
Makan malam telah selesai, akhirnya para finalis boleh
istirahat kembali ke tempat masing-masing. Kamar Putri tentu terpisah dengan
Kamar Putra, dan perbedaan jarak antara kamar Putri dan kamar Putra cukup
terbilang sangat jauh. Kamar putri lebih jauh masuk kedalam lalu berbelok kiri,
sedangkan kamar putra langsung di temukan karena berhubung dekat dengan posisi
aula pada saat itu. Di dalam ruangan tersebut cukup luas mampu untuk menampung 13
gadis dan di tambah dengan 8 Senior yang menjadi panitia.
Disaat semua gadis tengah sibuk menghapus make up berbeda
dengan Wulan ia justru sibuk mencari jaringan sampai keluar minta izin karena
ingin menelpon. Untung saja dengan alasan ingin menelepon orang tua Wulan dapat
dengan mudah di izinkan namun tentu dengan syarat hanya di berikan waktu 15
menit lamanya.
Tanpa menunggu lama setelah mendapat jaringan Wulan
langsung menghubungi orang yang selama ini ia rindukan yang tak lain adalah
Dokter Anggra. Malam itu terasa dingin Wulan keluar mencari udara yang segar
tentu tak ada yang diluar karena semuanya sedang sibuk di kamar mereka
masing-masing untuk bersiap tidur, hanya penjaga atau yang bertugas menjadi
keamanan yang berjaga dan itupun mereka di area depan . Dengan keadaan yang cukup
membuat nyaman Wulan tak merasa takut meskipun hari sudah malam, karena biasanya gadis itu akan merasa takut jika sedang sendirian.
“Kak Anggra ? sudah tidur? Tanya Wulan dari telepon
“belum, ada apa?
“Aku merindukanmu kak “, Kata Wulan dengan penuh semangat
“yah aku juga sangat merindukanmu “, balas Anggra dari telepon.
Mendengar perkataan Anggra pipi Wulan langsung berubah
menjadi merah merona, ia tampaknya tak bisa menyembunyikan asmara cinta, sudah
seperti anak SMP yang sedang jatuh cinta Wulan tak bisa menahan perasaan yang
ada di dadanya. Ia sampai menutup mulutnya agar tak Berteriak.
Kak Anggra sangat merindukanku? Bukankah tadi aku hanya
__ADS_1
berkata merindukan tidak mengatakan sangat. Ahh rasanya aku ingin berteriak
saking senangnya.
“Aaaa
Teriak kecil Wulan telah membuat Anggra terkejut
“kau kenapa Wulan ?
“tidak kak, aku hanya... hanya melihat tikus tadi, yah tikus kecil dia berjalan di kakiku tadi”, Kata Wulan mencari alasan
“oh begitu rupanya, sekarang masuklah ke kamarmu aku tahu
kau sedang menyelinap keluar bukan?
“Tidak kak, aku tadi minta izin kok, oh iya aku menelepon
tentu ada alasannya! Tadi selama materi berlangsung aku bisa berani maju
kedepan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan tadi...
Wulan tak henti-hentinya menceritakan semua yang ia alami
tadi sampai akhirnya ia sampai lupa jika ia sudah berbicara dengan Anggra lebih
dari 15 menit lamanya.
“Kak Anggra menurutmu aku bagaimana sekarang? Tanya Wulan
dengan nada penuh keraguan.
jangan pernah mengingat apalagi mengungkit hal-hal yang akan membuatmu teringat
dengan masa lalumu yang kelam penuh kepahitan itu. Jangan lupa juga untuk
minum obatmu secara teratur “, Kata Anggra.
“tenang saja kak Aku akan selalu melakukan apapun yang
kau katakan, soal minum obat? itu masalah kecil “, Kata Wulan
“baguslah kalau begitu sekarang masuk ke ruangan tempat
kau beristirahat, dan jangan lupa
sebelum tidur untuk minum obat. Sekarang aku juga akan segera tidur aku merasa
mengantuk dari tadi selamat malam, dan sampai jumpa Wulan"
tutut...
Belum sempat berkata ataupun menjawab Dokter Anggra sudah langsung menutup teleponnya. Wulan tak ingin
menyerah ia mencoba untuk menelepon sekali lagi tapi semua sia-sia dokter Anggra
__ADS_1
rupanya sudah mematikan ponsel miliknya. Wulan hanya bisa menarik nafasnya
panjang-panjang.
Padahal aku belum mengutarakan semua isi perasaanku hari
ini pada Kak Anggra, aku juga bahkan belum sempat mengatakan selamat malam. aku
ingin bertanya juga soal Kak Anggra sudah makan malam ? seharian melakukan apa
saja? Bagaimana kabar kak Anggra dirumah? Aku bahkan belum sempat mengejek kak
Anggra
Tak disangka semua isi hati Wulan ia utarakan dengan
kata-kata membuat orang yang menepuk bahunya itu tentu mendengar semua ungkapan
isi hatinya itu.
“Hah “, Tepuk seseorang membuat Wulan berteriak karena
terkejut.
Aaaaaaaaahhh
“Kak Nando? Ternyata kak Nando rupanya “, Tangan Wulan
refleks memukul keras lengan Seniornya itu.
“maaf kak “, Kata Wulan yang tersadar dengan sikapnya
barusan tak sopan karena telah memukul seniornya apa lagi orang yang berdiri
didepannya ini adalah ketua panitia.
Tangan Wulan langsung di pegang oleh Nando karena ia
merasa kasihan melihat Wulan yang membungkuk sambil memohon maaf
“tidak apa-apa Wulan, aku yang salah tadi karena sudah mengagetkanmu dengan sengaja “, Kata Nando.
Wulan langsung menarik tangannya karena merasa risih ada
orang asing yang memegang tangannya tanpa izin.
“Kalau begitu aku permisi kembali kak “, Kata Wulan kemudian
beranjak pergi tapi pertanyaan Nando langsung membuat langkah kaki Wulan berhenti
“maaf aku lancang tapi aku mendengar sedikit
pembicaraanmu tadi di telepon, mengapa kau harus minum obat Wulan ? Tanya
Nando.
__ADS_1
Bersambung
Maaf yah belum sempat selipkan foto karena bakal lambat lulus reviewnya kalo pake gambar. semoga kalian mengerti yah....