
Sepasang mata itu menatap ibu dengan sorot mata yang tajam seperti belati yang siap untuk di tusukan dan siapa saja yang tertusuk akan langsung meninggalkan dunia yang fana ini. Sekelebatan muncul kata-kata itu di pikiran ibu, ya seharusnya ibulah yang marah, kesal bahkan kecewa karena dia lah yang terluka, dialah yang teraniaya tapi ini malah sang penjahat yang malah tampak menahan amarahnya ketika melihat ibu.
Merasakan itu semua ibu hanya bisa diam dan menahan semua emosinya yang tentu saja bisa meledak sewaktu-waktu saat ini juga, ibu berusaha tuk meredam emosi nya karena saat ini dia masih di lingkungan kantor polisi dan dia tidak mau semua yang Tante letha dan om Adit lakukan bakal siasia begitu saja.
Om Adit merasakan aura yang tidak bersahabat diantara ibu dan adiknya itu dan dengan cepat om Adit berusaha tuk meredamkan nya "Tio,kamu pulang bareng aku dan Mbak Mirna gak?" tanya om Adit yang sebenarnya tidak mengharapkan jawaban iya dari adiknya itu karena om Adit tau ketakutan ibu, ya hanya sekedar basa-basi saja.
"Males gue pulang bareng Lo, gue pulang naik taksi aja. Gue minta duit buat ongkos donk masa gue jalan kaki" jawab Satrio.
__ADS_1
Mendengar jawaban Satrio membuat ibu bernafas lega pasalnya jika Satrio mengiyakan perkataan om Adit tadi ibu akan memilih pulang sendiri naik angkutan umum atau taksi. Om Adit pun mengeluarkan uang kertas berwarna merah itu beberapa lembar dan memberikan kepada adiknya itu di iringi dengan ucapnya " langsung pulang kamu sudah di tunggu ayah di rumah" lalu menutup dompet nya lagi dan memasukan nya ke dalam saku celananya itu.
"Gue bukan anak kecil lagi yang langsung pulang ke rumah, gue mau ketemu teman-teman gue dulu soalnya dah lama banget gue gak nongkrong bareng mereka" ucap Satrio sambil memasukan uang nya itu ke saku celananya.
"Urus urusan kamu dulu sama ayah baru setelah itu kamu bisa nongkrong sama teman-teman mu" ucap om Adit.
Tampak raut kesal yang sangat terlihat pada wajah Satrio, ya dia memang tidak bisa tuk di nasehati selalu semaunya sendiri.
__ADS_1
"Kapan Tio jera mbak" ucap om Adit yang membuat ibu terbengun dari lamunan nya.
"Mbak juga gak tau dit, yang selama ini mbak kenal dan tau sikap nya itu dari dulu ya sudah seperti itu tapi yang sekarang seperti nya lebih parah." jawab ibu.
"Makanya mbak pusing saya di buatnya apalagi sekarang ayah sudah sakit-sakitan" kata om Adit yang masih melihat kepergian adiknya itu dari kantor polisi.
"Ya mbak hanya bisa berdoa semoga Satrio bisa cepat berubah" kata ibu berusaha menyakinkan om Adit.
__ADS_1
"Terimakasih mbak doanya ya saya harap begitu, mari mbak kita pulang takut Bagas sudah pulang sekolah"kata om Adit sambil berjalan ke tempat parkir.
Ooh iya ibu baru ingat karena ini sudah menjelang siang dan ibu tidak mau kalau bagas anaknya itu kesepian di rumah, dia pun mengikuti langkah om Adit ketempat di mana mobil om Adit terparkir.