
"Maikel kamu tidak apa-apa?"
"Tuan?"ucapnya bersamaan dengan suara rintihan sakitnya.
"Jangan banyak bergerak! Aku akan menolong mu!"
Merangkul tubuh Maikel yang babak belur, keduanya mulai keluar dari ruang bawah tanah, dihadang beberapa anak buah Baron yang masih tersisa keduanya hanya menatap kearah satu sama lain.
"Tenanglah! Cepat kalian pergi biar diriku yang menanganinya, sebisa mungkin pergilah kurang dari 20 menit dari sekarang paham!"
"Baik tuan, jaga diri tuan baik-baik!"
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar mereka mau pun Alex. akan tetapi Alex dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan setiap musuhnya untuk mengenai dirinya.
Tembakan demi tembakan telah mereka lakukan, akan tetapi karena mereka belum ahli dalam bidang penembakan tidak ada diantara salah satu dari mereka yang berhasil mengenai Alex.
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Alex setelah dirinya harus melawan 5 banding 1.
"Aku bisa m4ti jika tidak segera pergi dari sini!"
Menendang tangan Alex dengan kasar yang akhirnya membuat Alex pun yang sudah mulai kelelahan.
Berhasil terhindar dari serangan pukulan maut mereka, Alex yang tanpa sengaja telah menjatuhkan Pistol yang sedang ia sembunyikan tadi, bergegas Alex pun berlari kearah Pistol, salah satu dari mereka yang juga kebetulan melihatnya ia pun juga tak mau ketinggalan dan secara bersamaan pistol pun tepat berada digenggaman keduanya musuhnya.
"Kamu lihat kan senjata kamu sudah terbuang dari genggaman tanganmu? Jadi dengan cara apa lagi kamu inggin menyerang kita?"tegas penjahat itu dengan tatapan percayanya.
__ADS_1
"Sangatlah lucu! Itu hanyalah senjata kecil, biar pun senjata itu sudah terbuang tapi setidaknya aku masih memakai pelindung yang sengaja aku gunakan ini. Apa kalian tahu pakaian yang aku kenakan ini adalah pakaian anti senapan, jadi percuma aja kalian berusaha menembak ku aku rasa itu tidak akan mempan, jadi kini saatnya kalian mati dan tertembak menggunakan senjata andalan kalian mengerti!"
Mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkan Alex, yang mereka lakukan saat ini hanyalah menunjukkan senyuman sinisnya kearah Alex . Bahkan tidak terdengar satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Melihat hal ini Alex yang sedari melihatnya dengan tatapan tajam ia pun langsung berkata.
"Kenapa kau hanya menatapku dengan tatapan seperti itu. Apa kalian tidak takut dengan ancaman aku ini?"tegas Alex yang kemudian salah satu pun membalasnya.
"Tidak ada kata kalah sebelum peperangan ini selesai! Disini hanya anda sendiri yang berjuang, sedangkan anak buah anda sudahlah pergi jauh, jadi apa mungkin anda akan lepas dari tangan kami yang tak lama akan kami serahkan kepada tuan Baron?"
"Hanya orang bodoh lah yang akan terpancing oleh omonganmu itu! Jika tuan kalian sangatlah pemberani dan kalian takuti, kenapa harus Putranya yang tidak berguna itu yang harus ia serahkan padaku?"tegas Alex.
"Banyak omong!" timpal salah satu yang langsung memukul tepat dada Alex.
Akan tetapi Alex dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan oleh para pelaku untuk mengenai dirinya. Melihat salah satu darimana mengeluarkan senjata tajam berupa celurit yang mampu menebas lehernya, Alex berusaha keras menghindar setiap serangan brutal kawanan sekumpulan anak buah Baron.
"Aw..lenganku!" rintihan Alex dengan menahan menekan lengannya.
"Satu tebasan yang berhasil kau dapatkan? Dan sekali lagi tebasan yang lebih dalam akan kau dapatkan pengecut! Lihat disini hanya ada kau apa perlu kita mengeluarkan seisi yang ada didalam perutmu itu agar kau bisa bikin kami puas? Pastinya tuan Baron akan sangat bangga pada kamu karena kita telah berhasil mengalahkan musuh kebutuhannya ini?"
"Buang jauh-jauh omong kosong kamu! Bagiku luka ini hanyalah luka kecil jadi jangan berharap kalian akan menang melawanku paham!"
"Masih berusaha tegar ternyata!"
"20 menit dari sekarang, selangkah kalian berani menyerang-ku kalian akan melihat granat yang aku pegang ini akan berhasil menguasai seluruh tempat ini! Bahkan lebih parahnya kalian sendirilah yang akan jadi taruhannya apa kalian mau? Apa kalian tidak akan pergi sebelum nyawa kalian hangus ikut terbakar bersama dengan markas kalian ini?"
"Sial! Apa anda sudah gila!"
__ADS_1
"Aku memang sedikit gila! Pergilah karena waktu kalian hanya 10 menit dari langkah kalian saat ini, jika aku mau aku mampu meledakkan satu granat ini yang kemudian yang lain tidak mungkin tidak akan ikut menjalar kalian mau mati disini sekarang!"
"Kita tidak ada waktu! Kita harus segera pergi! Kita harus pergi!"ucap salah satu anak buah Baron terlihat ketakutan.
"Jangan bodoh! Dia hanya berusaha mengelabui kita! Cepat serang dia!"
Tak mau kalah dan terlihat lemah lantaran tak membawa senjata satu pun ditangannya, dengan langkah seribu dan semangat empat lima Alex pun berlari kearah mereka dan menendangnya satu persatu dengan semua tenaga yang ia keluarkan.
Berhasil terhindar dari serangan celurit dari para penjahat. Dan para penjahat yang hanya bisa tercengangnya lantaran senjata yang mereka bawa ternyata sudahlah berpindah ketempat lain.
Tenaganya yang sudah tidak sanggup lagi untuk melawan mereka. Apalagi dengan adanya rasa sakit yang masih ia tahan membuatnya tambah berpasrah, tapi memperlambat waktu maka dirinya yang ikut terjebak dalam markas yang sudah ia pasang peledak aktif.
"Aku harus segera pergi! Waktu dari sekarang hanya kurang 20 menit!"batinnya.
Menyadari jika nasibnya sudah berada diujung tanduk, bahkan anak buahnya sendiri juga tidak mampu menolongnya lantaran mereka juga harus melawan anak buah Baron yang berada lantai 1, membuat Alex menunjukkan wajah lemas dan pasrahnya
Sadar dirinya yang sudah dalam kondisi terpojok ia pun melihat kanan kiri untuk mencari ide dengan cara apa ia bisa berhasil keluar dari tempat ini. Karena dia tahu semakin lama ia mendekam disini, akan tambah semakin besar resiko dia akan celaka lantaran ia sadar jika dirinya sama aja seperti ayam yang sudah terkepung dengan adanya empat buaya yang siap melahabnya.
Tatapannya yang sedari tadi terus berputar seseluruh arah, hingga kemudian tatapannya pun teralihkan sesaat iya melihat gorden jendela berwarna putih yang sangat panjang yang sudah terpasang disela-sela jendela.
Seketika ia pun mempunyai ide, dan tanpa berfikir lagi dengan langkah cepat lan sigap. Alex pun menarik gorden tersebut, alhasil gorden itu pun seketika terputus dari pengikatnya yang hanya mengisahkan kain pandangannya.
Mengikat kembali ujung Gorden dengan melirititkannya ke lingkaran tubuhnya, ditambah lagi mengikatnya kembali disalah satu pembatas pagar anak tanga, ia segera terjun dari ketinggian dua meter dan meluncur kelantai bawah alhasil semua ide rencananya pun berhasil.
BERSAMBUNG.
__ADS_1