Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 22 " Misi berhasil "


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Alex saat ini, Rico dan kedua kawannya yang juga menjadi sasaran amukan mereka pun ikut kewalahan menghadapi mereka semua.


Selama beberapa menit mereka melawan para penjahat, dan berhasil mengalahkannya dengan tangan kosong, akan tetapi secara perlahan-lahan tenaga yang di miliki oleh Rico mau pun yang lainnya seketika mulai memudar, bahkan terlihat dari wajah mereka yang kelihatan sudah sangat kelelahan dengan nafas yang tidak beraturan membuat mereka bertiga bingung dengan cara apa lagi mereka bisa terbebas dari amukan sang Singa ini.


" Aku sudah sangat kelelahan, aku sudah tidak mampu lagi melawan mereka, mereka sangatlah kuat!" ucap Rico dengan nafasnya yang tidak beraturan, sesaat temannya pun menimpali pembicaraannya.


"Iya..mereka sangatlah kuat, terus sekarang apa yang harus kita lakukan, jika kita terus berdiam disini yang ada kita sama aja menyerahkan nyawa kita ke mereka?" balasnya yang mulai kebingungan


Alex yang berhasil terjun dan mendarat tepat disaat para penjahat yang hendak inggin memukul ketiga anak buahnya, pukulan demi pukulan pun tepat mereka dapat sesaat Alex yang meluncurkan dengan beberapa pukulan yang tepat mengarah kearah mereka.


Melihat kejadian yang barusan dilakukan Tuannya membuat ketiganya pun tercengang dan tidak bisa berkata sepatah kata pun lagi.


Melihat mereka yang sudah mulai tidak berdaya, ditambah lagi Alex yang sibuk mengurus para penjahat itu, satu penjahat yang melihat alex ia pun spontan inggin menyerang dari arah belakangnya.


Baru aja mereka mau memukulnya, Rico yang dengan sigapnya ia langsung melemparkan sebuah guci kecil tepat mengenai kepala penjahat tersebut , alhasil orang itu pun seketika ambruk tidak sadarkan diri dengan adanya luka parah yang mengenai kepalanya.


Tergeletak dilantai dalam kondisi darah yang keluar tidak terhenti membuat alex dan ketiga anak buahnya dengan segera mau gak mau mereka harus segera pergi dari tempat ini, jika mereka tidak inggin salah satu dari mereka akan menjadi korban selanjutnya.


"Apa Tuan tidak apa-apa?"


"Tidak, aku tidak apa-apa, tapi dia, cepatlah pergi tinggalkan tempat ini jika kalian tidak mau diantara kita harus ada yang jadi korban selanjutnya, cepat ayo kita pergi.


"Baik Tuan.


Berlari sekuat tenaganya mereka pun akhirnya berhasil menghindari serangan amukan mereka, bergegas Alex pun mengaitkan sebalok kayu pada gagang depan pintu untuk bisa menahan para penjahat agar tidak berhasil keluar dari dalam ruangan.


"Sekarang cepatlah kita keluar, kita sudah tidak ada waktu lagi"

__ADS_1


"Baik Tuan"


"Sial! Didalam Markas kita ada satu pel*dak yang aktif dan jangka waktu yang tersisa hanya tinggal 5 menit menit, kita harus segera meninggalkan tempat ini jika tidak inggin kita akan m*ti!"


"Jadi kamu orang yang menggunakan peledak itu?"tegas anak buah dengan raut wajah marahnya.


"Iya, memang aku orang yang sudah memberi peledak itu? Bukankah tadi aku sudah mempertegas kepada kalian?"balas Alex. dengan menunjukkan senyuman sinisnya.


"Dasar kurang ajar!"


"Buka pintunya ...Buka!"


Menarik kembali balok Kayu yang tadinya jadi penyangga. Gerombolan orang yang tadinya terjebak dalam nasib kemalangan, semuanya akhirnya pada berhamburan keluar membebaskan diri dari waktu menit per menit. Setelah jarak mereka lumayan jauh dari tempat markas tersebut, tiba waktunya peledak itu pun meledak secara dahsyat sesaat menghancurkan semua yang ada disana.


Ledakan hebat telah menggema dengan kenyangnya. Suara yang sangat kencang, bahkan tanah serasa ikut bergetar layaknya gempa terdengar dengan jelas, sesaat.


"Berterima kasihlah padaku karena diriku masih punya hati menolong kalian? Bersyukurlah diriku masih punya rasa kasihan akan keluarga yang menanti kepulangan kalian, paham! Cepat kita pergi sebelum tempat ini akan ramai didatangi polisi!"


"Baik tuan!"


Setelah Alex dan sekumpulan anak buahnya berhasil membereskannya. Alex dan Rico akhirnya memasuki mobil, Rico yang pada saat itu sedang fokus dengan setir kendaraan yang ia sedang ada pegangannya, ia tidak bisa berbohong jika pandangannya tidak bisa teralihkan dengan adanya darah segar yang terus keluar dari lengan kanan tuannya akibat terkena tebasan celurit tadi. Terbalut dengan kain rupanya tidak membuat darah segar itu berhenti keluar.


Melihat raut wajah Alex yang sangat terlihat menahan sakit, Rico menghentikan laju kendaraanya ditepi jalan.


"Kenapa kamu berhenti?"


"Luka tuan sangat parah apa tuan serius tidak ingin kerumah sakit?"tanya Rico nampak panik.

__ADS_1


"Segera lajukan kembali kendaraan ini. Aku tidak mau kerumah sakit, jika anda terus memaksa keluarlah!"


"Tidak Tuan! Saya akan melanjutkannya kembali!"


"Baguslah!"


Setibanya Alex dikediaman Stella yang terlihat sangat mewah. Wajah pucat berbarengan dengan rintihan sakit tidak bisa ia hindari lagi, beberapa orang sedang menyantap menu makan malam beralih semuanya fokus pada arah Alex yang setibanya datang.


Arabella tak sengaja melihat raut wajah Alex memucat rasa penasarannya seketika menyertainya. Berbarengan tangannya yang mengepal serasa sedang menahan sakit.


"Alex kamu sudah pulang? Kamu tidak ingin bergabung dengan kita?"


"Iya Kek Alex sudah pulang! Kebetulan tadi Alex sudah makan siang, Alex juga masih belumlah lapar jadi apa Alex boleh naik keatas?"


"Baiklah baiklah kamu terlihat sangat kecapean?"


"Iya Kek!"


"Ada apa dengan pria kejam itu? Apa dia sedang terluka?"batin Arabella.


"Oh iya Kek Stella sudah kenyang jadi Stella ijin kembali kekamar ya?"


"Iya sayang suami kamu sudah pulang jadi hampiri dia?"


"Baik Kek!"


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2