
Anggra memegang beberapa berkas tersebut kemudian membacanya satu-satu.
“ada 3 dokumen yang sedang kau pegang sekarang. Dokumen yang pertama itu berisikan pemutusan kontrak kerja yan terjalin bersama dengan Keluarga Iskandar dimana dulu kau bekerja sebagai dokter pribadi Wulan.
Lembar kedua berisikan dokumen beasiswa mu untuk belajar di luar negeri.
Semua kebutuhanmu akan terpenuhi disana. Tenang saja sesuai dengan perkataan Pak Iskandar di waktu lalu jika Keluarga Iskandar yang akan membiayai semua kebutuhanmu disana. Karena kau cukup berjasa karena telah bekerja dengan baik dengan menyembuhkan Wulan dengan cepat sebelum 1 tahun.
Dokumen yang ketiga berisikan surat perjanjian antara dirimu dengan Keluaga Iskandar, dimana kau dilarang untuk berhubungan dengan keluarga Iskandar terlebih khusus berhubungan dengan Wulan. Dengan kata lain kau harus lulus di sana dan mencari kerja disana untuk tinggal menetap di Amertika tanpa kembali ke negara ini.
Anggara mengerutkan keningnya
“Semua akan berjalan dengan lancar jika kau menyetujuinya dan menerimanya dengan setulus hati. Jangan khawatirkan dengan kondisi Wulan karena gadis itu akan segera di jodohkan dengan salah seorang pengusaha kaya raya “,sambung Sekretaris Pak Iskandar.
“bagaimana jika aku menolaknya?”, tanya Anggra
“kau tidak akan melakukannya Dokter Anggara. Ingat kau hanya seorang Dokter yang memiliki gaji sedikit di mata keluarga kami. Kau seharusnya bersyukur kepada Tuhan karena mendapatkan tawaran yang begitu menggiurkan.
“tidak, aku tak akan melakukannya”, tegas Anggra
Bu Sherly hanya tersenyum
“ Jangan Munafik Dokter Anggara. Didunia ini kau hanya tinggal sendiri sebatang kara. Apa kau tidak mengkhawatirkan bagaimana dengan masa depanmu? “, kata Bu Sherly.
“aku akan menghukum Wulan karena gadis itu telah melanggar persetujuan yang telah di sepakati tadi”, kata Bu Sherly.
“jangan berpikir jika kau akan lolos Dokter Anggara karena kau akan dihukum lebih kejam daripada Wulan. Gajimu akan di potong 29% dari pendapatan normalmu. Jangan salahkan kami karena itu kesahalanmu yang tak mau mematuhi aturan yang telah disepakati sebelumnya “, kata Bu Sherly
Anggara hanya diam
“ingat Anggara ! kau harus ingat dengan statusmu di rumah ini! Jadi jangan pernah berharap kau bisa melakukan seenaknya disini. “, Sambung Bu Sherly.
__ADS_1
“apa pun yang kalian katakan aku tak akan pernah mau menyetujui segala hal yang ada di dokumen ini “, kata Anggara dengan tegas.
“Anggara ingat uang sewamu rumahmu akan berakhir di bulan Oktober ini. Apa kau pikir bisa melunasinya jika hanya mengandalkan gajimu yang sudah di potong hampir setengah ini? Sejujurnya keluarga kami memberimu banyak tawaran yang begitu melimpah yang tak bisa kau temukan dimanapun . jadi Aku harap kau dapat memikirkannya kembali dengan matang-matang “, kata Bu Sherly.
Dokter Anggara hanya diam, ia hanya menundukkan kepalanya dan memberi salam
“aku akan kembali ke rumahku. Jika sudah tak ada hal lain yang akan kalian bicarakan. Karena jawabanku akan tetap sama”, kata Anggara
“tunggu! Beraninya kau mengacuhkan kami begitu saja “, kata Bu Sherly sudah berdiri dan mendekati Anggara untuk menahan agar lelaki itu tak keluar dari ruang kerja Pak Iskandar.
Saat mendekat dengan Anggara ada hal yang membuat Bu Sherly merasa aneh
“tunggu ka..kau bau minuman keras.
Bu Sherly memandang ke arah Pak Iskandar untuk mengaduh hal yang ia temukan barusan
“sayang aku mencium bau alkohol di tubuh dokter Anggara. Ia pasti habis minum-minum di acara tersebut.
“kau sudah melarang kesekian kalinya isi kontrak kerjamu Dokter Anggara.”, kata Pak Iskandar dengan santai.
“sayang bagaimana bisa kau hanya menanggapi hal itu dengan santai? Bagaimana jika sebenarnya Wulan juga habis minum? Bukankah Wulan juga di larang untuk mengomsumsi minuman keras? Mengapa kau tak mencari tahu kebenarannya?
“yah kau ada benarnya juga. Dokter Anggara katakan dengan jelas mengapa kau meminum minuman keras begitu saat bersama dengan Wulan? “, tanya Pak Iskandar
Anggara menjelaskan kejadian saat di acara tersebut. Dimana sebenarnya ia hanya menggantikan untuk minum minuman tersebut agar Wulan tak meminumnya. Usahanya sebenarnya begitu baik tapi entah apa yang salah selalu di anggap salah di mata Bu Sherly.
“kau pasti berbohong! Mana mungkin Wulan mau meminum minuman beralkohol. Sayang apa kau pernah melihat atau mendapati anak gadis mu itu minum?
Pak Iskandar mengerutkan keningnya, karena jika dipikir-pikir lagi sampai sejauh ini Wulan tak pernah tertarik untuk minum seperti itu.
“aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki kejadian ini. Karena seperi katamu jika di minuman tersebut sepertinya di campur dengan obat. Akan berdampak besar jika memang betul Wulan meminumnya.
__ADS_1
Orang jahat seperti itu akan ku selidiki. Sepertinya Wulan memang akhir-akhir ini sedang di teror oleh seseorang yang mungkin tidak ia ketahui“, kata Pak Iskandar
“kembalilah bekerja besok karena kau akan bekerja hanya sampai acara Grand final pemilihan putra dan putri fakultas di kampus Wulan”, kata Pak Iskandar.
Anggara menganggukkan kepalanya dan memberi salam kemudian melangkah pergi.
“antar Dokter Anggara sampai depan rumah”.
Ketika Anggra keluar dari ruang kerja ia diikuti oleh sekretaris Pak Iskandar sampai di depan mobilnya.
“aku pergi dulu”, kata Anggara
“tunggu ada yang ingin ku katakan “, kata Sekretaris Pak Iskandar.
“kau mungkin tak mengetahui namaku. Namaku Jonathan kau bisa panggil aku sekretaris Jo saja.
Mereka berdua memang selalu bertemu tapi tak dekat.
hanya sekretaris jo yang mengetahui kehidupan Dokter Anggara. Tapi Anggra bahkan tak mengetahui semua hal sekretaris tersebut. Bahkan namanya saja Anggra mungkin tak mengetahuinya.
Anggara hanya menganggukkan kepalanya
“aku tahu kau orang yang baik. Tapi aku berharap kau bisa mengambil keputusan yang baik untuk masa depan nanti. Agar tak kau sesali nanti”, sambung Sekretaris Jo.
“aku ingin melakukan Wulan seperti biasanya seolah tak terjadi apa-apa.
Bersikap seperti biasanya agar gadis itu tak akan curiga sedikitpun kepadamu. Kau tentu tahu Pak Iskandar ataupun kau pasti mengharapkan hal yang baik untuk Wulan. Untuk itu mari kita bekerja sama sampai akhir Bulan ini”, kata Sekretaris Jo dengan ramah.
“yah, tenang saja. Aku tak akan membuat Wulan merasa terbebani ataupun merasa stress memikirkan hal itu. Aku akan berusaha sampai ia tak mengetahui semua hal yang akan terjadi nanti. Tapi itupun jika aku menyetujuinya, karena faktanya sekarang aku belum mengubah pendirianku “, kata Anggara
“aku harap kau dapat memutuskan hal itu dengan bijaksana “, kata Sekretaris Jo.
__ADS_1
Bersambung