubungan mereka berdua hanya sebatas klien dan pengacara namun melihat Denis meneleponnya membuat damar ingin menghubungi balik. Namun, ponselnya berdering, Denis menghubunginya duluan. Didalam komunikasi mereka, damar mulai bercerita jika dirinya mengajak Jessica untuk ikut dengannya ke desa, kampung halamannya.


" Aku berniat hanya aku saja yang pulang, namun ayah mertua ku meminta untuk mengajak Jessica juga. Agar Jessica tidak bisa lagi menghubungi pacarnya itu." Kata Damar dalam sambungan teleponnya dengan Denis.

__ADS_1


" Apa yang kamu lakukan sekarang? Berapa lama kamu akan menghukum istrimu?" Tanya Denis.


" Aku tidak yakin, aku hanya ingin mengambil langkah ini, untuk urusan yang lain akan aku uruskan nanti. Jadi, kenapa kamu menghubungi ku?" Tanya Damar, melihat Denis yang duluan menghubunginya.


" Tidak apa-apa. Kamu tiba-tiba menghilang. Jadi aku ingin tahu bagaimana kabarmu? Jika kamu membutuhkan bantuan ku, aku akan siap membantu." Kata Denis, masih berharap jika damar pasti akan membutuhkan bantuannya.


" Terima kasih atas perhatiannya, pak Denis. Tetapi aku merasa jika aku tidak membutuhkan bantuan lagi." Ucap damar.


" Bahkan untuk mencari Vernon?" Tanya Denis.


" Meskipun dia menghilang, aku akan mencari dan menemukan lalu membawanya kepadamu jika kamu mau. Itu tidak diluar kemampuan ku." Kata Denis lagi, mencoba menarik perhatian damar untuk meminta bantuannya lagi.


" Jika aku bertemu dengannya, aku akan menendangnya sampai mati. Ayah mertua ku sudah berusaha agar aku tidak di penjara. Tolong jangan buat ku dalam masalah dulu." Ucap damar yang tidak ingin mendapatkan masalah dalam hal seperti ini.


Denis merasa sedikit kecewa, namun mau bagaimana lagi, damar sepertinya tidak ingin terlibat dalam masalah. " Jadi, kalau boleh tahu, bisakah kamu memberitahu dimana tempat kamu tinggal sekarang? Aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun." Ucap Denis.


" Akan lebih baik jika kamu tidak mengetahuinya. Jadi kamu tidak perlu berbohong jika ada yang bertanya kepadamu. Tolong jangan menghubungi ku untuk sementara waktu. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon tolong sampaikan permintaan maafku kepada Rani, aku tidak bisa membalas pesannya. Untuk saat ini aku tidak ingin menghubungi siapapun." Kata damar.


Perkataan itu membuat Denis merasa kesal, padahal dia ingin mencari kesempatan untuk bisa bekerja sama lagi dengan damar. Namun, damar seolah menutupi diri, dan tidak memberitahu keberadaannya. " Baiklah, aku mengerti. Tapi kamu harus tahu, jika kamu akan tetap menjadi temanku." Ucap Denis seolah dengan kata teman hubungan mereka tidak akan berpisah. Sengaja mengatakan itu agar damar seketika butuh bantuan akan mencarinya. Denis melakukan itu agar damar terus percaya padanya. Namun, damar tidak menjawab malah justru mematikan ponselnya secara sepihak.


" Brengsek!" Teriak Denis kesal.

__ADS_1


__ADS_2