
Tubuh Wulan gemetar, airmatanya bercucuran jatuh membasahi wajah cantiknya itu. Anggra yang melihat gadis yang ia jaga selama ini sungguh terluka karena dirinya.
"Wulan? Aku tidak bermaksud begitu. Aku sungguh menyukaimu sama seperti kau menyukai ku.
Tapi kata-kata Anggra langsung dipotong oleh Wulan.
"Apa aku bilang Menyukai mu tadi?
Aku mengatakan jika aku mencintaimu kak! perasaan suka dan cinta itu sungguh berbeda!
Hening
Wulan tak henti-hentinya menatap wajah Anggra, Anggra tampak begitu syok mendengar pengakuan Wulan.
"Aku rasa aku sudah tahu dengan jawaban dari Kak Anggra, yah terima kasih sudah mendengar pengakuan konyol ku ini", Kata Wulan kemudian berdiri lalu beranjak pergi dengan penuh kekecewaan tertampang jelas di wajahnya.
Anggra langsung meraih lengan Wulan, karena ia tak ingin Wulan pergi.
"Hei, lihat mataku aku ...aku...
Dokter Anggra terdiam, ia tampak bingung mencari alasan agar Wulan dapat mengerti tentang perasaannya.
"Kau tidak mencintai ku bukan? ", Kata Wulan dengan kecewa.
"Tidak, maksud ku.. maafkan aku Wulan aku tak bisa mengatakan perasaan ku untukmu sekarang", Kata Anggra tampak begitu frustasi.
"Kalau begitu lupakanlah, perasaan ku pada Kak Anggra bukanlah hal yang penting", kata Wulan.
"Aku akan mengatakan tentang perasaan ku kepada mu setelah kau kembali dari karantina. Aku berjanji", Kata Anggra.
__ADS_1
"Kalau begitu aku ingin kak Anggra memberiku jaminan",
"Jaminan? Jaminan apa maksudmu?", Tanya Anggra dengan bingung.
Wulan mendekati tubuh Anggra, sehingga jarak mereka begitu dekat hampir tak bisa di ukur membuat Anggra membelalakan matanya karena merasa terkejut.
Cup..
Wulan? Astaga anak ini
"Aku ingin kak Anggra mencium ku Sekarang", Kata Wulan.
"Bukankah kau sudah mencium ku barusan? Sejak kapan gadis pendiam seperti mu menjadi begitu liar?
"Entahlah, aku merasa sudah pernah belajar dari seorang ahli dalam berciuman", Kata Wulan.
"Siapa?
"Bukankah kau pernah berciuman dengan Mattew?", Kata Anggra.
"Kak Mattew? Kapan ?
"Malam waktu itu, saat Ayah dan ibumu memergoki kalian berdua saat di kamar bersama", kata Anggra.
"Tidak! Waktu itu kami bahkan belum melakukan kontak fisik sekali pun, bahkan berciuman saja belum. Padahal aku sungguh ingin berciuman dengannya sebelum ayah menganggu kami", kata Wulan dengan kesal.
"Anak ini sungguh luar biasa", kata Anggra sambil menjitak Kepala Wulan.
"Aw.. kalau begitu ajarkan aku cara berciuman kak! Agar kalau Angga kembali aku dapat bermain panas dengannya", kata Wulan dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Tidak boleh! Untuk gadis polos seperti kau dilarang keras jika melakukannya", kata Anggra.
"Kak Anggra? Aku ingin kau mengabulkan satu permohonan ku kali ini saja", kata Wulan dengan bermohon.
"Katakanlah, tapi berjanjilah setelah ini kau harus kembali ke kamar mu dan langsung tidur", kata Anggra.
"Yah janji kak", Kata Wulan.
Wulan memberi jeda agar ia dapat di lihat sedang serius ketika memohon permintaannya, ia sangat berharap agar dapat di kabulkan.
"Cium aku kak, berikan aku kecupan yang sungguh tulus dari dasar hatimu paling dalam, tanpa mengingat setiap konsekuensinya, melupakan setiap hal yang menghalangi kita. Satu kecupan yang tulus yang sangat aku harapkan terjadi malam ini sebelum aku pergi karantina besok", Kata Wulan dengan penuh harap.
Mereka berdua saling pandang memandang, kali ini debaran jantung sungguh kuat bahkan mungkin bisa di dengar oleh siapapun.
Deg...deg...
Anggra memegang pipi Wulan, sambil focus menatap matanya dengan sayu.
Hembusan nafas Wulan yang hangat bahkan dapat terasa sekarang. Wulan memejamkan matanya terlena dengan suasana yang ada. Dalam pikirannya mungkin sebuah kecupan sedikit lagi akan menancap di bibir mungilnya itu.
Wajah Anggra semakin dekat dengan wajah gadis itu, kata-kata Wulan terngiang-ngiang menghiasi pikiran Anggra.
Berikan kecupan yang tulus dari dasar hatimu yang paling dalam, tanpa mengingat setiap konsekuensinya, melupakan setiap hal yang menghalangi kita.
Bibir mereka sekarang sudah saling bersentuhan begitu lama. Tak disangka itu tak hanya jatuh sebagai kecupan semata melainkan dapat dikatakan sebagai Ciuman.
Ciuman itu tampak lebih mendalam ketika Wulan mulai membalas bibir Anggra.
Kedua orang yang sedang di mabuk asmara sedang menikmati manisnya malam itu. Karena pada dasarnya jika seseorang sudah merasakan satu potong coklat yang manis tentu akan minta lebih, lebih dan lebih dalam lagi.
__ADS_1
Aku minta maaf Pak Iskandar kali ini aku tak bisa menjaga perkataanku. Aku tak bisa membutakan hatiku, karena pada kenyataannya aku sudah lama mencintai Wulan sebelum ia mencintai ku. Mungkin dengan cara ini dapat membuat Wulan semangat dalam melakukan karantina selama 3 hari kedepan. Aku sungguh mendukung mu Wulan.
Jangan lupa dukung Novelku ini dengan cara Like, Comment dan Point nya yah...