
“sekarang ayo pulang! ", Kata Anggra
dengan kesal.
Anggra tampak begitu marah sehingga ia menarik paksa tangan Wulan hingga gadis itu hanya bisa mengikuti Anggra dari belakang.
Suara dengingan Lift terdengar tanpa menunggu lama Anggra langsung masuk dan diikuti Wulan di belakangnya. Anggra mendorong tubuh Wulan hingga ia tersandar di dinding. Anggra menatap wajah Wulan dengan penuh emosi di wajahnya.
“Aku kecewa kepadamu Wulan! Seru
Anggra tiba-tiba
“A-aku hanya minum sedikit saja kak...
“diam! Aku tak suka melihat gadis polos yang selama ini ku cintai berubah menjadi liar!
Mata Kak Anggra kenapa terlihat sayu begitu? Apa dia mabuk? Tapi bukankah tadi... ah benar juga setengah dari minumanku kak Anggra yang minum. Tapi tunggu dulu dia mengatakan apa tadi? Kak Anggra baru saja mengatakan jika ia mencintaiku?
Senyum tipis terlihat di wajah gadis itu.
Anggra telah memperhatikan setiap gerak-gerik Wulan dari tadi.
“mengapa kau tersenyum?
apa yang sedang kau pikirkan?
" Kenapa disini sangat panas? Dan Kepalaku pusing sekali! " sambung Anggra.
“sama aku juga merasa panas tapi tak sampai berkeringat seperti kak Anggra. Aku rasa itu karena kak Anggra terlalu banyak minum.
Jika dipikirkan lagi wajar bila Anggra merasa pusing, tadi ia telah menghabiskan minuman milik Wulan tadi.
“sebenarnya campuran apa saja yang ada di minumanmu? Mengapa aku merasa seperti melayang Wulan? Kau mencampur apa di minumanmu?
mencampur? maksud kak Anggra campuran buah-buahan di beer tersebut?
Wulan merasa khawatir ketika melihat Anggra yang mulai tersiksa karena sakit kepala yang dirasakan oleh pria itu dan sekaligus dengan siksaan yang di rasakan karena hawa panas di dalam lift tersebut.
“kak Anggra baik-baik saja kan?
Anggra hampir saja roboh, kakinya tak mampu untuk berjalan lagi. Dengan susah payah Wulan pun membantu agar lelaki itu dapat bertumpuh pada tubuhnya. Saat keluar dari Lift Wulan merasa agak susah ketika membopong tubuh Anggra. Pelan-pelan tapi pasti hingga akhirnya mereka boleh sampai di tempat parkiran.
Keringat bercucuran menandakan
jika Anggra sedang tak baik-baik saja.
Anggra sudah duduk di kursi
depan sebelah kiri.
“aku yang akan membawa mobilnya Kak Anggra kumohon bertahanlah.
Tangan Wulan gemetaran ketakutan saat keluar dari area parkir.
“kumohon tenangkan dirimu dulu “, kata Anggra dengan suara serak
“apa? Aku tak bisa mendengar suara kak Anggra dengan benar.
Nafas Anggra terengah-engah, hampir sekujur tubuhnya berkeringat dingin.
kak Anggra pa...pasti akan baik-baik saja.
Wulan ayolah kau pasti bisa! Jangan panik.
Mata gadis itu kini tengah
berkaca-kaca saking ketakutannya tangannya bergetar.
Tarik nafas... lalu buang...
Wulan mencengkeram
kedua tangannya. Hingga tanpa
disadari air matanya jatuh membasahi pipinya saat ini.
Bagaimana jika kak Anggra memiliki penyakit kronis? Atau bagaimana jika sebenarnya dia alergi dengan alkohol dan aku yang bersalah karena telah membuatnya sampai minum. Kau bodoh! Sangat bodoh Wulan !
Segala kekhawatiran yang tidak-tidak
__ADS_1
sedang di bayangkan oleh gadis
itu hingga membuatnya lebih ketakutan setengah mati.
Anggra meraih tangan Wulan hingga membuat gadis itu terkejut.
“ada apa kak?
Dimana yang sakit? Katakan padaku.
Anggra menghela nafas panjang-panjang mencoba untuk mengumpulkan tenaga untuk mengatakan sesuatu kepada Wulan.
“jangan panik....
aku tidak apa-apa Wulan
“apa kak? Aku tak mendengar suaramu.
Bisa di perkeras lagi?
Bodohnya Wulan ia masih terpaku menatap Anggra sampai gadis itu lupa jika ia sebenarnya sedang menyetir mobil.
“focuslah ke depan!!! “, teriak Anggra
dengan keras.
Dengan cepat Wulan langsung mengerem mobil tersebut.
“yah ampun hampir saja.
Maafkan aku kak, untung saja ini di lampu merah jika tidak kita pasti sudah.
Wulan baru menyadari dengan keadaan mereka sekarang
“tunggu kak kita akan kemana? “, tanya Wulan kepada Anggra
Tidak mungkin bukan jika mereka pulang dengan keadaan Anggra yang pusing sakit karena minum minuman beralkohol bisa saja nanti Pak Iskandar akan memarahi mereka berdua.
Anggra tak menjawab perkataan Wulan, ia hanya diam dan memejamkan kedua matanya.
“kak Anggra?
Kita kemana? Tanya Wulan lagi
“kita ke rumah kak Anggra yah?
Anggra tak menjawab
perkataan Wulan
Maaf kak aku tidak punya cara lain,
tidak mungkin kan aku membawamu ke rumah Nanda dan selia.
Jika saja mereka berdua tinggal sendirian aku rasa semuanya tak masalah tapi ada kedua orang tua mereka aku merasa tidak enak jika membawa mu ke rumah mereka. Kemudian jika aku membawamu ke hotel pasti tidak akan apa-apa. Tidak ada yang akan memarahi jika disana nanti
Tiba-tiba Wulan tersadar
yah ampun apa yang sedang ku pikirkan !!
Wulan menggelengkan kepalanya untuk mengusir ide gilanya barusan.
Tak terasa arah jalan tersebut sudah mulai menuju ke rumah Anggra.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya Wulan sampai disebuah rumah yang terlihat sederhana.
Aku rasa ini benar rumahnya kak Anggra kan? Semoga saja.
Jika diingat sebelumnya Wulan datang ke rumah Anggra waktu itu masih sore jadi masih terang tapi kali ini berbeda hari sudah malam hingga jalanan hanya di terangi oleh bantuan lampu.
Mungkin hanya perasaanku yang merasa tempat ini berubah.
Wulan turun dari mobil kemudian membangunkan Anggra yang tertidur.
“kak Anggra bangun. Kita sudah sampai dirumahmu “, bisik Wulan ditelinga Anggra
Anggra pun bangun dan mulai berdiri.
Matanya masih terpejam dan hanya mengikuti langkah kaki Wulan.
__ADS_1
“Kak Anggra dimana kunci rumahnya?
“di pot bunga”, jawab Anggra pelan.
“pot bunga yang mana kak?
Anggra tak menjawab pertanyaan Wulan
***
Wulan berhasil masuk ke dalam rumah Anggra, pelan-pelan ia membantu membopong tubuh Anggra agar lelaki itu dapat berbaring di ranjangnya.
Helaan nafas terdalam karena Wulan merasa legah ia mampu untuk membawa Anggra pulang ke rumahnya di saat lelaki itu sedang sakit.
Setidaknya bukan hanya kak Anggra yang sering membantuku ketika sakit.
Wulan melihat keadaan Anggra yang masih mengenakan kemeja miliknya yang sudah basah karena berkeringat.
Tapi sebelum itu perlahan ia melepaskan sepatu dan kaos kaki dokter Anggra tanpa membuat Anggra terbangun.
Setelah itu ia melirik ke arah kemeja Anggra
Apa aku harus menggantikan bajunya?
Tidak-tidak. Aku rasa itu tidak perlu. Tapi itu tidak baik bagi kesehatannya.
Wulan pun membuka lemari baju Anggra ia kemudian memilih baju tidur milik Anggra. Wulan kini telah duduk di samping ranjang dekat dengan Anggra.
Ia menatap wajah Anggra
karena merasa ragu.
Perlahan untuk meyakinkan dirinya
ia menarik nafas dengan pelan.
Wulan memejamkan kedua matanya dengan erat, perlahan tangannya mulai melepaskan kancing kemeja milik Anggra.
Tanpa di sadari Wulan menahan nafasnya sambil mengigit bibirnya tapi tangan tetap focus pada tujuannya.
semoga saja kak Anggra tidur
semoga saja kak Anggra tidur
semoga saja kak Anggra tidur
gumaman dalam hati Wulan rupanya berlawanan dengan keadaan
Tiba-tiba Wulan sangat terkejut ketika melihat Anggra memegang tangannya.
“apa yang kau lakukan? Wulan?
Mata mereka berdua saling
memandang satu sama lain.
Jantung Wulan seakan mau meledak ketika ia di dapati membuka kancing kemeja Anggra.
“aa.. aku...
Wulan tak mampu untuk
melihat mata Anggra
“aku hanya ingin melepaskan
kemeja kak Anggra yang basah “, kata Wulan dengan canggung.
Anggra menarik tangan Wulan hingga gadis itu jatuh berbaring di sebelahnya.
Anggra membuka kemejanya sendiri dan meleparkannya begitu saja di lantai. Wulan benar-benar terkejut ketika melihat posisi Anggra yang kini berada di atasnya.
gila tubuh Kak begitu bagus dan kekar, otot-otot tubuhnya bahkan terlihat jelas di depan Wajah ku. pipi Wulan langsung berubah bersemu merah. Anggra menyadari jika gadis itu tengah menikmati pemandangan tubuhnya yang indah.
Anggra menatap wajah Wulan dengan tatapan sensual membuat gadis itu merinding apalagi kini tangannya memegang dagu Wulan.
“aku menginginkanmu malam ini Wulan”, Kata Anggra sambil memegang bibir Wulan
Mata Wulan terbelalak seolah tak percaya dengan perkataan Anggra barusan.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa Like, comment, dan kasih point seiklasnya terima kasih