
Jessica setia menunggu sampai suaminya sadar, damar masih terbaring danasih belum sadarkan diri. Jessica mengelus pipi suaminya, memandangi dengan tatapan sayang. Meski pernah membenci, namun Jessica juga tidak ingin kehilangan suaminya. Bagaimanapun damar tetap menjadi sandaran untuknya ketika ayahnya sudah tidak memperdulikannya lagi.
" Jangan khawatir, damar. Aku akan buat bertanggungjawab dan merasakan apa yang kamu rasakan." Ucap Jessica sambil menggenggam tangan suaminya.
Kedua pengawal datang menghadap Jessica, mereka berdua sudah berhasil membuka ponsel milik Vernon. Dan dilihat dari hasil fotonya, mereka yakin jika memang Vernon pelaku dibalik kekerasan yang diterima oleh damar. Namun dibalik itu ada sebuah foto yang harus Jessica lihat, Jessica yang tadinya merasa sedih karena keadaan suaminya, kini bertambah sedih ketika melihat foto yang ada dalam ponsel milik Vernon. Rasanya begitu sakit hati melihat suaminya berpegangan tangan dengan istri dari pengacara suaminya sendiri. Jessica pergi menuju tempat parkiran mobilnya, dia menangis dan berteriak kesal. Pertemuan Laras dan damar secara diam-diam itulah yang membuat damar harus terbaring di rumah sakit. Jessica mengingat kembali saat damar menghubungi Laras, bahkan nada suara Damar sangat berbeda saat itu. Jessica menyakini jika mereka berdua memiliki hubungan yang Jessica tidak ketahui, Jessica begitu kesal dan terus memakai Laras.
Sedangkan Laras menangis dibalik pintu kamarnya, hatinya begitu sakit mendengar semua kebohongan yang selama ini suaminya lakukan padanya. Selama ini pernikahan yang telah terjalin, ternyata hanya Laras yang mencintai Denis, namun tidak bagi Denis, pria itu hanya menginginkan kekayaannya saja. Sungguh sebuah kejujuran yang menyakitkan. Laras selama ini ditipu oleh Denis dan juga ibu mertuanya. Laras mengutuk dirinya yang begitu bodoh dan kemakan oleh rasa cintanya. Pernikahan indah yang dia inginkan kini sudah mulai hancur. Ibu Laras mencoba memberi pengertian pada Laras, menenangkan Laras jika Laras tidak sendiri namun masih ada ibunya yang bisa untuk melindunginya. Ibu Laras juga cukup terkejut akan semua pengakuan itu, namun dia mencoba untuk tenang agar bisa memeluk dan menenangkan Laras.
Tidak hanya Laras yang terpuruk, namun juga Denis yang terus meminum bir sendirian. Ibu Denis datang dan memarahi anaknya yang terus saja meminum tanpa berbuat atau mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang terlah terjadi.
" Ibu, aku sedang stres. Bisakah ibu tidak membuatku semakin stres , hah!" Bentak Denis denga kesal kepada ibunya karena mengambil bir yang diminumnya dan membuangnya ke tong sampah.
" Itu semua salahmu! Kamu tidak mau mendengarkan ibu. Sudah ibu bilang untuk putuskan hubungan dengan Naomi, tapi kamu tetap saja berhubungan dengannya. Gara-gara perbuatan mu bukan hany kamu yang stres tapi juga ibu." Kata Lidia yang kesal dengan anaknya sendiri.
" Ibu sendiri hanya menginginkan aku menikah dengan Laras, bukan aku yang meminta! Ibu meminta ku menikahinya karena hartanya, tapi ibu tidak tahu apa yang aku rasakan. Ibu tidak tahu akan hal itu."
" Denis! Ibu begitu karena ibu memikirkan masa depanmu!"
__ADS_1
" Tapi aku tak bahagia dengan dia, Bu!" Bentak Denis yang merasa kesal karena ibunya yang selalu mengatur hidupnya tanpa menanyakan kepada dirinya.
" Bagaimana kamu mengatakan hal itu setelah semuanya terjadi? Sekarang aku tidak perduli lagi! Kamu urus saja dirimu sendiri! Entah kamu mau bercerai dengan Laras atau kembali dengan Naomi, terserah! Buatlah sesuka hatimu!"
" Sudahlah, aku malas berdebat dengan ibu, karena itu menjengkelkan!" Bentak Denis.
Denis berjalan dengan oleng, dia kembali mengambil botol birnya yang sudah dibuang oleh ibunya di tong sampah. Dia kembali meneguk bir itu hingga habis, dan masuk ke dalam mobil.
" Kemana kamu mau pergi? Kemana? Kamu selalu menyalahkan ibumu, dan tidak pernah berpikir jika ini semua salahmu. Kemana kamu mau pergi, hah!" Teriak Lidia melihat Denis masuk kedalam mobilnya.
Denis tidak menjawab, dia malah justru melakukan mobilnya. Dengan keadaan mabuk dia mengendarai mobilnya menuju apartemen Naomi. Denis keluar dari mobil, dia berjalan dengan oleng. Tidak disangka dia berpapasan dengan Naomi yang kebetulan tengah keluar dari lift sambil membawa koper.
"Denis, apakah kamu kesini menyetir dalam keadaan mabuk? Jika terjadi apa-apa di jalan bagaimana? Bagaimana jika kamu menabrak anak orang? Berani sekali kamu kesini dalam keadaan mabuk seperti itu, karena ditinggal istri kamu jadi seperti ini." Kata Naomi, meski khawatir namun dia tetap dengan egois tidak ingin menunjukan perhatian kepada Denis.
" Berani sekali kamu berkata seperti itu, setelah kamu menghancurkan semuanya! Kamu mau kemana?"
" Aku mau ke jepang, seperti yang kamu mau. Bukankah begitu?" Ucap Naomi.
__ADS_1
" Setelah kamu menghancurkan semuanya, sekarang kamu pergi dan melepaskan tanggung jawabmu, hah!"
" Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang menginginkan aku pergi ke jepang? Dan sebelum pergi setidaknya aku mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, bukan? setidaknya lebih baik aku pergi karena istrimu sudah menghancurkan karir ku bahkan sekarang aku dianggap sebagai perusak rumah tangga orang!"
" Kamu! Beraninya kamu pergi tanpa bertanggung jawab!" Bentak Denis mengangkat tangannya ingin menampar Naomi. Namun, dengan segera Naomi berteriak untuk menghentikan Denis yang hendak ingin menamparnya.
" Kamu berani menampar, coba saja jika kamu ingin melakukannya. Kamu tahu disini terdapat cctv, aku bisa saja memposting tentang dirimu yang memukuli ku di media sosial. Bukan hanya itu, kamu bisa saja masuk ke dalam penjara. Ingat hukum memukul seorang wanita itu berat. Aku jadi merasa sedikit prihatin sama kamu, setelah ditinggal istri kamu malah justru berniat ingin masuk penjara, sudah mengemudi dengan keadaan ditambah mau memukul aku. Cih! Miris!" Kata Naomi memandangi pacarnya dengan tatapan tidak suka.
" Kamu tidak boleh pergi!" Denis menarik koper Naomi.
" Minggir! Aku bisa kehilangan pesawat karena mu." Ucap Naomi mendorong Denis untuk menjauh darinya.
Naomi menarik koper berjalan menuju halaman parkir yang dimana taksi sudah menunggunya didepan. Namun Denis yang tidak mau Naomi pergi, mengejarnya. Bahkan Denis menahan Naomi dan hendak memukul Naomi. Namun dengan cekatan Naomi menendang selekangannya hingga Denis tersungkur di lantai dan meringis kesakitan karena tendangan Naomi. Segera Naomi menaiki taksi, dan meminta supir taksi untuk segera pergi sebelum Denis bangun dan kembali menahannya. Saat taksi berjalan, Naomi terus melihat kebelakang, sedikit khawatir dengan keadaan Denis. Namun, dia harus menghiraukannya, karena Denis sudah menghancurkan hidupnya.
" Terkadang aku tidak tahu, apakah aku masih mencintaimu atau sudah membencimu." Ucap Naomi menghela nafasnya, seperti merasakan sesak didadanya. Dia menyenderkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Denis dengan gontai berjalan menuju apartemen milik Naomi, dia masuk kedalam apartemen Naomi. Dia melihat foto Naomi yang dibingkai berdiri di meja. Dia mengambil foto itu, dengan amarahnya dia berkata, "Kamu sudah menghancurkan hidupku!"
__ADS_1
Denis melempar foto itu, hingga kaca bingkainya hancur. Lalu dia mengambil foto dirinya dan Naomi yang dipajang di pintu lemari kulkas, dan merobaknya . Bukan hanya itu dia menghancurkan semua barang-barang di apartemen Naomi bahkan telur mentah dia lemparkan semua ke foto dirinya dan Naomi yang terpajang di dinding. Denis merasa hidupnya sudah hancur, impian untuk kaya dan hidup bahagia sudah hancur. Laras mengusirnya dan kini Naomi justru meninggalkannya.