
Masih mendekap lengan
Wulan dengan posesif Anggara tak lupa menyodorkan tangannya untuk mengajak
berkenalan dan tak lupa ia menyebut namanya.
“Perkenalkan Nama saya
Anggara calon suami Wulan “, Kata Anggra dengan sombong.
Huh siapa sebenarnya
laki-laki ini? gerutu Nando dalam hati
“ah, saya Nando. Ketua
panitia pemilihan Putra-Putri Fakultas tahun 2020, senang bertemu denganmu “,
Kata Nando dengan memberikan pesona yang tak kalah menggiurkan.
Disana ada beberapa
orang yang membicarakan pemandangan mereka itu.
“apa mereka berdua
sedang memperebutkan Wulan?
“Lihatlah gadis itu
sungguh beruntung di kelilingi dua orang tampan, aku ingin menjadi Wulan.
“sepertinya Wulan cukup
beruntung bisa dekat dengan orang-orang tampan seperti mereka
“yang sedang memegang
tangan Wulan itu pacarnya?
“gila tampan sekali
Melihat ada seseorang
yang dikenalnya membuat Anggie mendekati mereka.
“Kak Anggara? Apa kabar? “, Kata Anggie tanpa sadar menarik tangan Anggra tentu
langsung membuat tangan kirinya terlepas dari lengan Wulan.
Anggie? Huh gadis ini
selalu datang mengganggu kenyamanan hidupku, dia bahkan terlihat sok akrab
dengan Kak Anggra.
“Anggie? Baik,
Anggra hanya membalas
sapaan Anggie dengan ramah tentu sikapnya itu langsung membuat Wulan kesal
karenanya.
“Kak Anggra aku capek,
sebaiknya kita langsung pulang saja “,Kata Wulan langsung menarik tangan Anggra
melangkah maju ke arah mobil.
“oh iya kalau begitu
kami kembali ke rumah duluan yah “, Kata Anggra kemudian terpaksa mengikuti
langkah kaki Wulan.
“Nanti kita bicara lagi
kak
Teriak Anggie dari luar,
mobil Anggara kemudian melaju meninggalkan lobby sampai tak terlihat.
Saat di mobil suasana
menjadi hening Wulan lebih memilih untuk tidur di kursi depan dimana ia duduk
sambil memakai Earphone miliknya.
“Wulan ? siapa Nando?
Tanya Anggra memecahkan kesunyian di dalam mobil itu.
Wulan tak menjawab
“Wulan? Apa kau sedang
marah padaku?
Kenapa kau harus
bertanya lagi sih?
“hei ? jawablah
__ADS_1
pertanyaanku
Wulan pun menjawab
“siapa sebenarnya
Anggie? Dia terlihat begitu dekat dengan Kak Anggara?
Hening
Anggara terdiam karena
tak bisa menjawab pertanyaan Wulan
“jadi kak Anggara dapat
mengambil kesimpulan jika Aku juga tak akan menjawab segala pertanyaan yang di
ajukan oleh kak Anggara jika kak Anggara sendiri yang menutup diri jika di
tanya soal masalah pribadi “, Kata Wulan dengan kesal.
Ada satu hal yang selalu
mengganggu pikiran ku sampai detik ini!
Anggie! Dia... mengapa
terlihat selalu dekat dengan Kak Anggra!
Kak Anggara bahkan
selalu bersikap baik dan lembut kepadanya! Ah sungguh menyebalkan!
Suasana di dalam mobil
sudah bisa dikatakan sesepi kuburan baik Anggara ataupun Wulan tak ada yang
bisa mencairkan suasana itu.
Mereka tiba di rumah
Wulan langsung naik ke kamarnya dan menyuruh salah satu pelayan rumah untuk
menuruni semua barang bawaannya di bagasi. Dokter Anggra rupanya melihat segala
gerak-gerik anak itu. Seperti biasa suasana dirumah sepi hanya dikelilingi oleh
beberapa pelayan saja. Wulan sudah terbiasa dengan kesibukkan orang tuanya, ia
memang tak mengharapkan akan disambut baik oleh orangtuanya.
Ayah? Dan ibu tiriku? Ahhaha
memangnya apa yang kalian harapkan dari pada mereka. Apapun yang menjadi
kebutuhan akan di turuti oleh mereka sekecil pun. Bahkan hal yang tak
yang tak dapat di penuhi oleh mereka. Ahahaha tenanglah masih ada seseorang
yang bisa memberiku kasih sayang .......
Sepertinya dia marah
padaku, apa yang harus aku lakukan?
Wulan mengunci pintu
kamarnya, setelah selesai mandi ia langsung duduk termenung di tepi ranjang
miliknya.
Kak Anggra ? dia
mengacuhkanku? Mengapa dia tak ingin membujukku?
Wulan sungguh frustasi
dibuatnya, ia sungguh berharap jika Anggra akan mengetuk pintunya dan bermohon
agar memaafkannya. Faktanya tidak lelaki itu lebih memilih tidur daripada harus
menghadapi luapan emosi gadis yang sedang mabuk cinta itu.
Wulan putus asa, ia
akhirnya membuka kunci kamarnya
Gadis itu berharap
mungkin nanti Anggara akan mengetuk pintu kamarnya nanti.
Setelah membuka kunci
kamarnya Wulan langsung naik ke atas ranjang untuk menunggu Anggra di balik
pintu itu.
1 menit
15 menit
Setengah jam berlalu
tidak ada yang terdengar mengetuk di balik pintu kamarnya. Wulan tampak kesal
menunggu terlalu lama.
Oke tarik nafas mungkin
__ADS_1
itu karena pintu kamarku yang tertutup,
Wulan memutuskan untuk
membuka pintu kamarnya, lagi ia kemudian naik ke atas ranjangnya sambil membuka
laptopnya.
Itu akan menjadi
senjatanya agar nanti jika Anggra datang ke kamarnya ia bisa beralasan dengan
mengotak-atik laptopnya agar terlihat sibuk.
Rencananya tak berjalan
dengan mulus, rasanya gadis itu akan berteriak histeris karena apa yang
diharapkannya tak terjadi sesuai dengan rencananya.
KAK ANGGARA!!!!!!
Wulan berteriak nama Kak
Anggara kemudian menerobos masuk ke kamarnya.
Terlihat wajah Anggara
sedang tertidur pulas layaknya anak kecil yang tak ingin di ganggu. Mulutnya terbuka
sedikit sampai bisa dikatakan jika Anggara sudah terlelap tidur dari tadi.
Ah rupanya dia sedang
tidur, pantas saja tak terlihat batang hidungnya
Wulan duduk di tepi
ranjang dekat dengan posisi tidur Anggara
Ia tak henti-hentinya
melihat wajah tampan Anggara, bahkan tangannya tak bisa diam. Tangannya memegang
pipi Anggara dengan lembut. Ada seulas senyum di pipi Wulan ketika memegang
bibir Anggara.
Ah bibir ini. Hihihi bibirnya
sangat menggoda berwarna pink
Tanpa di bantu Lipstik
atau pewarna bibir lainnya. Tangan Wulan memang tak bisa diam, ia penasaran
jika tak memegangnya.
Ini moment yang tidak
boleh di lewatkan,
Wulan mengambil ponsel
miliknya untuk memotret Anggara yang mulutnya terbuka saat tidur.
Cekrek... cekrek
Satu dua buah foto telah
berhasil di ambilnya membuat Wulan tersenyum puas
Tidak ada hal yang lain
yang membuat gadis itu terkejut
Anggara rupanya sudah
terbangun, dengan cepat ia langsung merampas handphone yang digunakan Wulan
sambil menarik tubuh gadis itu sampai jatuh berbaring di atas ranjang yang tadi
ia gunakan.
“Kkkk...kak Anggara ?
Deg...deg... deg....
Posisi mereka yang
membuat Wulan terkejut apalagi dengan jarak yang begitu dekat seperti sekarang
ini,
Jika tadi jarak wajah
mereka yang masih terpaut jauh sekarang berbeda, jarak wajah mereka sungguh
sangat dekat.
Posisi yang tentu
membuat merinding apalagi dengan ekspresi wajah nakal kak Anggara.
“Jangan memancingku
Wulan “, Kata Anggara dengan suara parau dengan hembusan nafas yang hangat.
Apa ? memancing? Memangnya
__ADS_1
aku berbuat apa tadi?