Pengobat Hati

Pengobat Hati
Episode 45


__ADS_3

Langkah kaki Wulan terhenti, ia tak menyangka jika Kak


Nando benar mendengar percakapannya dengan Dokter Anggra.


“itu... itu hanya obat biasa obat... obat vitamin untuk


meningkatkan stamina atau lebih tepatnya lagi adalah untuk meningkatkan


kekebalan tubuh, seperti yang kak Nando ketahui segala kegiatan selama


karantina ini sungguh menguras banyak tenaga. Jadi Dokterku merekomendasikan


agar selalu meminum vitamin “, Kata Wulan mencoba untuk meyakinkan lawan bicara


yang penasaran itu.


Aku tentu tak mungkin untuk membicarakan soal penyakit


mentalku ini kepada siapapun apalagi dengan Kak Nando yang bahkan kami tak terlalu


mengenal satu sama lain.


“maaf tadi kau menyebutkan dokterku? Maksudmu apa kau


memiliki dokter khusus? Atau


Sial aku keceplosan tadi


Dengan senyuman Wulan menjawabnya dengan santai


“Yah, tentu saja dirumah kami sekeluarga memiliki dokter


khusus untuk memantau kesehatan kami masing-masing, ayahku memang over


protektif sekali jadi dia...


“Kau sedang bercanda bukan? Ayolah Wulan kau bisa


mengatakannya padaku tak usah takut “, Kata Nando.


“tidak kak aku serius


“aku tahu kau berbohong Wulan, aku bisa saja menyuruh

__ADS_1


salah seorang senior wanita untuk memeriksa isi tasmu obat apa sebenarnya yang


kau minum selama karantina ini “, Kata Nando sedikit memaksa dan menekan jika


ia serius untuk membongkar isi tas Wulan.


“Kak Nando, kau sebaiknya tidak boleh bersikap seperti


pada Wulan! Dia juga memiliki privasinya sendiri! “, Kata Anggie dari belakang.


Anggie ? Mengapa ia ada disini?


“Maaf lancang berkata seperti itu, tapi sebaiknya kak


Nando tidak boleh berlaku semena-mena begitu apalagi jika menganggu privasi


seseorang itu tentu sudah melanggar dan melewati batas”, Kata Anggie membela Wulan.


“bukan begitu Anggie, aku hanya ingin memastikan seluruh


finalis yang hadir di sini bebas dari obat-obatan terlarang”, Kata Nando


“obat-obatan terlarang ? maksud kak Nando Narkoba? Aku tidak


“jangan menuduh sembarangan kak, kau tidak memiliki bukti


yang kuat untuk menuduh Wulan begitu! Dan berhubung ini sudah lewat jam


istirahat sepertinya kita harus kembali ke ruangan. Para senior sudah menunggu


kita, sebaiknya kita segera kembali “, Kata Anggie beranjak pergi sambil


menarik tangan Wulan.


“hei tunggu! Bukan seperti itu maksudku, kalian berdua


salah paham tunggu dengarkan aku!!


Kedua gadis itu tak memperdulikan panggilan Nando, mereka


berdua masuk ke ruangan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang saking kesalnya.


Sebenarnya aku hanya ingin lebih dekat denganmu Wulan,

__ADS_1


aku tak bermaksud untuk menyinggung ataupun menuduh yang tidak-tidak kepadamu.


Rasa bersalah yang dalam sungguh menganggu Nando.


***


“ada apa? Apa kau memiliki masalah dengan Kak Nando?


Tanya Icha yang berhubung ia bersebelahan dengan ranjang Wulan.


“bagaimana kau bisa tahu jika aku memiliki masalah dengan


Kak Nando? Tanya Wulan dengan bingung.


apa jangan-jangan Icha juga mendengar pembicaraan kami


tadi? Yah Icha memang menjadi salah satu orang yang melihat aku minum obat


secara terang-terangan.


“tidak, aku hanya sekilas tadi lewat dan melihat tadi Anggie dan terlihat seperti sedang membelamu “, Kata Icha.


Ah syukurlah rupanya kau tidak mendengar semuanya setidaknya aku selamat sekarang


“tidak, itu bukan apa-apa, kami hanya mendiskusikan


sebuah masalah makanya terbawa dengan emosi. Aku ke toilet dulu yah untuk


membersihkan make up sekaligus untuk membersihkan diri ", kata Wulan kemudian beranjak pergi.


Saat di Toilet Wulan melihat ke arah cermin yang ada di


depannya, mengingat kejadian barusan terjadi


*Anggie, dia tadi membelaku? Rasanya begitu aneh jika anak


itu berlagak sok seperti penyelamat bagiku. Yah setidaknya aku bersyukur dia


ada tadi. Aku tak bisa membayangkan jika kak Nando benar-benar membongkar isi


tasku, memang dia bersikap baik tadi, tapi bukan berarti aku dengan mudahnya melupakan segala kebencian yang terjadi di antara kami. Apalagi sekarang dia belum juga berubah bahkan Kak Anggra dia terlihat ingin merebutnya dariku. Dia selalu sama ingin merebut segala yang ku inginkan. Aku tak mungkin dengan polosnya melupakan segala hal buruk yang terjadi dulu. Tapi ngomong-ngomong Icha tadi ah ia benar bagaimana aku bisa bodoh begitu!


obatku!! obatku aku lupa Memasukannya kembali ke dalam tas

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2