
Damar menghubungi Laras, jika dirinya sudah menemukan pengacara terbaik untuk mengatasi masalah Laras. Segera mereka berdua bertemu untuk pergi menemui pengacara tersebut. Di temani damar, mereka masuk ke tempat pengacara yang sudah dipilih oleh damar untuk membantu Laras.
Di depan pengacara Laras, menceritakan tentang masalah rumah tangganya, dia ingin bercerai dengan suami namun dia juga menginginkan semua hartanya di kembalikan. Namun pengacara itu mengatakan akan susah untuk mengembalikan semua harta milik Laras, dikarenakan jika sudah menikah baik rumah atau harta yang lain maka sebagiannya akan menjadi milik Denis. Jika Laras ingin harta kembali, maka Laras harus membayar Denis seratus juta karena harta yang dibagikan untuk Denis senilai dengan itu. Mendengar hal itu Laras hanya terdiam, ternyata untuk menceraikan Denis tidak semudah yang dia kira.
Laras duduk di tepi sungai, dimana tempat itu sudah menjadi tempat favoritnya ketika sedang bersedih. Damar datang memberikan minuman setidak hisa melegakan perasaan Laras.
" Kamu tidak perlu berpikir, aku yakin pengacara itu merupakan pengacara itu merupakan pengacara terbaik. Aku yakin dia pasti akan membantumu." Ujar damar menenangkan Laras. Dia tahu wanita itu sedang berpikir tentang masalahnya.
" Aku tahu, tapi masalah harta ku harus dibagi untuk Denis. Jujur, aku tidak menerima hal itu. Bagaimana pun baik rumah ataupun tanah, semuanya aku yang bayar dan itu juga harta atas namaku. Bagaimana bisa harus dibagikan kepada Denis." Ujar Laras tidak habis pikir, dengan semudah itu dia percaya dengan Denis sampai-sampai mau bercerai dia harus merelakan sebagian hartanya kepada Denis.
" Untuk saat ini, kamu harus berpikir bagaimana caranya agar Denis mengembalikan sebagian harta milikmu. Setelah itu kamu bisa mengurus perceraian kalian." Ucap damar.
" Aku sudah tahan dengan hadirnya Denis di hidupku. Aku ingin mengakhirinya, melihat Denis membuat hati sakit. Namun, aku juga tidak ingin hidup jatuh miskin karena sebagian hartaku harus menjadi miliknya. Aku menyesal kenapa aku begitu percaya padanya." Ujar Laras sambil menangis.
Damar menatap Laras, tidak tega melihat airmatanya jatuh. Dia juga tidak menyangka jika Denis memiliki sifat yang sejahat itu. Damar meraih tangan Laras, menatap sendu berharap wanita itu bisa tenang.
Laras pulang ke rumah, melihat Denis berada di rumah dengan keadaan yang sama. Semenjak masalah muncul Denis terus berada di rumah, dan sering minum alkohol.
" Sampai kapan kamu terus begini, Denis?" Tanya Laras melihat Denis yang terus saja seperti itu seolah hidupnya begitu suram.
" Laras, aku hanya ingin meminta maaf. Aku tidak ingin kamu menceraikan ku."
" Jika aku ingin bercerai, kenapa?"
" Laras, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah."
" Jika kamu tidak ingin berpisah, apa kamu bisa berjanji padaku untuk tidak menemui Naomi lagi?"
__ADS_1
" Aku janji. Aku tidak akan menemui Naomi, selamanya aku tidak akan menemuinya.
" Kamu yakin dengan janji mu itu?"
" Aku janji, Laras. Aku tidak akan pernah menemui Naomi." Ucap Denis memegangi kedua tangan Laras.
Laras terdiam memandangi Denis, sengaja dia berdamai agar hartanya kembali ke tangannya. Dengan begitu dia bisa menceraikan Denis secepatnya. Tetapi Laras tidak tahu jika Denis tidak ingin bercerai karena dia masih ingin menikmati harta Laras yang lebih banyak. Karena Denis tahu jika ibu Laras memiliki tanah yang luas bernilai jutaan rupiah. Jika ibu Laras meninggal maka semua harta akan menjadi milik Laras, hal itu bisa membuat Denis untuk bisa memanfaatkan Laras.
" Baiklah. Jika kamu berjanji begitu, baru aku percaya." Ucap Laras.
Denis tersenyum dan langsung memeluk Laras. Dia bahagia jika Laras mengizinkan dirinya untuk kembali hidup bersama. Padahal ada niat yang sudah Denis rencanakan.
" Besok kita menemui ibu, untuk membicarakan hubungan kita." Ucap Laras kepada Denis.
Besoknya Laras dan Denis menemui Putri. Tidak lupa Denis mengajak ibunya untuk ikut berkumpul. Mereka akan membicarakan tentang hubungan pernikahan mereka kepada kedua orang tua mereka.
" Putri! Kenapa kamu marah pada anakku? Mereka kesini untuk berbicara baik-baik denganmu."
" Sayang, jangan bilang kalian akan berdamai. Ibu tidak setuju. Lebih baik kalian bercerai. Kamu tidak ingat apa dikatakan gadis itu tentang mereka."
" Putri! Kamu percaya dengan omongannya si Naomi, hah! Sudah ku bilang anakku menikah dengan Laras karena dia mencintai Laras. Masih tidak percaya?" Ucap Lidia yang kesal melihat putri yang terus menyalahkan putranya. Lidia sudah mengetahui jika Denis dan Laras bercerai maka sebagian harta milik Laras akan menjadi milik Denis. Semua itu dia tahu karena Denis juga pengacara yang juga tahu jika tidak gampang bagi Laras untuk menyatakan cerai dari Denis.
" Aku tidak percaya!" Ucap Putri.
" Ya sudah, Denis lebih baik kamu ceraikan saja Laras." Ucap Lidia pada anaknya.
" Ibu, aku mohon tenang dulu." Ucap Laras ingin menenangkan suasana.
__ADS_1
" Aku tidak akan menceraikan Laras." Ucap Denis dengan tegas.
" Apa kamu bilang? Kamu gila! Sudah jelas ibunya menghina kita seperti itu. Dan kamu mau terus bersama dengan Laras. Ingat kamu tidak miskin meski bercerai dengannya." Ujar Lidia tidak terima.
" Jadi benar apa yang dikatakan wanita itu, kamu dan ibu hanya menginginkan harta kami saja." Ucap Putri tidak terima dengan perkataan Lidia.
" Heh! Apa kamu bilang!" Bentak Lidia juga tidak terima.
" Sudah! Cukup! Aku dan Laras sudah bicara dan aku tidak akan menceraikan Laras!" Bentak Denis untuk menghentikan pertengkaran antara ibunya dan juga ibu mertuanya.
" Tapi aku punya persyaratan. Jika kamu tidak ingin aku menceraikan mu." Ucap Laras.
" Apa? Apa persyaratannya?" Tanya Denis.
" Jika kamu tidak ingin bercerai dan ingin membuktikan kepada ibuku, kalau kamu mencintaiku. Maka kamu harus mengembalikan sebagian harta ku kepada ibuku." Ujar Laras.
Lidia terkejut, dia tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Laras. " Apa maksudmu! Tidak, lebih baik kalian tetap bercerai!"
Denis hanya diam. Masih memikirkan keputusan apa yang dia ambil.
Setelah berbicara, Denis mengantar ibunya pulang. Lidia tidak terima dengan keputusan Denis, dia langsung memukul anaknya itu. " Kamu gila, hah! Maksudmu apa menyetujui persyaratan itu. Kamu mau kita jatuh miskin, hah!"
" Ibu! Bukankah ibu juga menginginkan aku untuk bersama dengan Laras? Kenapa ibu sekarang jadi berubah pikiran?"
" Aku berubah pikiran itu karena kamu kasih tahu aku jika kamu bercerai dengannya maka sebagian hartanya jadi milik kita. Kenapa kamu tidak langsung menceraikannya saja?"
" Ibu, dengarkan aku dulu. Biarkan aku memberikan setengah hartanya itu, akan ada keuntungan lebih besar bahkan hartanya itu tidak bernilai apa-apa. Ibunya asih memiliki sebidang tanah yang luas dengan nilai ratusan juta. Jika ibu ingin kaya, ibu ikuti saja rencana ku."
__ADS_1
Denis berpura-pura stres didepan Laras agar Laras bisa memaafkannya dan mengira jika Denis hanya mencintainya, namun ternyata salah. Denis sudah merencanakan sesuatu untuk mengambil harta milik ibunya yang bernilai ratusan juga.