
Bunyi telepon membangun sang pemilik yang tertidur pulas, Denis mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Laras menelepon pagi-pagi sekali, karena ingin membahas kembali masalah kemarin. Denis mengangkat telepon tersebut, Laras terus menanyakan keberadaannya karena Denis tidak ada di rumah. Denis berpura-pura mengatakan jika dia tertidur di kantornya. Lalu Laras kembali bertanya, sebab dia sudah berada di kantor namun tidak ada Denis di sana. Denis begitu terkejut, jika sekarang Laras berada di kantornya. Karena kemarin setelah bertengkar dengan Laras, Denis pergi menemui Naomi. Naomi yang mendengar percakapan itu begitu senang dan terus mengejek Denis karena kedapatan sudah membohongi istrinya. Denis yan yang takut ketahuan, mulai mengatakan jika dia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
Namun kebohongan itu menjadi sia-sia, karena Laras sudah merasa sakit hati melihat tingkah suaminya. Dia yang sudah dari awal curiga dengan Denis, kembali curiga karena saat dia ingin menemui suaminya, justru mengetahui suaminya tidak ada di rumah bahkan di kantor. Tetapi Denis dalam percakapan justru memarahi Laras karena menemuinya di kantor, dengan alibi jika membahas masalah mereka lebih baik di bahas di dalam rumah. Laras sudah terlanjur sakit hati, Denis seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
" Kenapa kamu masih berbaring disini? Bangun, dan segera pergi menemui istri mu. Kamu harus terburu-buru agar istrimu tidak curiga, soalnya dari percakapan kalian, kamu sepertinya takut dengan istrimu." Kata Naomi dengan bermaksud mengejek Denis.
" Emangnya aku terlihat takut ya?" Tanya Denis.
" Iya, tanpa kamu sadari kamu seperti itu tadi. Jadi sekarang bangun dan bersiap-siap lah."
" Tidak, dia pikir aku takut dengannya. Aku tidak seperti itu." Ucap Denis lalu mencium Naomi.
Laras mencoba untuk menunggu Denis di kantor, karena Laras tahu jika Denis nanti akan ke kantor lagi. Laras lalu duduk berdua dengan Maharani yang kebetulan tengah bersantai karena Denis masih belum datang ke kantor.
" Kamu akan tetap menunggu Denis disini?" Tanya Maharani.
" Iya, katanya dia pulang ke rumah sebentar. Jadi aku menunggunya saja disini. Tadi aku ke rumah dia tidak ada, katanya dia tidur di kantor." Jawab Laras.
" Serius dia tidur di kantor? Kok tadi pagi aku tidak melihatnya? Mungkin dia sudah pulang saat aku tiba."
" Menurut mu, apakah Denis menyembunyikan sesuatu? Apalagi Rani bekerja dengannya, mungkin saja Rani tahu." Ujar Laras ingin tahu apakah Maharani mengetahui hal yang mungkin disembunyikan oleh suaminya.
" Soal itu aku kurang tahu. Takutnya aku malah menghasut kamu. Kalian ini suami istri menurut ku yang tahu banyak tentang Denis itu kamu sendiri. Jadi kalau soal itu harusnya kamu juga tahu dong."
" Iya, aku cuma ingin tahu saja. Mungkin saja ada yang tidak aku ketahui." Ucap Laras tersenyum. Namun senyuman itu seolah menggambarkan kecurigaan.
Naomi tengah membereskan kasur kamarnya. Menata kembali menjadi rapi dan bersih. Sedangkan Denis masih mengenakan kemejanya. Naomi menghampiri kekasihnya itu, lalu membantu Denis mengancingkan kemejanya.
" Apa kamu tidak takut jika istrimu datang ke rumah dan melihatmu tidak ada disana?" Tanya Naomi.
__ADS_1
" Biarkan saja, dia sudah membuat ku kesal dari kemarin." Ucap Denis tanpa memikirkan apakah Laras akan memarahinya atau tidak.
" Tapi, bagaiman pun juga dia pastinya akan marah." Ucap Naomi.
" Sudah ku bilang aku tidak perduli, aku tidak suka dengan sikap wanita yang keras kepala seperti dia."
" Dulu kamu mengatakan jika aku suka buat masalah, sekarang kamu malah mengatakan dia keras kepala."
" Emang dia keras kepala, aku tidak suka dengan wanita seperti itu. Dengan pura-pura mendengar namun tidak melakukan apa yang perintah."
Percakapan mereka terhenti, ketika ponsel Denis kembali berdering. Tertera nama Laras disana. Laras Kemabli menelepon Denis. Dengan santai, Denis mengangkat telepon dari istrinya itu.
" Denis! Apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu bilang kamu di rumah. Tetapi kenapa aku kesini kamu tidak ada." Tanya Laras di dalam telepon.
" Aku tadi habis mandi langsung bersiap pergi menemui klien, kebetulan ada klien yang menghubungi ku."
" Laras, aku sedang sibuk. Nanti saja dulu untuk bicara. Kamu pikir aku ini punya waktu untuk santai. Klien ku menelepon, dan aku harus menemuinya. Itu penting dan aku bisa mendapatkan uang darinya."
" Uang? Lagi-lagi soal uang? Apa yang kamu pedulikan hanyalah uang?"
" Sudah ku bilang nanti dulu baru bicara. Ada hal penting yang harus aku lakukan." Kata Denis mematikan teleponnya.
Laras yang berada di rumah kembali merasa kesal dengan Denis. Denis seperti sedang menipu dirinya. Padahal semalam dia menangis di pelukan ibunya, meminta saran untuk mengatasi masalah mereka. Ibunya menyarankan untuk berbicara dengan baik- baik berdua. Karena saran itu Laras ingin menemui Denis untuk berbicara namun nyatanya Denis seperti tidak perduli dengan masalah tersebut.
Lidia menjenguk putri yang kebetulan dia mendapat kabar dari Denis jika mertuanya itu sedang sakit. Mereka berdua yang kini sudah menjadi besan, mengobrol bersama. Nampaknya putri begitu senang akan kehadiran besannya itu. Lidia datang tidak sendiri namun dia datang bersama dengan ponaannya Ghea. Namun, Ghea seperti tidak suka berada disana, sedari tadi anak itu bersikap kurang sopan setiap Lidia memerintahkannya. Membuat putri sedikit tidak menyukai sikap Ghea.
Karena kebetulan ada Lidia selaku ibu Denis, putri akhirnya membicarakan masalah anak-anak mereka. Lidia yang tidak tahu akan hal itu, mendengarkan cerita putri. Putri mengatakan jika Laras dan Denis bisa membicarakan itu dengan baik-baik, apalagi mereka berdua masih tergolong pengantin baru. Lidia juga menimpali karena baginya pengantin baru itu butuh penyesuaian, jadi pastinya ada sedikit cekcok dalam masalah rumah tangga.
Saat tengah mengobrol putri di kejutkan dengan kedatangan Laras. Laras datang dengan raut wajah kesal. Dia menyapa ibunya dan juga ibu mertuanya. Karena ada Laras, putri mulai menanyakan tentang pembicaraan laras dan suaminya.
__ADS_1
" Bagaimana? Kamu sudah mengobrol dengannya?" Tanya Putri.
" Percuma, seperti hanya aku yang berjuang untuk menyelesaikan masalah ini." Jawab Laras lalu menuju ke kamar.
Putri terdiam, dia memandang Lidia. Dia merasa tidak enak karena jawaban Laras. Apalagi ini Denis selalu anak Lidia. Lidia yang juga mendengar hanya bisa terdiam.
Naomi menyiapkan sarapan untuk Denis bahkan dia tahu menu makanan apa yang Denis sukai. Sudah lama Denis tidak memakan makanan yang dia suka. Karena selama ini semua makanan di atur oleh Laras. Bahkan makanan yang masak Laras tidak sesuai dengan selera Denis. Denis tersenyum menikmati makanan buatan Naomi tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kekasihnya itu. Naomi tersenyum bahagia, karena sudah lama mereka berdua tidak sarapan bersama.
" Apa kamu ingat hari ini hari apa?" Tanya Naomi.
" Hari ini? Bukannya hari Senin?"
" Ayolah Denis, masa kamu lupa. Hari ini adalah hari jadian kita ke enam."
" Apaan sih! Pake hitung segala." Ucap Denis tertawa.
" Ya, harus dong! Supaya kamu juga sudah enam tahun kita saling mengenal."
" Baiklah. Kamu mau apa?"
" Kamu serius?"
" Iya, kamu bilang ini hari jadian kita, jadi kamu mau apa?"
" Aku mau kita makan malam bersama di sebuah hotel, aku akan memesan tempat yang aman agar orang-orang tidak mengenal kita. Apakah boleh?"
" Boleh." Ucap Denis.
Naomi begitu senang mendengarnya, segera dia memeluk Denis dan mengucapkan terima kasih dan juga memberikan sebuah ciuman dipipi kekasihnya itu.
__ADS_1