Pengobat Hati

Pengobat Hati
Episode 74


__ADS_3

Sebuah kejadian yang membuat kepercayaan runtuh begitu saja. Sekarang kemanapun Wulan telah di awasi tapi tentu tanpa sepengetahuan gadis itu.


Anggara datang menjemput Wulan untuk berangkat ke kampus.


Lelaki itu bersikap seperti biasa memberi senyum yang ramah seolah tak ada hal yang besar terjadi. Saat dimobil Anggra diam dan hanya focus menyetir.


“kak Anggara? Adaa yang ingin kutanyakan kepadamu “, kata Wulan


“katakan”, jawabnya singkat.


“apa yang terjadi semalam? Tidak maksudku kak Anggara baik-baik saja bukan? Tanya Wulan dengan khawatir.


“seperti yang kau lihat aku baik-baik saja.


Anggara memang terlihat biasa saja, ia terlihat sehat tak seperti dengan Wulan pikirkan jika semalam Anggara di hajar atau di tampar oleh kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Wulan dapat dikatakan bisa melakukan apa saja, melakukan sesuatu tanpa merasa kasihan sekalipun, bahkan tak memandang jika Anggra orang yang dengan melihat dari pekerjaannya untuk menyembuhkan Nona Muda di rumah itu.


“ayah tidak mengancam mu bukan?


Suara Wulan mulai merendah ketika ia mengatakan kata “mengancam”


Tidak mungkin jika Pak Iskandar akan membiarkan begitu saja soal kejadian besar semalam.


Pelanggaran yang mungkin tidak bisa dimaafkan apalagi jika dilupakan begitu saja.


“melihat kak Anggara hanya diam rasanya aku tak perlu lagi menanyakannya lagi.


Wulan tersenyum


“ayah memang hebat.


“tidak, Pak iskandar tak pernah mengancamku Wulan. Darimana kau tahu itu?


Anggra tertawa kecil ke arah Wulan


“Pak Iskandar hanya menegurku semalam. Ia menasehatiku beberapa saat, apa yang baik dan tidak. Ingatlah ayahmu sangat menyayangimu Wulan kau saja yang menutup matamu “, kata Anggara


Wulan hanya diam


“benarkah?


Anggra menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Wulan.


“baguslah. Aku bahagia mendengar kak Anggra tidak apa-apa.


Anggara membalas senyuman gadis itu.


Wulan sebenarnya tahu, jika Anggara berbohong. Pak Iskandar jelas-jelas bukanlah orang yang mudah melepaskan kesalahan yang besar begitu saja. Wulan hanya tak ingin melihat Anggra lebih ditekan lagi oleh ayahnya.


Apapun rencana yang dilakukan oleh ayah aku harus mengetahuinya. Aku sangat yakin jika ia merencanakan hal yang bertolak belakang dengan keinginanku.


Mendengar rencana mengancam Wulan teringat dengan kejadian di masa lalu ketika itu ia masih bisa bersama dengan Mattew.


Semuanya dulu tampak baik-baik saja.


Tapi semuanya berubah ketika Pak Iskandar dan Bu Sherly merencanakan perjodohan antara Mattew dengan dengan salah satu anak pengusaha kaya raya yang tak lain adalah Indri.


Kedua orang tuanya selalu mengancam Mattew tentang penyakit Bu Sherly. Penyakit jantung yang mungkin tak bisa dikatakan tak akan lama hidup, dengan cara begitu Mattew merelakan cintanya demi melihat ibunya bernafas dengan legah.

__ADS_1


Aku tak akan pernah mau kehilangan untuk kedua kalinya lagi.


***


Saat kelas selesai Wulan dan kedua sahabatnya tengah menikmati minuman dingin di tangan mereka.


“apa yang menganggu pikiranmu Wulan? Sejak tadi aku perhatikan kau selalu melamun. Di kelas tadi kau hanya diam dan tak berbicara kepada kami. Katakan ada masalah apa?”, tanya Nanda.


Wulan menghela nafas


panjang-panjang, dan menjerit


“aku merasa khawatir dengan keadaan kak Anggra “,kata wulan


“memangnya ada apa? Tolong ceritakan kepada kami “, kata Selia penasaran.


Dengan Desahan nafas Wulan


pun menjawab kembali


“semalam terjadi sesuatu yang besar. Kak Anggra sekarang dalam bahaya. Semuanya karena kesalahanku. Jika saja aku tak minum semalam kak Anggra pasti tak akan terlibat”, kata Wulan dengan sedih.


“semalam kau minum?


Tapi dimana? Tanya Nanda


“apa jangan-jangan kau minum di acara pesta ulang tahunnya Anggie?


Tanya selia tak kalah penasaran.


Wulan menganggukkan kepalanya


Dengan cepat tangan Nanda telah memukul bahu Wulan dengan keras


“aduh sakit Nan! Mengapa kau memukulku? “,tanya Wulan merasa heran.


“sejak kapan kau belajar minum? Selama kami mengenalmu kau tak pernah menyentuh minuman haram seperti itu! “, kata Nanda dengan kesal.


Wulan masih memegang bahunya karena merasa sakit dengan pukulan Nanda yang begitu keras tadi


“aku hanya minum yang kadar alkoholnya rendah tau! Dan lagi kak Anggara yang meminum habis alkohol yang ku minum semalam. Ia memang begitu kesal kepadaku sampai meneguk minuman ku sampai habis. Padahal aku baru meneguk 2 atau 3 kali.


“lalu apa permasalahannya Wulan? Kau hanya minum alkohol bukan? Tanya Selia.


“kau bodoh!


Kali ini Nanda memukul bahu Selia


“auh sakit Nan


“kau ini bagaimana begitu bodoh! Apa menurutmu Pak Iskandar akan senang mendengar putri satu-satunya ini mabuk-mabukkan? “, kata Nanda


“iya juga sih.


“tidak aku tidak mabuk-mabukkan. Setelah meminum habis Kak Anggara langsung menarik tanganku pulang”, kata Wulan


“ah untung saja kalian langsung pulang”, kata Nanda


“tidak. Saat di lift...

__ADS_1


Kata-kata Wulan menggantung membuat Selia dan Nanda merasa begitu penasaran.


“tiba-tiba saja kak Anggra merasa pusing jadi dia tak bisa mengendarai mobil. Sebagai gantinya aku yang menyetir. Dan kalian tahu bukan keadaan Kak Anggara saat itu sedang tak stabil aku tak mungkin pulang kerumah dengan kak Anggra yang sedang mabuk. Jadi aku membawanya ke rumah Kak Anggra “ , kata Wulan


“terus apa yang menjadi permasalahannya? “, tanya Selia dengan polos.


Wulan terdiam ia menjadi canggung ketika membahas kejadian semalam


“kenapa kau jadi salah tingkah begitu?


“yah wajahmu berubah jadi merah? Jangan-jangan....


Nanda menduga-duga kejadian semalam


membuat Wulan langsung mengatakan kejadian yang sebenarnya dengan cepat.


“tidak! Aku tidak. Maksudku kak Anggara dan aku tak melakukan hal yang diluar batas seperti di pikiran kalian!”, kata Wulan dengan cepat


“terus apa permasalahannya? “, tanya Selia.


“itu karena aku dan Kak Anggra melanggar persetujuan kami sebelumnya. Apalagi ketika kami pulang sudah subuh dan kak Anggra habis minum. Ayah pasti sangat marah kepadaku”, kata Wulan


“aku berharap semoga saja Pak Iskandar tak melakukan sesuatu kepada Dokter Anggara.


***


Sesampainya dirumah Wulan menyuruh Dokter Anggara untuk beristirahat. Gadis itu tahu jika Dokter Anggara tak tak tidur cukup mengingat lelaki itu pagi-pagi sebelum jam 7 sudah datang menjemputnya. Dengan bujukkannya akhirnya Anggara bisa pulang untuk beristirahat.


Wulan mengambil Susu di kulkas sebelum ke kamarnya, tapi ia justru bertemu dengan Indri


“sudah pulang? “, tanya Indri.


apa yang salah dengan ku mengapa aku harus bertemu dengan wanita ini setiap hari? rasanya aku ingin membuat Indri pergi dari rumah ini. Aku sungguh muak melihat nya .


Wulan mengabaikan keberadaan Indri kemudian gadis itu langsung naik ke atas kamarnya.


“hei aku bicara denganmu”, kata Indri dengan kesal


“seperti yang kakak ipar lihat. Aku sudah pulang “, kata Wulan sambil tersenyum.


“aku ingin bicara “, kata Indri


“aku rasa tidak ada hal yang penting untuk dibicarakan di antara kita”, kata Wulan dengan jutek.


“apa yang terjadi semalam? Apa yang menyebabkan sampai ayah marah besar?”, tanya Indri


Wulan terdiam


“tidak terjadi apa-apa”, kata Wulan.


“jangan berulah. Kau harus ingat kau berasal dari keluarga mana. Jadi ku harap kau dapat menjaga nama baik keluarga Iskandar”, kata Indri.


“jangan menasehatiku. Sebaliknya kau harus menjaga baik-baik cucu pertama dari keluarga Iskandar. Karena sepertinya ibu tak sabar untuk melihat bayi lucu tersebut “, sindir Wulan sambil melihat ke perut Indri dengan sinis.


Indri langsung terdiam dan mematung sambil mengigit bibirnya , tangannya bergetar dan tak mampu melihat mata Wulan, seolah perkataan Wulan barusan menyindir Indri yang tak tahu menjaga kondisinya yang sedang hamil.


Ataukah gadis yang menjadi lawan bicaranya ini sudah mengetahui kebenarannya jika sebenarnya ia tak hamil?.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2