
Pagi itu
Wulan mengikuti Anggra dari arah belakang. Ia melihat Anggra sedang sibuk
mengambil es batu yang ada di kulkas.
Tidak biasanya
kak Anggra minum es batu di pagi hari ini, tapi bukannya memberi salep pada
memarku ia malah sibuk dengan minuman dingininnya itu.
“kak Anggra
mengapa kau minum air dingin di pagi hari?Tanya Wulan dengan bingung
Anggra tetap
sibuk mengerjakan apa yang sedang ia kerjakan, tampak ia mengambil beberapa es
batu dan menaruhnya di piring. Sambil menarik tangan Wulan agar mengikutinya ke
atas kamarnya.
“kita
kemana kak? Tanya Wulan
“tenanglah,
ikuti saja apa kataku. Ini untuk mengobati nyamuk yang menggigit lehermu itu”kata
Anggra
Wulan hanya
menurut ketika masuk ke kamar Anggra, mereka duduk di sofa dan Anggra tampak
serius untuk mengompres leher Wulan.
“kak
Anggra apa yang kau lakukan? Tanya Wulan dengan ekspresi heran sambil mundur
menolak ketika Anggra mencoba mengompres menggunakan es batu tersebut.
“aku
tidak sedang demam kak, mengapa kau ingin mengompres kepalaku?
Wulan
kenapa kau begitu polos sih yang beginian saja tidak tahu
“aku
__ADS_1
akan mengompres tanda merah yang ada di lehermu itu “kata Anggra sambil
menempelkan es batu itu tepat di leher Wulan.
Keadaan macam
apa ini? Mengapa sekarang suasana tampak canggung begini? Wajah Kak Anggra
sungguh begitu dekat denganku. Yah Tuhan kenapa sekarang aku sakit jantung?
Wulan
tak bisa focus ketika harus menatap wajah Anggra begitu dekat apalagi jika ia
mengingat soal mimpinya semalam
Apasih
umurku berapa sampai bermimpi aneh begitu.
*Apalagi mimpi
di cium oleh Kak Anggra?
Itu tidak
mungkin, sangat-sangat tidak mungkin
Ingat Wulan
sudah punya pacar. Oh iya benar semalam aku tidur di kamarnya sudah pasti
sampai terbawah mimpi yang aneh seperti itu*.
“kak
Anggra semalam tidur dimana? Tanya Wulan.
“tidur
dikamar ku memangnya kenapa? Tanya Anggra kembali pada Wulan
Apa? Tidak
mungkin kan aku sampai tidur serajang dengan Kak Anggra? Itu tidak mungkin
“Ti...tidur
denganku? Ma..maksudku tidur seranjang dengan Wulan? Tanya Wulan dengan
terbata-bata.
Kalau aku
katakan itu benar, bisa-bisa Wulan akan berpikir yang aneh-aneh.
__ADS_1
“tidak,
aku tidur di sofa “kata Anggra
“bohong,
katakan dengan jujur padaku kak, kau bahkan tak mengatakan dengan menatap
mataku. Kata orang-orang jika kalian berkata sesuatu dan tidak melihat matanya
itu tanda kau sedang berdusta “kata Wulan
“apa sih,
jadi kau berharap dapat tidur bersamaku? Kata Anggra jelas-jelas membuat Wulan
malu dan salah tingkah
“Aa..aku
tidak!! Aku tidak mengharapkan itu tahu, dasar kak Anggra sok tahu! “kata Wulan
kemudian langsung berdiri
“hei mau
kemana sarapan dulu”kata Anggra
Mereka sarapan
dengan biasanya, Wulan sepertinya telah membuang jauh-jauh tentang pertanyaan
barusan karena tak ingin membahasnya karena ia menganggap itu hanya mimpi
konyol yang kebetulan karena mengingat ia tidur di kamar Anggra jadi tak
mengherankan mengapa sampai ia bermimpi hal seperti itu, Tapi lain dengan Anggra
sampai saat ini ia masih mengingat jelas tentang kejadian semalam, setiap
sentuhan ia terima ketika sedang bersama dengannya sungguh tak dapat di
sembunyikan.
*Aku seharusnya
tidak boleh bersikap kelewatan begini, aku tidak profesional jika melakukan
pekerjaanku. Apalagi sekarang aku sudah terlanjur...
Tidak itu
tidak boleh terjadi aku tidak boleh menyimpan perasaan kepada pasienku
Bersambung*
__ADS_1