
Setelah siang hari yang menghebohkan itu terjadi dan terus berlanjut malam harinya hingga membuat ibu dan Abah pusing liat kelakuan putra putrinya itu dan tanpa ibu sadari,dia berucap kepada sang suami "perasaan aku kecil gak seperti mereka jangan-jangan nurunin kelakuan Abah kali ya??" dan sang suami pun menjawab " Abah waktu kecil juga gak begitu-begitu banget Bu, ya walau gimanapun mereka anak-anak kita yang lahir dari rahim ibu sendiri".
"Apa mereka tertukar di rumah sakit ya bah, kelakuan dan tingkah mereka tidak seperti kita kecil dulu" ucap ibu sedikit curiga.
"Huuussh,,kamu gak boleh ngomong seperti itu aahhh kalau gak ada mereka kita pasti kesepian" jawab sang suami tanpa lepas melihat pola tingkah anak-anaknya yang tiada hentinya saling mengejek dan bercanda..
Dan setelah beberapa hari semenjak kejadian itu, tibalah di saat mas yudhi harus ke sekolah nya untuk mengurus beberapa berkas yang menuntut seluruh siswa harus hadir ke sekolah. Eva dan Bagas seperti biasa harus ke sekolah kali ini Eva dan Bagas sedang ujian untuk kenaikan kelas. Eva dan Bagas pulang lebih awal dari jam sekolah biasanya di karenakan ada ujian, mereka berdua sedang menunggu ibu menata masakan ibu di meja makan.
"Bu, mas Yudhi belum pulang juga ya?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Iya, padahal cuma tanda tangan dan cap tiga jari aja kenapa bisa lama ya?" ucap Eva.
"Mungkin ngantri kali va kan siswanya bukan mas mu aja" jawab ibu yang telah selesai menata lauk pauk di meja.
"Ya sudah lebih baik kita makan dulu kalian berdua lapar kan kalau nunggu mas mu itu gak tau sampai kapan pulang nya, ibu gak mau di cap ibu yang buruk karena anak-anak nya mati karena kelaparan ya" kata ibu bercanda.
Eva hanya bisa memanyunkan bibirnya saja sedang Bagas sudah siap mengambil nasi dan teman-temannya itu yang sudah terhidang di meja makan. Mereka bertiga pun makan bersama yang ada hanya keheningan dan hanya suara sendok yang berdenting ketika kena piring, setelah selsai Eva membantu sang ibu tuk merapikan semuanya termasuk mencuci piring yang kotor.
Tiba-tiba sang kakak duduk di sebelah Eva hingga membuat ketiga orang tersebut sedikit terkejut dan menatap ke arah nya, ada rasa khawatir dari ketiga orang tersebut melihat raut wajah pria yang baru saja datang itu yang sedikit menampilkan raut wajah yang sedih, menyadari akan hal itu sang ibu pun berucap " ada pa mas? muka nya ko asem gitu". Dia bingung harus bagaimana apa harus sedih atau bahagia atau bahkan dua duanya.
__ADS_1
"Tadi mas ke sekolah selain mengurus berkas berkas ada satu pengumuman lagi tapi mas gak tau harus bahagia atau sedih" ucap mas Yudhi yang seperti habis di putusin oleh pacar.
"Kalau ibu boleh tau memang pengumuman apa mas" tanya sang ibu.
"Mas lulus tes kerja Bu dan kalau orang tua mengijinkan dalam beberapa hari ini mas sudah bisa langsung bekerja di salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia Bu" jawab mas Yudhi lagi.
"Wah itu hebat mas selamat ya mas" ucap eva senang tapi beda dengan ibu karena bagaimanapun ibu mempunyai insting yang kuat bahwa masih ada hal yang lain yang ingin di ungkapkan oleh putranya itu.
"Ada hal lain lagi selain itu mas" tanya ibu, mas yudhi mencoba tenang dan ia pun menarik nafasnya " iya Bu ada hal yang lain karena mas harus dikirim keluar kota selama 3 tahun lamanya Bu kalau mas menerima pekerjaan tersebut". Mendengar perkataan mas Yudhi tersebut membuat mereka semua yang ada di ruang itu terdiam.
__ADS_1
"Kalau boleh ibu tau kamu bakal di kirim ke mana mas?" tanya ibu.
"Kalimantan" ucap mas Yudhi.