Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
Bab 75


__ADS_3

Damar sudah sadar, ketika seorang dokter datang memeriksa keadaannya. Dokter itu mengatakan jika keadaan damar baik-baik hanya terdapat pula bagian luar dan tidak terdapat luka di bagian dalam. Damar lalu meminta untuk segera pulang, namun dokter memberi pengertian untuk menetap semalam lagi agar bisa memastikan keadaan damar lebih baik, namun dokter itu tidak memaksa damar, dia meminta damar untuk memberikan keputusan itu melalui perawat rumah sakit. Selama berbincang dengan dokter ponsel damar terus berdering, hingga dia segera bangun dan mengangkat telepon itu melihat nama kontak yang menghubunginya.


" Halo Laras, " sapa damar setelah mengangkat telepon tersebut.


" Damar, apa kamu ada waktu? Aku ingin berkonsultasi denganmu, bisakah kita bertemu."


" Tentu, tentu saja. Aku ada waktu luang hari ini, tapi sepertinya aku datang agak telat sama seperti kemarin." Ucap damar.


Saat tengah berbincang di telepon damar tidak menyadari jika Jessica datang dan ingin menjenguknya, namun Jessica tidak masuk keruangan melihat damar yang duduk diatas kasur sambil berbincang dengan teleponnya. Dari raut wajah damar, Jessica menebak jika damar tengah menelepon dengan Laras.


Setelah selesai menelepon damar, Laras keluar kamarnya menuju dapur. Meja makan sudah terlihat bersih dan rapi bahkan keadaan rumah sudah mulai bersih. Ibunya meminta Laras untuk sarapan melihat anaknya yang semalam tidak sempat untuk makan. Laras nampaknya masih kesal dengan ibunya, bagaimana tidak dia kecewa karena keputusan ibunya untuk dirinya segera menikah dengan Denis terlalu cepat, hingga akhirnya sekarang dirinya bahkan ibunya tahu jika Denis dan keluarganya ternyata sudah menipu mereka.


Putri yang menyadari kesalahannya, membersihkan rumah yang berantakan serta memasak bubur untuk anaknya. Namun Laras juga justru masih kesal dengannya. Putri menawarkan bubu yang dia buat untuk sarapan, namun Laras tidak suka dan menganggap jika ibunya itu terlalu manja dan membuatnya layak seperti anak kecil.


" Dimana Maharani?" Tanya Laras karena sedari tadi dia tidak melihat sosok Maharani.


" Sudah ibu usir tadi pagi, ibu takut jika kamu masih terbayang akan masalah semalam. Itu juga kesalahan dari Maharani juga, kan." Jawab putri.


" Ibu, berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku bisa menghadapinya sendiri. Aku akan menelepon Maharani untuk mengantarkan ibu pulang."

__ADS_1


" Lalu bagaimana dengan kamu, nak? Apa sebaiknya kamu ikut bersama ibu, setidaknya untuk sementara itu bisa membuat mu tenang."


" Hanya ibu saja yang pulang. Aku akan tetap disini. Meski begitu ini masalahku, ini adalah kehidupan pernikahan ku yang di tipu oleh suami sekaligus keluarga. Aku akan menghadapinya sendiri, Bu." Ucap Laras yang tidak suka jika ibunya masih saja mengkhawatirkan dirinya seolah dirinya masih terlihat seperti anak kecil. Bagaimana pun Laras merasa jika dia sudah dewasa dan sekarang sudah menikah. Jadi dia bisa menghadapi ini semuanya sendiri. Entah bagaimana keputusannya biarkan Laras yang memutuskan semuanya.


Maharani memberhentikan mobilnya didepan pagar rumah, dia melihat pagar rumah itu yang masih tertutup. Mengambil ponselnya dan mencoba mengirimkan pesan kepada damar. Semenjak kejadian di hotel itu, damar seperti menghindar darinya. Semua pesan dan telepon dari Maharani tidak pernah diangkat sama sekali. Membuat Maharani semakin khawatir dengan keadaan damar hingga dia memutuskan untuk pergi ke rumah damar dan Jessica. Tidak disangka sebuah motor datang melaju dan memarkir didepan pintu gerbang tersebut.


Seorang pengendara itu turun dari motornya dan membuka helmnya. Tidak disangka dia adalah Vernon. Vernon datang untuk meminta maaf kepada Jessica dan meminta Jessica untuk tidak menuntutnya. Vernon mengambil ponselnya dan menelepon Jessica.


Maharani yang melihat Vernon menghampirinya, " Apa kamu datang kesini untuk memberikan pelayanan kepada Jessica? Cih! Pagi-pagi begini kamu sudah tidak tahan ya." Ucap Maharani kepada Vernon.


" Sebelum berkata begitu, kamu sendiri kenapa kesini? Kamu juga tidak tahan dengan gatal mu?"


" Apa kamu bilang! Tapi setidaknya aku tidak bekerja seperti mu."


Telepon Vernon tersambung ke Jessica, segera Vernon meminta maaf dan sekaligus memohon agar Jessica tuntutan atas dirinya. Jessica justru tidak mau melakukannya, dia bahkan memarahi Vernon karena sudah membuat suaminya masuk ke rumah sakit. Vernon kalau menjelaskan jika dirinya sejak awal tidak berniat untuk memukul damar, namun karena damar memukulnya duluan, Vernon tidak terima dan membalasnya. Vernon merasa jika apa yang dia lakukan sudah adil karena damar duluan yang memukulinya.


Maharani yang berada disitu terkejut dan terus menanyakan keadaan damar. Maharani memarahi Vernon dan memukulnya karena Vernon sudah membuat pria yang dicintai masuk rumah sakit. Kebetulan ponsel masih tersambung dengan Jessica yang mendengar suara Maharani. Jessica meminta Vernon untuk memberikan ponsel Vernon kepada Maharani.


" Heh! Maharani. Kegatalan mu itu tidak bisa disembuhkan ya? Bukannya sudah aku bilang jika sekarang tidak memiliki perasaan apapun padamu. Jika kamu masih tetap gatal, kamu lebih baik garuk di trotoar jalan sana! Jangan didepan garuk didepan pagar ku ya." Kata Jessica menghina Maharani yang masih tidak tahu diri untuk terus menempel kepada suaminya.

__ADS_1


" Perceraian!" Ucap Lidia terkejut mendengar kata yang dilontarkan oleh sahabatnya.


Putri tidak pulang ke rumah, melainkan bertemu dengan sahabatnya sekaligus mertua dari anaknya. Meski semua kebohongan terbongkar, putri kembali menemui sahabat itu namun kedatanganya hanya ingin membicarakan kelanjutan hubungan anak mereka.


" Kamu tidak bisa memberikan keputusan semacam itu, putri. Pikirkan dulu, dengan apa yang telah kita lalui selama ini." Ucap Lidia tidak ingin anaknya untuk bercerai dengan Laras.


" Bagiku Laras masih muda, jadi tidak masalah baginya untuk bercerai dengan Denis."


" Tapi apakah kamu tidak memikirkan anakku? Denis sangat mencintai Laras. Apa yang dikatakan Naomi semalam itu tidaklah benar. Denis semalam mabuk karena dia telah merasa kehilangan Laras, bahkan sekarang aku tidak tahu dia kemana."


" Tapi aku juga memikirkan nasib Laras. Hidupku ini sudah tidak akan lama lagi, Lidia." Ucap Putri.


" Apa maksudmu, putri? Kenapa kamu berkata seperti itu?"


" Baiklah, akan aku jelaskan. Aku memiliki penyakit jantung koroner. Dokter menyarankan operasi tetapi tidak menutup kemungkinan operasi itu bisa gagal dan menyebabkan aku meninggal. Aku tidak ingin Laras sedih. Apalagi aku tidak bisa melindunginya. Karena jika bukan aku siapa lagi yang akan bersama dengan dia. Jikapun Denis, tapi Denis malah mengkhianatinya seperti. Bagi seorang ibu, aku tidak melihat anakku menangis seperti semalam dan terlarut dalam kesedihannya." Kata putri kepada Lidia, dia ingin Lidia memahami maksudnya, bagaimanapun mereka berdua sama-sama seorang ibu.


" Putri, tidak boleh berkata seperti itu. Aku yakin dokter pasti akan menyelamatkan mu melalui operasi itu." Ucap Lidia menyentuh tangan putri meyakinkan sahabatnya jika apa yang dipikirkan sahabatnya itu akan baik-baik, itu juga menjadi salah satu cara agar putri kembali luluh dan mau menyatukan kembali kedua anak mereka.


" Aku tidak bisa memperkirakan itu dan kita tidak bisa membaca masa depan. Hanya saja aku tidak ingin anakku terlarut dalam kesedihannya. Meskipun operasi nanti tidak berjalan lancar, setidaknya sebelum aku mati aku bisa melihat anakku bahagia dan itu sudah membuatku mati dengan nyaman." Kata putri sambil menangis.

__ADS_1


Putri melepaskan tangannya saat Lidia menyentuh tangannya untuk menenangkan dirinya. Meski sudah memaafkan namun kepercayaan sudah tidak ada lagi di hati putri. Putri tidak mempercayai sahabatnya itu, karena permasalahan tersebut.


" Jika yang kamu inginkan adalah uang, aku akan berikan berapapun yang kamu mau asalkan kamu bisa membuat putramu untuk tidak menemui putriku lagi!" Ucap Putri dengan tegas. Dia sudah tidak ingin anaknya memiliki hubungan dengan Denis yang sudah membohongi mereka berdua.


__ADS_2