Pengkhianat Cinta

Pengkhianat Cinta
Bab 61


__ADS_3

Jessica akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beruntung luka Jessica tidak terlalu dalam jadi tidak terlalu parah dan kondisi baik-baik saja. Namun dokter mengatakan jika kondisi mental Jessica cukup buruk. Dan meminta damar untuk lebih memberikan pengertian kepada istrinya. Damar terdiam memandang Jessica yang terbaring, ingin dia menyentuh tangan istrinya. Namun, dia mengurungkan niatnya. Jessica mengalami sakit mental, tetapi yang sebenarnya bukan hanya dia yang sakit. Tetapi Jessica juga sudah menyakiti damar.


Keesokan paginya, Jessica duduk dan menatap luka tangannya yang sudah diperban. Damar datang menemuinya tanpa senyuman. Dokter mengatakan jika Jessica sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun, Jessica tidak ingin pulang. Karena damar pasti akan mengajaknya ke rumah itu lagi. Jessica meminta jika dia ingin tetap berada di dalam rumah sakit ini. Jikalau damar memaksanya pulang maka Jessica akan melakukan hal yang sama dengan melukai dirinya sendiri. Namun, damar ingin Jessica tertawa bersama dengannya, mau bagaimana pun Jessica adalah istrinya. Dimana damar berada Jessica juga akan ada bersama dengannya. Tetap saja Jessica menolak, dengan mengancam jika damar masih mengajaknya maka pilihan damar ada dua membawa Jessica hidup ke kota atau membawa Jessica dalam keadaan mati ke kota.


Damar terdiam, dia tidak ingin mulai perdebatan lagi diantara mereka. " Aku sudah berbicara dengan ayahmu. Kamu akan pulang, seseorang akan menjemput mu. Hanya kamu akan pulang, sedangkan aku akan berada disini." Ujar damar memberikan ponsel milik Jessica.


Di sisi lain Laras membuka album foto-foto pernikahannya. Dia menangis melihat semua foto itu. Rasanya begitu menyakitkan bagi Laras, pernikahan seolah dirinya saja yang menjalani. Sedangkan Denis hanya sibuk dengan dunianya. Tiba sebuah notifikasi masuk, damar meminta permintaan pertemanan di akun media sosial milik Laras. Laras yang melihat notifikasi itu langsung mengkonfirmasinya.


Tidak hanya Laras yang meratapi kesedihan pernikahannya, damar juga merasakan yang sama. Dia sudah meratapi nasib pernikahan itu sejak lama, bahkan sekarang dia masih memikirkan masa depan pernikahan yang sudah hancur. Dia tidak mengerti kenapa Jessica memiliki sakit mental, padahal justru dirinya yang seharusnya merasakan hal itu. Karena selama mereka menjalani pernikahan dia yang selalu merasa tersakiti akibat Jessica yang ternyata diam-diam berselingkuh darinya. Tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi, Jiak Laras sudah mengkonfirmasi pertemanan dengan damar melalui media sosial. Damar tersenyum melihat notifikasi itu, segera dia mengirim pesan kepada Laras.


Mengingat Laras, membuat damar teringat akan momen dimana dia menyadari jika Denis merupakan pria yang beruntung memiliki istri seperti Laras. Damar teringat dimana damar pernah mengantarkan Denis karena Denis mengalami mabuk berat. Laras mesin menunggu Denis di rumah, bahkan saat Denis tiba dia membantu melepaskan sepatu serta dasi yang Denis kenakan. Perlakukan Laras seperti itu membuat damar tanpa sadar mengatakan jika Denis merupakan suami yang beruntung memiliki istri seperti Laras. Takut jika Laras tersinggung, damar segera meminta maaf.


" Maaf, sebaiknya aku pulang. Aku merasa jika aku sudah sedikit mabuk." Ucap damar ingin pamit pulang ke rumahnya.


" Tapi tunggu dulu. Apa kamu mau memakan bubur dulu? Aku tadi sempat memasak bubur untuk Denis, aku tahu jika dia akan pulang dalam keadaan mabuk. Tapi kayaknya dia tidur, daripada bubur itu dibuang apa kamu mau mencobanya?" Kata Laras menawarkan bubur buatannya.


" Boleh." Ucap damar.


Damar menikmati bubur buatan Laras, dan Laras menemaninya makan. Laras memandang pria didepannya itu dengan rasa kasihan. Dia teringat akan kejadian di hotel itu. Pasti damar merasa sangat sakit melihat istrinya berselingkuh.


" Apa kamu baik-baik saja akan masalah di hotel itu?" Tanya Laras kepada damar, begitu dia mengkhawatirkan damar.

__ADS_1


" Aku baik-baik saja. Kamu juga tahu masalah itu?"


" Iya, aku tidak sengaja mendengarnya dari Denis. Maaf, jika pertanyaan ku kurang sopan." Ucap Laras.


" Tidak apa-apa. Menurut mu pasti aku orang yang berbahaya, tapi jangan takut. Aku sebenarnya tidak seperti hanya karena aku benar-benar merasa lebih buruk saja dari biasanya." Ujar damar agar Laras tidak merasa takut padanya.


" Bagiku, kamu bukan orang yang seperti itu. Hanya saja kamu terlalu dikuasai oleh emosimu sendiri."


Damar terdiam sejenak, lalu berkata, " Jika kamu menjadi aku, bagaiman perasaan mu ketika orang kamu cintai dan sangat kamu percaya, diam-diam mengkhianati mu. Apakah kamu tidak akan marah?" Tanya damar, mengingat kejadian yang memilukan hatinya. Membuatnya tanpa sadar meneteskan airmata. Merasakan pilunya hari akibat pengkhianatan.


" Aku mungkin merasa demikian. Pastinya aku merasa akan lebih sedih dari mu. Selama ini, pasti kamu harimu diselimuti kesedihan. Tubuh dan mentalmu merasa sedih dan hal itu membuat mu semakin buruk."


Perkataan Laras membuat damar tersadar dan menangis, " Aku merasa sangat sedih dan itu membuatku semakin lemah."


Kalimat itu selalu diingat oleh damar hingga sekarang, bahkan mengingatnya membuatnya tersenyum. Pertemuan terakhir dengan Laras, memberikan kesan yang sangat mendalam bagi damar. Dia tidak begitu menyangka, jika wanita seperti Laras memiliki sikap yang hangat. Sikap hangat Laras membuat damar sangat ingin dekat dengan wanita itu. Damar melihat pesan yang dikirim kepada Laras, pesan itu sudah dibaca namun Laras belum membalasnya. Karena tidak sabar, damar mencoba untuk menelepon.


Laras menerima telepon dari damar, namun dia mencoba untuk tenang. Agar saat mengangkat telepon dari damar, damar tidak mendengar suara seraknya karena menangis.


" Hallo, pak damar. Baru saja aku ingin membalas pesan darimu." Ucap Laras.


" Terima kasih sudah menerima permintaan pertemanan ku tadi."

__ADS_1


" Tentu, jadi bagaimana kabar pak damar?"


" Kabarku jauh lebih baik dari pertemuan kita yang terakhir."


" Aku lega mendengarnya."


" Aku masih memikirkan kata-kata mu yang terakhir. Awalnya aku tidak memahami apa yang katakan, tetapi sekarang aku sudah mengerti. Terima kasih, setidak kalimat itu membuat sadar dan membuat hidup lebih baik."


" Aku senang mendengarnya, kita harus harus mengubah hidup kita menjadi lebih baik."


" Iya, jadi kamu bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?"


" Eum, baik-baik saja." Ucap Laras menahan tangisnya.


" Sepertinya kamu sedang sakit?"


" Tidak, aku ada masalah. Tapi masalahku tidak sebesar masalahmu."


" Kamu boleh bercerita, aku siap untuk mendengarkan. Setidaknya aku bisa membantu karena kamu sudah membantuku. Maka giliran ku mungkin bisa membantumu." Ujar damar.


" Tidak apa-apa. Cuma masalah sepele. Kamu tidak usah memikirkan untuk membalas bantuanku. Bukankah sebagai manusia wajar untuk saling membantu."

__ADS_1


" Tentu, jika ada masalah kamu bisa menghubungi ku, aku akan siap mendengarkan."


Sambungan percakapan telepon itu berakhir, damar tersenyum setelah mendengar suara dari Laras. Laras memang wanita yang baik di mata damar. Lagi-lagi damar memuji Denis yang beruntung karena memiliki istri seperti Laras. Wanita itu begitu pengertian, karenanya damar berpikir dan memilih jalan hidupnya meski dia harus tetap mempertahankan pernikahan yang sudah hancur demi ayah mertuanya. Namun, damar semakin merasa tenang ketika dirinya tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya. Tidak dirasakan lagi hiruk-pikuk orang yang terkadang ikut campur dalam kehidupan. Damar bisa tersenyum dengan tenang.


__ADS_2