
Setibanya ia dirumah Arabella masuk kedalam kamar Arabella tak lupa mengunci pintu berlalu duduk di-kursi kerja menyalakan laptop dan tak lupa ia menyambungkan flashdisk yang tadinya diberikan oleh kakek.
Menghadap didepan laptop secara serius, mencari beberapa rekaman video yang dihasilkan dalam isi flashdisk itu satu persatu Arabella mulai melihat rekaman video yang telah dipersiapkan oleh kakek sendiri.
"Rekaman video? Apa maksud kakek menyuruhku untuk menonton rekaman video ini? Aku harus memakai handset sekarang!"
Memasang pada kupingnya, menekan tanda putar tak lama isi dari video mulai menampilkan akan diri kakek sendiri yang terduduk dengan rapi menghadap kearah laptop, video dengan berdurasi beberapa menit itu membuat Arabella semakin bertanya-tanya apa maksud dari isi yang hendak akan diucapkan Kakek, rasa penasaran yang terus saja menghantuinya Arabella terus saja memutar isi dari video itu hinga beberapa menit kemudian ia melihat kakek mulai melakukan pembicaraan yang kakek tujukan pada seseorang yang berhasil memiliki flashdisk ini.
Pov Kakek
Kakek tidak tau apa ucapan yang akan kakek katakan ini akan terdengar oleh cucuku, cucu yang sangat saya sayangi melebihi diri saya sendiri. Umurku sudahlah tidak muda lagi bahkan kapan pun Tuhan mampu mengambil nyawa ku, tapi sebelum semua itu terjadi biarkan aku mengungkapkan akan rahasia besar yang selama ini telah saya pendam sendiri, biarkan cucu ku mengetahui fakta yang selama ini telah saya simpan secara matang-matang.
Aku memiliki dua putri yang sangat cantik, mungkin dibilang aku menjadi ayah yang sangat beruntung memiliki kedua Putri yang sangat cantik, tapi seiring berjalannya waktu kebahagiaan itu sudah tidak akan terlihat lagi setelah salah satu putriku meninggal bersama suaminya dalam tragedi kecelakaan belasan tahun yang lalu, memiliki dua putri tapi aku kehilangan salah satunya aku rasa kebahagiaan akan masih berpihak padaku tapi nyatanya tanpa dugaan-ku itu semua berbeda dari dugaan-ku.
Mengetahui fakta jika kematian Putri-ku ulah dari saudaranya sendiri hatiku seketika hancur, hanya karena iri pada saudara yang lebih mapan. Hanya karena warisan ia telah membuktikan akan sifat aslinya hingga tega mengatur rencana sekeji itu sampai membunuh saudaranya sendiri, berpuluh-puluh tahun aku mencoba mencintai putriku tapi terlanjur sakit hati rasa itu amatlah sulit untuk aku lupakan.
Dan kamu Stella? Jika kali ini sungguh kamu orang yang melihat video ini aku percayakan semuanya sama kamu sayang, kamu seperti almarhum dan almarhumah Mama kamu cantik, tampan, pemberani dan pastinya kamu berani untuk menantang, kakek sengaja mewariskan semua kekayaan ini karena kakek ingin kekayaan kakek jatuh ketangan orang yang tepat tanpa penyalah gunaan kekayaan secara berlebihan.
Sadar jika Putri kakek berani membunuh seseorang dengan kejinya telah menekankan kakek untuk mewariskan semua kekayaan ini untukmu, kamulah yang berhak untuk menerimanya sayang kamulah yang berhak!"
Bahkan rahasia terbesar kakek, disalah satu gudang kediaman kami dibawah terdapat-lah ruang rahasia yang hanya kakek yang mengetahuinya,kakek sengaja membuat ruang rahasia itu karena kakek sadar hidup Kakek terancam oleh putriku sendiri.
"Selama ini aku berfikir kejamnya seseorang hanya ada di TV tapi ternyata dalam dunia nyata aku sama sekali tidak percaya Tante Monika akan setega ini pada Papa kandungnya sendiri? Kasihan Kakek dia sudah cukup tua tapi dia harus menerima kenyataan mendapatkan perlakuan Putri kandungnya seperti ini?"
Suara pukulan terdengar sangat keras, Arabella yang tadinya hanya fokus pada rekaman video ini kini pandangannya dikejutkan adanya suara berisik yang mengganggunya dalam sekejap mata!"
"Buka! Buka! Apa anda tuli sampai ketiga kalinya jika anda tidak keluar jangan salahkan aku kalau aku tidak segan-segan akan memberikan perhitungan keluar! Keluar!"
"Orang itu?"
Melihat Arabella keluar dari ruangan yang ia kunci rapat-rapat. Alex yang sudah tidak tahan lagi ia lantas menarik dan menjambak rambut Arabella. Dan dengan kasarnya ia menyeretnya tanpa memperdulikan rintihan sakit yang dirasakan Arabella saat ini.
Arabella yang tidak tahan lagi ia berusaha untuk berdiri tapi apa daya tenaga yang dimiliki Alex terlalu kuat yang membuatnya sulit untuk berdiri dengan sendirinya.
__ADS_1
"Ingat biar pun kamu adalah Istriku jangan berharap kalau aku akan bersimpati atau pun merasa kasihan padamu karena itu tidak akan pernah terjadi apa kamu mengerti! Dan ingat dirumah ini aku yang paling berkuasa jadi jangan berharap jika anda akan menang karena menghindar dariku paham!"
"Lepaskan aku Lex! Lepaskan aku!"
"Aku paling tidak suka dengan orang yang dengan beraninya menantang ku. Dan anda? Aku sudah memberimu waktu satu hari tapi apa yang kamu lakukan? Kamu dengan berani telah menentang ku jadi rasakan semua ini karena semua ini pantas untuk kamu dapatkan ayo berdiri!"
Mendorong tubuh Arabella didalam ruangan yang sangat sepi dan hanya bertikar selimut kecil, Alex menguncinya dari dalam sana tanpa memberikan ampunan lagi.
"Kamu sekarang paham kan siapa Alex? Kamu pastinya sudah mengerti kan dengan resiko besar apa yang akan terjadi jika kamu sampai berani menantang ku seperti sekarang ini?"
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan apa kamu ingin menghukum-ku atas perbuatan ku ini? Apa kamu ingin membunuhku sekarang agar kamu merasa puas!" tanya Arabella dengan suaranya yang terdengar tersengal-sengal.
"Membunuh itu bagiku akan terlihat biasa karena kamu tidak akan merasa kesakitan lebih lama. Sedangkan menghukum bagiku cara itulah yang tepat untuk kamu dapatkan. Dan kelihatanya itu memang harus aku lakukan."
Menyeret tubuh Arabella secara paksa dan tanpa memperdulikan teriakan yang dilakukan oleh Arabella. Dengan kasar Alex pun membawa Arabella masuk kedalam tempat persembunyian mereka.
"Tuan apa yang terjadi kenapa Tuan pembawanya kesini?" tanya Rico dengan wajah terkejutnya.
"Tapi Tuan, dia kan sekarang sudah jadi Istri tuan? Belum lagi janin yang dikandungnya anak tuan sendiri apa tuan yakin?"
"Rico apa kamu sudah bosan hidup, jika kamu memang sudah bosan aku sendiri yang akan terlebih dulu menghabisi-mu, apa kamu mau?" ancam Alex dengan tegas.
"Ba ...baik Tuan kita bakal melakukannya!"
" Kalian semua manusia kejam dan biad*p apa kalian pikir dengan apa yang kalian lakukan ini, kalian akan menjadi manusia terhormat dan menjadi manusia yang tidak akan tertandingi!"gertak Arabella dengan derai air matanya.
Belum juga perkataan yang diucapkan oleh Arabella selesai, satu tembakan yang terlepas dan tepat mengenai kaki kanan Arabella. Dar*h yang mengalir dengan deras membuat kelima pria bertubuh kekar yang melihatnya. Mereka hanya melihat dengan tatapan yang kosong, tidak ada langkah dari kelima pria itu untuk bersimpati mau menolong wanita yang sudah tidak berdaya dihadapannya itu.
"Ini hanya permulaan bahkan kalau aku mampu aku juga mampu membunuhmu sekali pun seperti dulu Papa kamu membunuh keluarga ku! Keliru jika anda menganggap aku masih punya rasa perduli biarpun kamu mengandung anakku karena bagi Alex tidak ada rasa perduli yang akan ia miliki jadi sebelum bermain-main denganku ingatlah siapa orang yang anda tantang paham!"
"Aku tidak tau apa alasan kamu membenci bahkan menuduh Papaku lah yang membunuh keluargamu karena aku tau papaku orang baik dia tidak akan mungkin membunuh orang tanpa sebab!"
"Omong kosong! Rico!"
__ADS_1
"Iya tuan?"
"Segera obati lukanya ingat jangan sampai ia kabur paham!"
"Baik tuan!"
"Luka nyonya harus diobati jadi duduk dan diam-lah!"
"Pergi!"ucapnya beralih pandangan Rico menatapnya.
"Nyonya jangan gila! Luka anda sangat serius bisa-bisa kalau dibiarkan anda akan kehabisan darah?"
"Terserah! Bukankah keinginan anda dan tuan anda ingin aku mati tapi kenapa melihatku terluka karena ulahnya dia malah memerintahkan mu untuk mengobati! Jika keinginannya ingin aku mati! Biarkan aku kehabisan darah jika aku mati nanti agar dia bisa merasa puas jadi pergi dan tinggalkan ruangan ini pergi!"
"Baiklah jika nyonya masih keras kepala!"
Berlalu pergi meninggalkan ruangan ini, sesekali Rico menatap wanita terluka parah bersimpuh dilantai berlumuran banyak darah, ingin sekali dirinya mengobatinya tapi nyatanya bantuannya mendapatkan penolakan mentah-mentah.
"Kenapa nasibku jadi seperti ini? Seperti inikah rasanya dibenci oleh suami kita sendiri seperti inikah? Maafkan Mama sayang karena Mama kamu harus ikut mengalami semua ini maafkan Mama!"
Menghampiri laki-laki berdiri dengan tegak menghadap kearah jendela, seseorang datang menghampirinya.
"Tuan! Istri anda menolak untuk aku obati apa kita perlu memangil dokter ataukah pakai cara kasar dan paksa?"
"Biarkan! Itu sudah jadi keputusannya jika dia kehabisan darah itu resikonya yang akan ia tanggung sendiri!"
"Terus dengan janin yang ada dikandungan-nya? Apa tuan sungguh-sungguh tidak ada rasa kasihan sedikit pun pada calon buah hati kalian yang sama sekali tidak berdosa itu? Orang yang tuan musuhi hanyalah keluarga dari nyonya Arabella sendiri sedangkan janin itu juga anak kandung tuan sendiri apa tuan sungguh-sungguh tidak merasa kasihan setidaknya pada janin yang dia kandung?"
"Apa kamu sudah bosan hidup! Jika sudah bosan ijinkan aku untuk membunuhmu hari ini apa kamu bersedia!"
"Maaf tuan! Saya salah tidak seharusnya saya berkata seperti tadi maafkan saya! Maafkan saya!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1