
“Saya bermohon Bapak jangan sampai
memanggil orang tua kami “, Kata Nanda sambil bermohon dengan wajah memelas.
Memangnya kita anak sekolahan sampai
harus di panggil orang tua? Dosen Killer ini
memang berlebihan, tapi meskipun begitu dia cukup tampan benar-benar seperti tipe ku Gumam Nanda dalam hati.
“Aku tidak menyuruh kalian berdua untuk memanggil orang tua kalian, tapi aku hanya memanggil orangtua Wulan untuk datang menemuiku besok “, Kata Pak Leon.
“Mengapa aku harus memanggil orang tuaku?
mereka tak bisa menemuimu karena begitu
sibuk “, Kata Wulan
“Aku ingin kau mempunyai sopan santun jika
sedang berhadapan denganku! Apalagi aku lebih tua darimu “, Kata Pak Leon dengan ekspresi marah.
“Aku pikir kita berdua hanya beda
beberapa tahun. Mungkin umur Bapak hanya 7 tahun di atasku “kata Wulan dengan ekspresi datar.
“Maka dari itu karena aku lebih tua, oh
bukan maksudku adalah aku ini dosenmu di kampus sudah seharusnya kau menghormatiku”, Kata Pak Leon dengan tegas.
“Aku menghormatimu Pak, tapi
mengapa kau marah-marah seperti itu padaku? ", Tanya Wulan tetap dengan wajah datar.
"Gawat Wulan tak memikirkan
Perasaaan Dosen galak di depannya ini, apa yang harus kita lakukan? ", Kata Nanda di belakang sambil berbisik.
“Maaf Pak Leon, Wulan tidak bermaksud untuk menyinggung Bapak, di..dia sedang... sedang tak enak badan jadi berbicara
dengan seenaknya begitu “, Kata Selia sambil mengedipkan matanya ke arah Wulan untuk memberi kode.
“Itu benarkan Wulan?", Kata Selia untuk menyakinkan tentang kata-katanya tadi.
“Tidak, aku baik-baik saja. Mengapa kalian
berbohong soal kesehatanku?", Tanya Wulan dengan polos.
Brak....
Suara Tangan yang memukul meja kerja Pak Leon membuat Ketiga Mahasiswa itu langsung terkejut dan ketakutan.
“Berani-beraninya kalian bertiga mempermainkanku! kalau begitu kalian bertiga besok suruh orangtua kalian untuk datang menghadap", kata Dosen itu dengan keras.
Mereka bertiga pun keluar dari ruangan Dosen tersebut dengan pasrah dengan hukuman yang di berikan oleh Pak Leon.
“Ahhh bagaimana ini? Tamatlah hidupku
jika ayahku harus bertemu dengan Pak Leon”, Kata Nanda.
“Aku juga takut bagaimana nanti jika aku
dihukum? Kata Selia dengan ekspresi takut.
Mereka berdua pun bertanya kepada Wulan
“Wulan kira-kira ibu tirimu akan datang besok? ayahmu tak mungkin datang karena selalu Sibuk mengurus pekerjaan di kantor”, Kata Nanda.
Ia cukup sedih karena tak ada orang yang cukup dekat dengannya untuk mewakili datang besok.
“Aku permisi pulang, ada hal yang harus ku lakukan sekarang “, Kata Wulan langsung beranjak pergi ke area tempat
parkiran mobil di kampus.
“Kira-kira siapa yang nanti akan datang
besok Sel? Aku jadi merasa kasihan
pada Wulan “, kata Nanda dengan wajah sedih.
“Mungkin ibu tirinya yang akan datang, kak Mattew kan sudah menikah mana mungkin Wulan mengajaknya “, kata Selia.
“Tidak mungkin itu terjadi, jika ibu tirinya datang besok mungkin akan
menjadi salah satu mujizat yang paling langkah terjadi selama hidup Wulan”, kata Nanda dengan penuh keyakinan.
Wulan pun mengetuk pintu mobil, ia menemukan Dokter Anggara yang tertidur pulas di dalam mobil.
“Dokter Anggra apakah kau akan terus menemaniku
seperti ini selama seharian di kampus", Tanya Wulan.
“Tentu saja itu sudah menjadi
tugasku” kata Dokter Anggara sambil menyalakan mobil.
“Kalau begitu besok kau tidak akan bekerja di Klinikmu bukan?", Tanya Wulan.
“Iya, memangnya ada apa?", Tanya Dokter Anggara.
“Aku ingin kau datang ke kampus besok bersamaku, aku disuruh memanggil orang tuaku”, kata Wulan
“Mengapa kau sampai dipanggil orang tua? Apa kau berbuat kesalahan yang
besar sampai harus di panggil orangtua? Tanya Dokter Anggra.
“Aku tidak sengaja di tegur karena
berbicara di jam Mata Kuliahnya, dan ia marah padaku katanya aku harus di ajari cara sopan santun kepada
orang yang lebih tua", Kata Wulan.
“Aku tidak menyangka jika kau begitu cerewet di kelas”, kata Dokter Anggara.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya bukan Wulan yang berbuat kesalahan ketika di
kelas tadi, tapi karena tidak ingin
melihat sahabatnya kena masalah
jadi ingin membantu Nanda, mungkin itu yang namanya setia kawan bagi Wulan.
“Mengapa harus aku yang datang ke
kampus besok? Tanya Dokter Anggra.
“Aku tak bisa mengajak Ibu tiriku, seperti
yang Dokter Anggra ketahui jika mereka mengetahui aku berbuat salah tanpa hitungan detik aku tentu akan di suruh belajar di rumah. Aku tak bisa untuk belajar dirumah kau tahu betul kan? Jadi aku mohon agar kau bisa menemaniku untuk datang besok ke kampus untuk mewakili Orang tuaku “, kata Wulan.
“Baiklah aku akan mewakilimu, tapi ada syaratnya “, kata Dokter Anggra.
“Kumohon persyaratan itu bukan hal-hal yang
aneh “, kata Wulan dengan curiga.
“Tentu saja, tenanglah aku Dokter
pribadimu tidak mungkin akan berbuat jahat padamu” kata Dokter Anggra.
Tiba-tiba Aku Merasa curiga dengan syaratnya itu
***
Sesampainya dirumah
“Apa? aku tak mau kak! “, Kata Wulan dengan kesal.
“Ayolah itu hanya sebuah kencan, Ayah mu yang menyuruhku agar kau mau untuk ikut kencan tersebut “, Kata Dokter Anggra.
“Tidak ! aku tidak akan pernah mau, apakah kalian menganggapku sebagai wanita murahan? ", Kata Wulan dengan kesal.
"Mengapa harus membuatkan jadwal kencan seperti itu padaku! Aku.. aku tidak gila!
Mengapa... mengapa..
Hiks..hikss.hikss
Tangis Wulan pun jatuh membasahi
pipinya, Dokter Anggara melihatnya merasa bersalah karena membuat Wulan merasa seperti orang gila, ia kemudian
memeluk Wulan sambil membelai
rambutnya mencoba untuk
menenangkannya.
“Tenanglah ini hanya sebuah kencan biasa, aku tak pernah menganggapmu gila.
Ini hanya sebuah kencan kau pasti akan menyukainya
gadis yang murahan, kau hanya akan berkencan dengan mereka.
Jika kau dapat memilih di antara mereka kau pasti akan senang karena dapat
sembuh dengan cepat di tambah dengan menemukan pasangan hidup mu nanti”, kata Dokter Anggra.
Wulan pun menganggukkan perkataan Dokter Anggra, tapi ia merasa risih karena pelukan Dokter Anggra barusan. Perlahan ia mulai meyakini dirinya untuk boleh terbiasa melakukan sentuhan fisik agar ia akan cepat sembuh.
“Ahh... perutku begitu sakit ", kata Wulan sambil memegang perutnya.
“Kau pasti belum makan kan? ", Kata Dokter Anggra
Seperti sudah mengetahui keadaan Wulan ia
langsung ke dapur mengambil makanan untuk Wulan, tapi sayangnya ia tak menemukan satupun di atas meja itu.
“Bibi Tia sedang pulang kampung kemarin “, Kata Wulan.
“Baiklah aku akan memasak untukmu “, Kata Dokter Anggra.
Benar Dokter Anggra dapat di andalkan dalam
segala hal ia tampak dokter yang mandiri, Wulan melihat segala usaha Dokter Anggara sehingga ia tersenyum kecil di wajahnya. Dokter Anggra kemudian menatap Wulan
“Ternyata kau bisa senyum juga Wulan”, kata Dokter Anggara kemudian melanjutkan Mengupas Bawang Merah tersebut.
Karena mendengar perkataan Dokter Anggra Wulan menjadi salah tingkah.
“Tidak, barusan aku tidak tersenyum” kata Wulan dengan cuek.
***
Hidangan Makanan yang di masak oleh Dokter Anggra cukup menggiurkan apalagi ketika orang merasa lapar, tapi Wulan hanya memasang wajah datar tanpa emosi, Dokter Anggra memandang wajah Wulan ia berharap dapat menerima pujian karena makanan yang ia buat terasa lezat.
“Silahkan cicipi masakanku Wulan “, kata Dokter anggra sambil memberikan Ayam Kecap tersebut di piring Wulan.
Wulan pun mencicipinya ia hanya berekspresi biasa-biasa. Membuat Dokter Anggara jadi sedikit kecewa.
“Masakan Dokter Anggra enak, aku menyukainya “, Kata Wulan spontan langsung membuat dokter Anggra senang saat mendengar ucapannya barusan.
Meskipun aku tak terlalu menyukainya setidaknya aku harus menghargai setiap usaha yang ia lakukan. Maafkan aku kak selalu bersikap seperti robot di depanmu.
Mereka pun menyelesaikan makan siang tersebut.
“Mulai sekarang aku yang akan memasakkan makanan khusus untukmu Wulan “, Kata Dokter Anggra.
“Baiklah, Terima kasih” kata Wulan.
“Sebaiknya kau harus cepat bersiap untuk menghadiri kencan pertamamu", Kata Dokter Anggra
“Apa dimulai hari ini? Mengapa begitu mendadak seperti ini? Tanya Wulan dengan ekspresi Bingung.
“Iya sekarang kau mandi saja dulu, aku juga sudah menyediakan pakaian di atas ranjangmu untuk kau kenakan “,kata Dokter Anggra.
Wulan pun telah selesai bersiap untuk pergi berkencan, Baju Hitam panjang sampai selutut terlihat begitu seksi saat ia mengenakannya, Dokter Anggra menjadi tidak suka saat melihatnya, karena sesungguhnya saat mengenakan pakaian tersebut membuat bagian dadanya terlihat.
__ADS_1
“Apa aku terlihat cantik memakai baju ini?", Tanya Wulan.
“Tidak! kau terlihat jelek saat mengenakan pakaian itu! kau akan merasa dingin jika nanti jalan bersama Pria", Kata Dokter Anggra dengan Jengkel.
“Itu bukan salahku, bukankah Dokter Anggra yang menyuruhku memakai pakaian yang sudah disediakan di atas ranjangku?
Tapi ku rasa baju ini lumayan bagus", Kata Wulan dengan ekspresi Datar.
“Tidak kau terliat tua saat mengenakannya, dan bukan aku yang memilih baju itu, Bu Sherly yang Menyuruh kau untuk memakainya”, kata Dokter Anggra sambil membuka lemari baju Wulan.
Pantas saja ibu tiriku itu memang suka baju yang terbuka seperti ini gumam Wulan dalam hati.
Dokter Anggra mencari satu-satu pakaian yang cocok di kenakan Wulan saat kencan, tentu pakaian yang akan ia pilih adalah yang sopan dan tidak terbuka. Setelah begitu lama memilih ia kemudian menemukan pakaian yang sesuai dengan keinginannya, baju tersebut tampak sederhana tapi nyaman ketika di pakai.
“Pakailah baju yang ku pilih itu “kata Dokter Anggra langsung pergi dari kamar tersebut tanpa mendengar pendapat apapun dari Wulan.
Wulan pun keluar dari kamar setelah mengenakannya, Dokter Anggra merasa terpesona ketika melihat Wulan saat mengenakan pakaian yang ia pilih tadi.
Ternyata kau begitu cantik Wulan, bagaimana bisa gadis sepetimu bisa memiliki gangguan mental Anhedonia. Kau terlalu cantik untuk merasakan kepahitan itu.
Wulan pun sudah berapa kali memanggil nama Dokter Anggra tapi ia hanya terus melamun. Sampai akhirnya Wulan menepuk bahu Dokter Anggra dengan keras.
“Dokter Anggra???? Apa kau bisa mendengar suaraku? Tanya Wulan dengan bingung.
“Kau terlihat sama saja saat mengenakannya, sudahlah ayo kita pergi nanti kita akan terlambat”, Kata Dokter Anggra sambil melihat jam di tangannya.
“Jangan menyalahkanku, itu semua karena kau yang menyuruhku mengganti pakaiannya tadi”, Kata Wulan dengan cemberut.
“Jadi maksudmu kau ingin memperlihatkan tubuhmu yang seksi itu? Tanya Dokter Anggra dengan Kesal.
“Apa maksudmu? Tentu saja aku tak ingin mengenakannya”, kata Wulan.
Mereka pun akhirnya saling diam satu sama lain ketika berada di mobil. Wulan menghela nafasnya karena merasa bersalah.
“Terima kasih” ucap Wulan tiba-tiba.
“Mengapa kau berterima kasih?", Tanya Dokter Anggra dengan ekspresi bingung saat mendengar Wulan berkata seperti itu. Karena jujur ia tak pernah mendengar Wulan berterima kasih padanya. Padahal sebelumnya ia tak pernah mendengar kata yang langkah itu.
Wulan tak menjawab perkataan Dokter Anggra ia juga tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Mengapa aku berterima kasih? Aneh mengapa mulutku spontan langsung berkata seperti itu, mungkin karena di perlakukan baik oleh Kak Anggra jadi aku merasa perlu berterima kasih padanya. Memang sudah lama aku tak mendapat perhatian dari seseorang meski itu sekecil apapun. Yah itu benar, sebelumnya yang sering menegur soal cara berpakaianku memang hanya kak Mattew tapi sekarang....
Wulan Kemudian memandang
Wajah Kak Anggra
Tidak itu tidak mungkin terjadi Kak Mattew tak akan pernah tergantikan di dalam hatiku.
“Mengapa kau menatapku sepert itu? Tanya Dokter Anggra membuat Wulan langsung memalingkan pandangannya ke depan.
“Tidak, bukan apa-apa
***
Mereka pun sampai di Sebuah Cafe Wulan mengikuti Dokter Anggra dari belakang
"Apa kau tahu dimana Tempat kami bertemu?", tanya Wulan dengan Ekspresi bingung.
"Tentu saja, kau tak perlu cemas Wulan ini pasti akan menyenangkan jika kau dapat bersikap baik padanya", kata Dokter Anggra.
Dokter Anggra pun menunjuk sebuah Meja yang berada di unjung Cafe tersebut.
"Itu, lihat di sana. Pria itu yang akan berkencan denganmu Wulan, kau langsung pergi ke sana saja. tempat dudukku disini jika kau perlu sesuatu kau bisa mengisyaratkan padaku atau Mengirimkan Pesan", kata Dokter Anggra Kemudian duduk di mejanya yang sendiri.
Wulan pun ikut duduk bersamanya, membuat Dokter Anggra menjadi heran.
"Mengapa kau Duduk di sini bersamaku? kau harus datang ke meja disana Wulan ", kata Dokter Anggra.
"Aku bingung kak Harus berbuat apa nanti disana, ini kencan pertama ku. Aku merasa aneh jika harus melakukannya sendiri, bisakah kau menemaniku?", kata Wulan Dengan ekspresi bingung.
"Kau hanya perlu tersenyum Wulan, Ketika kau bersama dengannya kau harus tersenyum, jika sedang berbicara dengannya kau harus selalu tersenyum, jangan pernah memasang ekspresi datar tanpa emosi seperti itu. Dan maaf aku tak bisa menemanimu Wulan, jika aku menemani mu itu tak akan dikatakan dengan sebutan"Kencan", coba kau tersenyum
"Senyum? maksud mu seperti ini? kata Wulan
"Tambah lagi senyum, agar terlihat natural", Kata Dokter Anggra sambil mencoba memperagakannya.
Wulan pun memberi senyuman yang lebar seperti Perintah Dokter Anggra, tapi ia hanya terlihat aneh sampai Dokter Anggra pun menyerah.
"Sudah lah kau tampak mengerikan ketika tersenyum seperti itu", kata Dokter Anggra dengan suara kecil.
"Apa?
"Tidak bukan apa-apa Wulan, sebaiknya kau harus segera pergi ", kata Dokter Anggra.
"Tapi aku Takut, aku sekarang gugup Kak", kata Wulan.
"Tarik nafas mu, Tahan Lalu Buang
Yess kamu pasti berhasil", kata Dokter Anggra sambil mendorong Tubuh Wulan agar pergi meninggalkan mejanya.
Wulan pun melangkah Maju mencoba membuang rasa takut yang ia rasakan.
Akhirnya Wulan pun datang dan duduk di Kursi tepat di depan Pria yang akan berkencan dengannya.
Wulan sungguh terkejut melihat Pria yang duduk tepat di depannya itu adalah....
"Pak Leon???
"Wulan???
Mereka berdua dengan kompaknya saling menyebut nama Mereka sendiri.
"Jadi kau yang akan menjadi Wanita kencanku Malam ini? kata Pak Leon itu tampak tak percaya.
"Pak Leon sedang apa duduk disini? Atau apa aku salah duduk ? Tapi kurasa aku tak salah duduk disini ", kata Wulan sambil memandang di arah sekeliling ia takut jika ia memang salah duduk.
Bersambung
__ADS_1