Pengobat Hati

Pengobat Hati
Episode 11


__ADS_3

Keesokkan harinya seperti biasa wulan telah bersiap untuk datang ke kampus, Dokter Anggra pun seperti biasa Telah menunggu di meja makan.


"Ada apa kak?", Tanya Wulan sambil menarik meja makan.


"Hari ini Pak Iskandar dan Bu Sherly akan pergi ke Kota XX, mungkin akan pulang besok hari", kata Dokter Anggra.


"Mengapa kau mengatakannya padaku?", Tanya Wulan


Selama ini Wulan memang tak pernah memperdulikan Soal keberadaan orang tuanya karena ia selalu di tinggal sendiri, jadi tak heran jika hampir setiap pagi ia tak pernah bertemu dengan mereka.


"Aku pikir kau akan mencari keberadaan mereka", kata Dokter Anggra dengan ekspresi bingung.


"Aku sudah tahu jadwal keseharian mereka, pagi hari mereka tidur dan aku ke kampus, siang sampai malam mereka masih bekerja kadang pulang nanti subuh. Ku kira tak perlu lagi kau mengatakan tentang keberadaan mereka, karena aku sudah tahu betul dengan kondisi keluarga ku", kata Wulan.


Dokter Anggra hanya terdiam mendengar perkataan Wulan, pantas saja selama ia tinggal di rumah, ia kadang sekali melihat Pak Iskandar dan Ibu Sherly berada di rumah. Setidaknya dengan kehadiran mereka mungkin akan membantu Wulan dalam menyembuhkan penyakitnya tapi setelah melihat kondisi seperti ini, aku harus lebih berusaha keras untuk membantunya.


"Tenang saja, kau tak perlu merasa Kesepian saat dirumah. Ingat aku akan selalu menemanimu kemanapun kau pergi Wulan", kata Dokter Anggra.


Entah mengapa kata-kata Kak Anggra barusan enak di dengar, aku senang jika ia selalu menemaniku, tak terasa aku sudah mulai terbiasa dengan kak Anggra.


"Ayo makan sarapanmu, jika tidak kau akan sakit Maag nanti", kata Dokter Anggra.


Wulan pun menuruti kata-kata Dokter Anggra


Gadis pintar gumam dokter Anggra dengan senyum di wajahnya.


Mereka berdua pun bersiap untuk berangkat ke kampus, tentu yang mengendarai mobil tersebut adalah Dokter Anggra.


Saat di mobil.


"Kau membawa obatmu kan?", Tanya dokter Anggra.


Wulan pun mengambil obat yang dimaksud oleh Dokter Anggra dan memperlihatkannya


"Tentu saja aku membawanya", kata Wulan.


"Anak pintar", kata Dokter Anggra sambil mengacak-acak rambut Wulan.


"Ahh hentikan kak, kau merusak rambut rapiku", kata Wulan dengan kesal.


Dokter Anggra pun melajukan mobil tersebut


Sampai di Area kampus.


Fernanda dan Arselia telah menunggu kedatangan Wulan, mereka berdua cukup penasaran dengan Laki-laki yang mengantar Wulan kemarin, Sampai akhirnya Mobil Wulan pun terlihat.


"Kak aku pergi dulu yah", Kata Wulan sambil turun dari mobil.


"Apa kau lupa aku harus menemanimu untuk menghadap Leon hari ini?", Tanya Dokter Anggra.


Ah sial bagaimana bisa aku lupa soal itu, tapi bagaimana bisa aku melihat Pak Leon, menatap Matanya saja aku sudah begitu takut. Aku bahkan kemarin membatalkan kencan itu tidak sopan, apa dia akan memberiku nilai E nantinya? Gumam Wulan dalam hati.


Tiba-tiba dari arah belakang ada dua orang tampak mengagetkan Wulan sambil menepuk keras di pundaknya.


"Hahhhh", kata Nanda dan selia dengan kompak.

__ADS_1


"Nanda? Selia? " Kata Wulan


"Kau berhutang sesuatu kepada ku, ingat kemarin kau bilang akan mengenalkan laki-laki tampan itu padaku", kata Nanda dengan berbisik kecil di telinga Wulan.


Kapan aku mengatakan jika ingin mengenalkan Kak Anggra kepada mu?


Wulan pun mengisyaratkan Kepada Dokter Anggra untuk turun dan menghampiri teman-temannya itu.


Nanda pun mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah ke arah Dokter Anggra.


"Hallo, Namaku Fernanda Asyinta, Kak bisa memanggilku Nanda", kata Nanda sambil senyum malu-malu.


"Aku Anggara, Dokter Psikiater Pribadi Wulan", kata dokter Anggra.


Selia pun tak ingin kalah ia juga mengulurkan tangannya untuk berkenalan


"Aku Arselia Permata Sari, Kak Anggara bisa memanggilku Selia, aku sahabat Wulan", kata Selia.


"Karena Sudah berkenalan ku pikir kita harus cepat-cepat untuk datang ke Ruangan Pak Leon, berhubung aku sudah membawa Dokter Anggra sebagai Waliku Aku akan langsung menghadap sekarang juga padanya", kata Wulan


"Tadi kami telah bertemu dengan Pak Leon katanya ia sudah memaafkan kesalahan kita semua, jadi Kita tak perlu untuk menghadap lagi", kata Nanda dengan senang.


"Kalau begitu Kak Anggra tak perlu lagi menghadap, Sekarang aku akan masuk ke kelas sampai jumpa", kata Wulan sambil berjalan pergi dan menarik kedua tangan sahabatnya itu.


"Wulan kenapa kau ingin masuk kelas sekarang? Bukankah masih ada setengah jam sebelum kelas dimulai?", Kata Nanda dengan Ekspresi cemberut.


"Aku sengaja agar kalian tidak terlalu dekat dengan Kak Anggra", kata Wulan


"Hah? Kau sungguh jahat


"Ingat kalian berdua itu sudah memiliki pasangan masing-masing, cobalah untuk setia", kata Wulan telak langsung membuat Nanda tak berkutik.


"Ta..tapi kan aku hanya ingin dekat dengannya, ia tampak begitu manis saat tersenyum", kata Nanda.


"Benar kata Wulan cobalah untuk setia, tapi aku penasaran mengapa sampai orang tuamu mengirim seorang Dokter Psikiater?", Tanya Selia.


"Tentu saja untuk menyembuhkan penyakit gangguan Mental Wulan", kata Nanda.


"Ah benar, maafkan aku Wulan aku tak bermaksud untuk menyinggung Perasaan mu", kata Selia


"Tidak apa-apa, aku rasa kalian perlu tahu soal Kehadiran Dokter Anggra, tapi kumohon jangan sampai orang lain tahu, Aku mungkin akan di anggap gila nantinya", kata Wulan.


"Kami akan menjaga rahasia mu Wulan tenanglah", kata Selia.


***


Setelah kelas berakhir Dokter Anggra mulai gelisah berkali-kali ia melihat jam ditangan. Tak biasanya Wulan akan pulang terlambat biasanya ia langsung datang menghampiri mobil duluan. Dokter Anggra mulai cemas tentang kondisi Wulan hingga ia beberapa kali menelepon tapi tak kunjung juga di angkat. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari di Kelas Wulan, tapi ia tak menemukan orang sosok gadis yang ia maksudkan itu.


Wulan kau kemana saja? Aku sungguh khawatir


Sesekali dokter Anggra bertanya disekitar Kelas tersebut apa mereka melihat Wulan tapi tak ada satupun yang mengetahuinya.


Setelah beberapa lama mencari akhirnya ia menemukan keberadaan Wulan tentu itu membuat Dokter Anggra menjadi tenang.


"Kau kemana saja? Mengapa tak mengabariku jika akan pergi ke suatu tempat?", Kata Dokter Anggra dengan nafas yang tersengal-sengal dan tampak jelas jika ia sungguh mengkhawatirkan keadaan Wulan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja kak, maaf tadi lupa untuk mengabarimu jika sebelum pulang akan mampir ke perpustakaan Kampus", kata Wulan.


"Baguslah kalau begitu sekarang kita pulang", kata Dokter Anggra sambil menggenggam tangan Wulan.


Wulan pun memandang arah tangan tersebut, tidak terasa ia mulai terbiasa dengan sentuhan tangan Kak Anggara


Saat di Lobby Wulan bertemu dengan Dosen yang selama ini ia takuti jika bertemu. Terlihatlah jika Pak Leon sedang memandang sinis ke arah Wulan.


"Wulan? Kata Pria tersebut dengan keras


Wulan sungguh tak ingin memandang ke arah Suara itu tapi akhirnya Dokter Anggra yang menjawab Panggilan itu.


"Leon memanggil mu", kata Dokter Anggra sambil menunjuk orang yang di maksudkan.


Terpaksa Wulan pun menghampiri Pak Leon dengan senyuman terpaksa ia perlihatkan seolah-olah senang ketika di panggil.


"Selamat Siang Pak Leon, Bapak Memanggil saya? ", Tanya Wulan dengan Sopan.


Pak Leon tampaknya senang dengan ekspresi Takut dari Wajah Wulan hingga ada senyuman tipis di wajahnya.


"Kau sudah banyak belajar rupanya, kedepannya tetap bersikap sopanlah seperti itu ", kata Pak Leon.


"Terima kasih karena Kau sudah memaafkan kesalahan yang di lakukan oleh Wulan", kata Anggra.


"Aku selalu melihat kalian bersama rupanya kalian cukup dekat", kata Pak Leon.


"Tentu saja kami dekat, Tapi ada perlu apa Bapak Memanggil saya?", Tanya Wulan


"Jadi begini aku ingin kau mendaftar diri Sebagai Putri Fakultas Tahun ini ", kata Pak Leon


"Mengapa harus saya? ", Tanya Wulan dengan ekspresi bingung.


"Seperti yang kau ketahui di setiap jurusan harus di wakilkan 1 Putra dan 1 Putri aku ingin kau yang mewakili Putri Jurusanmu itu", kata Pak Leon.


"Saya tidak mau Pak!, Saya bahkan tidak pantas untuk Mengikutinya", kata Wulan.


"Aku akan memberimu Nilai Plus jika sampai mendaftar, jangan sampai menyerah Sebelum kau mencobanya", kata Pak Leon.


"Ku rasa kau berhak mengikuti Pemilihan Putra-putri Fakultas tahun ini Wulan", Kata Dokter Anggra.


"Mengapa kau juga berpendapat serupa dengan Pak Leon", Bisik Wulan Ekspresi Kesal.


Tiba-tiba ada seorang Gadis cantik menghampiri Pak Leon dan melihat ke arah Wulan dengan Wajah Jengkel.


"Wulan?


"Anggie?


Kedua tatapan itu sungguh saling menatap dengan Kesal. Terlihat jelas jika mereka berdua saling tak menyukai satu sama lain.


"Kau kuliah disini juga?", Tanya Anggie dengan Ekspresi Jengkel.


"Tentu saja!, Apa kau juga kuliah disini? Tanya Wulan kembali.


"Sial! Mengapa kau selalu mengikutiku? Apa tidak ada Universitas lain daripada disini? Bukankah orang tua mu dapat dengan mudah memasukkan mu ke Universitas Swasta? ", Kata Anggie.

__ADS_1


Tak ku sangka aku satu Fakultas dengan Gadis yang sungguh ku benci saat sekolah. Namanya Angelina Jennifer, dulu dia selalu bersaing denganku dalam segala hal. Aku hanya berharap jika nanti ikut Pemilihan Putra-putri Fakultas dia tak akan ikut, untuk bersaing denganku karena hampir setiap Acara jika aku ikut dia akan selalu ingin mengalahkan ku


__ADS_2