
Berjalan secara terseok-seok kondisinya yang mabuk telah berhasil menguasai tubuhnya, pria itu bersama kedua wanita berpakaian seksi terlihat santai hendak memasuki kediaman besar lan mewah.
Sedangkan dari dalam kediaman besar itu pemiliknya lantas sigap langsung membukanya. Setelah membuka pintu kediamannya wajah terkejutnya tidak bisa ia hindari lagi, sesak telah ia rasa ingin sekali air matanya tumpah tapi dengan tabah lan sabar ia menahan air matanya menyaksikan sendiri suaminya pulang bergandengan, saling rangkul merangkul bersama dua wanita saksi.
"Berani sekali kamu kemari membawa dia wanita ****** itu!"
"Ini rumahku! Punya hak apa anda berani melarang ku! Ini rumahku dan akulah yang paling berkuasa disini jadi jangan coba-coba untuk menghalangi kesenangan ku paham!"
"Apa sekarang ini kamu hanya menganggap ku hanya sebatas sampah! Setidaknya jika kamu tidak menghargai ku sebagai istrimu apa kamu tidak bisa menganggap anak yang aku kandung ini sebagai anak kamu apa kamu tidak bisa menyelipkan hati sedikit pun untuknya?"
"Apa anda sudah selesai berbicara? Jika hanya kata itu yang kamu ucapkan berhentilah karena itu semua tidaklah penting, paham!"
"Jika tujuanmu hanya sebatas berbalas dendam entah apa penyebabnya kenapa juga kamu harus menodai ku sampai-sampai mengandung anak ini? Jika ujung-ujungnya kamu tidak mempertanggung jawabkan perbuatanmu kenapa anda membiarkanku tetap hidup jika dengan cara kematian itulah yang anda inginkan!"
__ADS_1
Pergi seenak hatinya dengan mengandeng kedua wanita ****** itu sama-sama memasuki kamarnya. Pergi seolah-olah menganggap jika wanita yang barusan ia tatap tak lebih dari seorang parasit yang tidak sepantasnya untuk dia pandang. Air matanya seketika pudar! Sedari tadi ia tahan berusaha tetap tegar biarpun pada akhirnya ketegaran itu hanya bersifat sementara.
Pov Arabella**
Baru sebulan aku bermimpi aku keluar dari penderitaan ini, tapi kenapa lagi dan lagi mimpi itu telah lenyap! Apa seseorang seperti diriku sangatlah tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan? Kenapa baru sebentar aku merasakan kasih sayang dari seorang pria yang aku anggap tulus mencintai ku? Kenapa lagi-lagi semua ucapan manisnya itu hanyalah sebuah halusinasi-ku! Sayang maafkan Mama! Maafkan Mama gara-gara kebodohan Mama kamu harus ikut menangung kehidupan yang sangat-sangat tidak menyenangkan ini maafkan Mama! Maafkan Mama!"
"Apa anda tidak salah menyuruh kamu untuk menemani anda bersenang-senang seperti ini? Sedangkan anda tau sendiri istri anda sangat tidak menyukai akan kehadiran kita apalagi sampai tidur dalam satu ranjang seperti ini?"
"Kalian tenanglah! Dia hanyalah istriku! Sedangkan sebutan istri bagiku itu tidaklah penting karena sampai kapanpun dia hanya akan jadi benalu dan parasit dalam kehidupanku jadi stop! Stop kalian bersikap tidak enak hati bukankah pekerjaan ini sudah sering lakukan ketika memuaskan para kaum laki-laki ketika lagi kesepian?"
Tanpa berfikir yang kedua kalinya dengan sigap Arabella menyiramkan segelas air panas mendidih tepat kearah ketiganya, suara jeritan seketika hadir menyahut antar ketiganya, kulit mulus putih itu pun seketika memerah hanya tingal melepuh akibat air panas yang barusan Arabella itu siramkan.
"Apa kau sudah gila! Kau ingin membunuh suami mu sendiri!"
__ADS_1
"Diam! Stop berkata seolah-olah aku bodoh yang hanya akan diam melihat suamiku berzina dengan wanita-wanita ****** seperti kalian! Ini hanya permulaan aku bisa saja menyiramkan air mendidih yang lebih banyak lagi agar wajah kalian rusak sampai-sampai kalian tobat untuk jangan pernah mendekati suami wanita lain, kalau kalian bersedia aku juga mampu menyiram air itu jika sampai detik ini kalian tidak segera bangkit dari sini! Pergi dan tinggalkan rumah ini jika kalian tidak mau menyesal pergi! Pergi sekarang dari sini ayo cepat pergi!"
"Maaf sayang aku harus pergi! Istrimu sungguhlah gila jika kita tidak segera pergi bisa-bisa ia bertindak lebih kejam dari ini jadi maaf aku harus pergi, maaf!"
"Sama seperti yang dia katakan aku juga akan ikut pergi! Istrimu sungguhlah gila jadi ini uangmu aku kembalikan maaf aku harus pergi, permisi!"
Melihat keduanya pergi dengan ekpresi wajah ketakutan bersamaan dengan rasa sakit yang keduanya masih ia rasakan. Berbeda dengan Alex melihat Rencananya gagal, ia hanya bisa memberikan tatapan setajam-tajamnya pada wanita berdiri tegak dihadapannya, memberikan tatapan kejam berfikir wanita itu akan takut nyatanya semua usahanya telah gagal! Bahkan tak menunjukkan akan gerak-gerik dari wanita dihadapannya untuk pergi dari pandangannya sekali pun.
"Apa kau sudah puas! Kau bukan hanya menggagalkan kesenangan ku tapi kau juga telah merusak semuanya apa kau mengerti!"
"Ternyata ucapan-ku tak kunjung membuatmu sadar! Aku istrimu apa mungkin ada seorang Istri yang terima ketika suaminya pulang bersama dengan wanita ******? Aku istrimu bahkan sekarang ini aku mengandung anakmu apa begitu sulitkah kamu untuk menghargai ku walaupun hanya sesaat? Ini anakmu mana tangung jawab kamu! Mana!"
Tak memperdulikan perkataan yang barusan diucapkan Arabella dalam hatinya yang paling dalam, tanpa perduli, tanpa memberikan waktu untuknya berbicara, Alex tanpa berkata ia bergegas pergi tak menghiraukan hati istrinya yang sudah terlanjur hancur
__ADS_1
Pergi layaknya seorang maling tanpa memikirkan keadaan disekelilingnya, laki-laki itu pergi tanpa memperdulikan buliran demi buliran air mata istrinya yang entah berapa banyak tetesan itu berhasil terjatuh, rasa sakit yang tidak tertahan membuatnya ingin pasrah tapi nyatanya menyerah tidak menyelesaikan masalahnya sadar jika kehadiran akan adanya janin yang ia kandung sangat membutuhkan akan semangatnya untuk tetap bertahan
BERSAMBUNG.