Pengobat Hati

Pengobat Hati
Episode 10


__ADS_3

Setelah Flm telah berakhir mereka


berdua pun pergi ke sebuah rumah makan untuk membeli makanan untuk di


bungkus di bawah pulang ke rumah.


Dokter Anggra merasa senang karena bisa menghibur Wulan meski sebelumnya telah gagal berkencan tadi.


"Mengapa kak Anggra menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajah ku?", Kata Wulan sambil memegang wajahnya.


"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya... Melihat ternyata kau bisa mengkhawatirkan soal penampilan mu", kata Dokter Anggra.


"Tentu saja, bagaimana pun aku tak akan pernah ingin terlihat jelek di depan Laki-laki", kata Wulan membuat Dokter Anggra terdiam ia memikirkan sesuatu sehingga wajahnya berubah.


"Jangan memandang ku sebagai laki-laki, anggaplah aku sebagai Dokter mu saja", kata Anggra Kemudian langsung ke dalam mobil.


Wulan pun berpikir dengan apa arti


dari kata Barusan yang keluar dari mulut Dokter Anggra.


Apa maksudnya harus menganggap dia sebagai dokter bukan sebagai seorang Laki-laki, Memangnya selama ini ia bukan laki-laki seutuhnya? jangan-jangan Ih memikirkan itu saja sudah membuat ku merinding.


Melihat Wulan sedang asik melamun membuat Dokter Anggra penasaran sehingga ia menepuk pundak Wulan dan berkata


"Apa yang kau pikirkan Wulan?", Tanya Dokter Anggra.


"Bukan apa-apa", kata Wulan dengan cepat sambil menggeleng kepalanya


"Jangan menyimpan rahasia apapun padaku", tegas dokter Anggra.


"Curang!! Kau tidak adil kepada ku!! Aku bahkan bisa dengan mudahnya mengatakan hal pribadiku padamu, tapi kau!! Kau bahkan tidak pernah mengatakan informasi pribadimu sedikit pun padaku!!", Kata Wulan dengan Kesal.


Dokter Anggra hanya terdiam dan focus mengendarai mobil saja, ia tak berani melihat mata Wulan karena tak bisa mengatakan mengenai hal pribadinya.


"jangan memanggilku Kak Anggra, aku sudah berapa kali Bilang kau harusnya memanggil ku Dokter Anggra", kata Anggra dengan kesal


"aku tak ingin mendengar ocehanmu itu, jangan lari dari masalah yang ku bahas barusan", kata Wulan dengan Kesal.


"Maafkan aku Wulan", kata Dokter Anggra.

__ADS_1


"Permintaan maafmu itu tak bisa merubah apa-apa, nyatanya kau tak akan pernah bisa berbagi cerita dengan ku. Yah mungkin kau sama saja dengan orang tuaku kau menganggap ku sebagai robot yang tak memiliki perasaan bukan?


Tentu aku sama halnya seperti orang gila dimata kalian",


kata-kata Wulan sungguh menyakitkan sampai ia tak bisa menahan tangisnya. Kini Airmata sudah membasahi pipinya, dokter Anggra melihatnya langsung merasa kasihan, ia membelai rambut Wulan mencoba untuk menenangkan tangisnya itu.


"Hentikan! Jangan menyentuh ku! Mungkin hanya aku disini yang benar-benar aneh", kata Wulan kemudian ia beranjak pergi masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya.


"Wulan....


Tunggu...


Aku bukan bermaksud memperlakukanmu seperti itu...


Tunggu....


Pintu kamar itu langsung di tutup dan di kunci Emosi Wulan sungguh tak bisa di mengerti. Ia tak bisa mengendalikan emosinya sendiri.


"Apa kau tidak berpikir tentang perasaan ku? Bagaimana bisa kau tidak adil begitu? Kau sama saja dengan ibu tiriku Kak Anggra!!!", Kata Wulan dari Balik pintu dengan keras.


"Aku tidak bermaksud untuk menyimpan apa-apa darimu Wulan, aku... Aku.. tidak bermaksud untuk membuat mu mendengar kisah sedihku!!", Kata Dokter Anggra.


"Baiklah Wulan akan ku ceritakan semua hal yang ingin kau ketahui, tapi sebelum itu buka dulu pintu. Aku berjanji tak akan menyembunyikan apapun lagi ", kata Dokter Anggra mencoba meyakinkan Wulan.


Wulan tak menjawab perkataan Dokter Anggra ia hanya duduk terdiam di balik Pintu kamarnya.


Apa yang terjadi dengan ku? Mengapa aku sungguh ingin mengetahui Hal-hal yang bersangkut paut dengan kehidupan dokter Anggra? Memangnya dia siapa? Ada apa dengan diriku ini? Hiks...hiks... Pokoknya aku begitu tidak ingin jika dia menyimpan sesuatu dariku meski sekecil apapun. Tapi apa sikap aku ini salah? Kepala ku begitu pusing dadaku begitu sesak tak bisa bernafas.


"Kak Anggra tolong.. tolong aku", kata Wulan tapi suaranya melemah karena tak memiliki kekuatan untuk meraih gagang pintu tersebut.


Dokter Anggra sungguh merasa cemas dengan keadaan Wulan karena ia sudah tak mendengarkan suara dari arah kamar, ia kemudian langsung mendobrak pintu kamar Wulan dengan Kuat sehingga pintu tersebut dapat terbuka.


Di temukan Wulan dengan kondisi yang terbaring lemah di lantai, Dokter Anggra dengan cepatnya langsung menggendong Wulan di atas ranjang, ia sungguh merasa cemas dengan kondisi Wulan saat itu hingga tangannya bergetar.


"Wulan... Wulan bangunlah... ", Kata dokter Anggra sambil menepuk pipi Wulan.


Wulan pun membuka sedikit matanya dengan bersuara kecil dan berkata.


"Obat... obatku kak", kata Wulan dengan susah payah.

__ADS_1


Lidahnya begitu keluh dan tak bisa merasakan apa-apa. Sedangkan dokter Anggra mencari obat Wulan di meja tapi tak menemukannya sedikit pun. Ia cukup frustasi ketika mencari obat Wulan hingga akhirnya ia berpikir mungkin obat tersebut berada di tas Kuliah Wulan. Benar akhirnya ia menemukannya dan langsung mengambil segelas air putih untuk di minum Wulan.


"Cepat habiskan Air itu", kata Dokter Anggra dengan panik. Nafasnya tak beraturan saking takutnya.


Beberapa menit kemudian setelah merasa obat itu telah bekerja, akhirnya Wulan memandang wajah Dokter Anggra yang terlihat cemas sehingga ia tersenyum tipis di wajahnya.


"Mengapa kau tersenyum begitu saat melihat ku?", Tanya dokter Anggra.


"Terima kasih kak, kau tak perlu secemas itu padaku", kata Wulan dengan mata sayu.


Huh anak ini benar-benar membuat ku frustasi saja, bagaimana ia bisa menganggap remeh hal seperti ini. Jika aku tak cepat membantu mu mungkin sekarang kau sudah berada di rumah sakit Wulan, dasar Anjing kecil nakal gumam Dokter Anggra dalam hati.


Grug...grugggg...


Perut keroncongan Wulan terdengar sehingga Dokter Anggra langsung turun ke bawah untuk mengambil makanan yang telah mereka beli tadi.


"Kau mau kemana kak? Tanya Wulan sambil menahan lengan Dokter Anggra.


"Tunggu disini aku akan mengambil makanan untuk kau makan, kau pasti sudah laparkan ", kata dokter Anggra sambil beranjak pergi dari kamar Wulan.


Beberapa menit kemudian Dokter Anggra membawakan makanan untuk Wulan.


Ia terlihat merawat Wulan dengan begitu baik, mulai dari mengikat rambut wulan, hingga menyuapi sampai ke mulutnya. Wulan merasa nyaman ketika di perlakukan baik seperti itu, satu suapan terakhir menjadi tanda jika dokter Anggra sungguh merawat Wulan dengan sabar. Tak lupa setelah selesai makan ia memberikan air putih untuk diminum Wulan.


"Sekarang tidurlah, kau perlu untuk beristirahat", kata Dokter Anggra sambil menarik selimut Wulan.


"terimakasih kak", kata Wulan.


"Jika kau membutuhkanku ingat kamarku tepat di sebelah mu, kau dapat datang meminta tolong jika terjadi sesuatu", kata Dokter Anggra.


"Baiklah Selamat Tidur kak", kata Wulan sambil tersenyum.


Kepergian Dokter Anggra membuat Wulan merasa legah karena ia tak akan di tinggalkan lagi. Sesekali ia berpikir untuk selalu mengandalkan dokter Anggra dalam segala apapun.


Terimakasih Tuhan sudah memberikan seseorang yang begitu baik seperti Dokter Anggra Jujur aku sangat bersyukur ketika dia hadir di hidupku, aku janji tak akan membuat dia memiliki masalah saat bersamaku.


Aku hanya bermohon agar ia tetap tinggal disisiku selamanya.


Wulan tak mengetahui tentang konsekuensi nanti, jika dokter Anggra ada karena penyakitnya dan bertujuan untuk menyembuhkan penyakit itu, jika Wulan telah sembuh tentu dokter Anggra tak akan lagi berada disisinya. Entahlah bagaimana nanti kisah mereka semoga saja tak akan ada perasaan kehilangan lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2