Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 7 " Kekejaman "


__ADS_3

Disisi lain lirikannya melirik kearah satu anak kecil berumur 8 tahunan yang menangis dengan membungkam mulutnya menyaksikan sendiri tragedi brutal yang dialami kedua orang tuanya.


Seakan-akan memberikan isyarat jangan mendekatinya dengan cara dirinya menggelengkan kepalanya, tangisan sedu tak terbendung lagi pada anak kecil yang sudah tak mampu melihat nasib tragis dari kedua orang tuanya.


Belum berhenti sampai disitu, pria kejam itu lantas membopong tubuh Cassandra yang sudah hampir tak punya tenaga lagi untuk berjalan. Dirinya langsung menjatuhkan diatas lantai.


"Hentikan! Hentikan aku mohon!"ucapnya berbarengan dengan rintihan sakitnya.


"Apa kamu menyukai akan tindakan yang barusan aku lakukan tadi? Ataukah kamu ingin minta tolong, kepada siapa kamu ingin meminta tolong. Apa kamu lupa nyawa kamu itu sudah berada diujung tanduk apa kamu berharap bakalan ada seseorang yang akan menolong mu. Tidak, itu tidak akan mungkin terjadi. Baiklah kelihatannya kamu sangatlah kesakitan, untung aku sekarang lagi baik gimana kalau aku bantu kamu untuk melepas rasa sakit itu dengan menerjunkan kamu langsung diatas lantai kedua dari rumah kamu ini? Kamu pastinya semasa kecil dulu sudah sering bukan main perosotan dan sekarang giliran masa dewasa kamu aku akan bantu kamu main perosotan lagi, jadi selamat dan selama tinggal dari dunia ini. Salam dariku selamat tinggal.


"Jangan...aku mohon jangan om...jangan!"


Suara minta tolong dan berbarengan dengan rasa sakit lan perih yang menyertainya membuat Cassandra tidak kuat lagi untuk menahan semua ini.


Tubuhnya yang seketika dirangkul olehnya. Dan tak berapa lama penjahat melempar tubuh Cassandra dari lantai atas layaknya melemparkan sebuah sampah pada tempatnya.


Pyar...


Pyar..


Terjatuh dari atas ketinggian dan terhenti tepat diatas meja kaca yang posisinya tepat dibawahnya membuatnya hanya bisa berpasrah.


Apalagi tusukkan yang ia dapatkan membuat nyawa Cassandra tak lagi terselamatkan. Apalagi setelah tubuhnya mengenai kaca-kaca dari meja makan membuatnya ia kehilangan nyawanya dalam sekejab mata dalam keadaan tengkurap dan darah yang mengalir hampir sekujur tubuhnya.


Sedangkan dari kejauhan Alex melihat langsung adegan pembunuhan yang dialami oleh orang tuanya. Bahkan tindak pemerkos44n pada sang Mama telah ia lihat dengan mata tel4nj4ngnya.


Air matanya yang tak henti-hentinya menetes, ditambah lagi sekujur tubuhnya yang seketika gemetar membuat anak kecil itu takut jika pelaku akan melihat dirinya. Langkahnya ingin sekali menolong Mamanya, tapi sadar Mamanya memberikan kode jangan mendekat membuat anak kecil yang tidak berdaya hanya pasrah melihat Mamanya ikut menjadi korban dalam keganasan sang penjahat.


Dirinya yang tak bisa membendung air matanya dan ketakutannya hampir saja ia akan berteriak. Dan dengan tepat waktu, Alex langsung membungkam mulutnya bersamaan dengan air mata yang terus saja bercucuran tanpa henti.


Penjahat yang mulai mengetahui akan keberadaan anak kecil tersebut. Dengan sigap Richard pun berlari.


Sedangkan pelaku yang mengetahuinya ia hanya tersenyum sinis. Berjalan perlahan sembari pisau yang ia pegang ia dentum'kan pada tembok yang akhirnya bersuara cukup menyeramkan.

__ADS_1


"Ayo anak manis kemari-lah apa kamu tidak mau main bersama dengan om ini," ucapnya dengan suara untuk menakutkan mereka.


Ketakutan yang mereka rasakan membuat mereka bingung dengan siapa mereka akan meminta bantuan. Sedangkan penjahat mulai mengetahui akan jejak yang dilakukan dua anak tersebut.


Air mata yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir dari kedua kelopak mata membuat Alex yang hanya mampu menangis dengan tubuhnya yang menjadi gemetaran..


Bersembunyi didalam almari tempat yang biasa digunakan untuk menaruh pakaian agar rapi. Alex yang merasa panik setelah ia sadar jika pelaku berhasil mengikutinya dan mengetahui tempat persembunyian mereka saat ini.


Beribu-ribu doa mereka ucapkan agar selamat dari pembantaian ini. Dan nasib baik akhirnya berpihak pada mereka setelah pelaku yang nampak panik sadar akan tindakannya yang berhasil diketahui oleh polisi yang tiba-tiba menyergap wilayah ini.


"Sial polisi datang aku harus segera melarikan diri," ucapnya yang terus berlari menjauh dari ruangan ini.


FLASHBACK


Setelah terjadinya pembantaian pada keluarganya. Anak kecil yang bernama Alex Andreassa Wijaya, laki-laki berumur 30 tahunan itu pun telah berubah menjadi Pria tampan, gagah perkasa yang siap untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuanya yang dengan keji mereka dibunuh tepat dihadapan matanya sendiri.


Memandang foto dalam dompet berisi foto kedua orang tuanya tangan pria itu seketika mengepal. Bahkan raut wajahnya sudah menunjukkan tatapan yang sangat tajam dan siap untuk melancarkan aksinya pada para pembunuh beberapa tahun yang lalu yang telah tega menghabisi nyawa kedua orangtuanya tanpa rasa ampun.


"Mama ... Papa ... Tunggulah Alex kini saatnya dendam itu harus aku balaskan. Kematian harus dibayarkan dengan kematian orang yang dulu telah tega menyiksa kalian kini giliran aku lah yang akan melakukan tindakan itu pada mereka. Aku akan buat jasad mereka berlumuran banyak darah jadi tunggulah aksi putramu ini


"Ada apa?"jawabnya dengan tegas.


"Tuan saya sudah mendapatkan identitas Pria yang diduga ikut membantu kelompok dari Baron. Dan saat ini kami sudah berhasil mengurungnya sekarang apa yang akan tuan lakukan apa kita harus menghabisinya segera mungkin?"


"Dia orang yang sudah membuat kedua orang tuaku tiada. Jadi akulah orang yang harus membunuhnya tepat ditangan-ku jadi biarlah aku yang melakukannya."


"Baik Tuan.


Ruangan yang terlihat redup tanpa adanya sinaran cahaya yang cerah. Seorang Pria terduduk diatas kursi dengan kedua kaki dan tangannya yang sudah terikat dengan kencangnya.


Pandangan pria itu cukup buram setelah beberapa saat kesadarannya hilang, ketika kesadaran itu mulai kembali ia dikejutkan dengan adanya seorang pria tampan yang tangannya sudah terdapat pistol yang sudah siap untuk dilayangkan kearahnya.


Keringat dingin seketika hadir dalam benak pikirannya, kacau, cemas itulah gambaran yang tepat untuk ia dapatkan berhadapan dengan Pria yang sedari tadi memberikan tatapan tajamnya seketika membuat bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


Berlalu pria tampan itu mencengkram rahang pria yang kondisinya sudah terikat.


"Anda pastinya tau kan siapa saya? Di ruangan ini hanya ada aku dan kau. Pastinya anda sendiri tau kan apa yang terjadi ketika anda sudah berhadapan dengan saya?"


" Rico bisa ambilkan pistol kesukaan ku aku rasa Pria itu berhak melihat seperti apa bentuk pistol yang tak akan lama akan menewaskannya,"ucapnya.


"Tuan ampun, maafkan saya ... Maafkan saya ampuni saya Tuan... Ampuni saya ...."


"Ampun kamu bilang! Kamu menyiksa kedua orang tuaku dengan kejinya kemudian kamu menembaknya hinga darah yang tidak bisa terhenti dari kedua tubuh orang tuaku. Bahkan pemerkosaan yang anda lakukan pada Mamaku diruang tamu itu dan juga melemparnya dari atas ketinggian pastinya anda masih mengingatnya kan? Ataukah anda berpura-pura tidak ingat agar aku mengeluarkan otak anda didalam kepala anda ini dengan begitu anda akan ingat?


"Tuan! Saya akui saya salah. saya sengaja melakukan semua itu atas dasar suruhan! Itu semua suruhan dari Tuan Baron ampuni saya Tuan! Ampuni saya, saya mohon!"


"Kata ampun memang mudah bagi semua orang untuk mengucapkannya, tapi sayangnya kata maaf tidak akan berguna pada telingaku. Anda sudah membunuhnya jadi sekarang giliran aku akan membunuh-mu dan menjadikan tubuh utuh mu ini menjadi terporak-poranda jadi paham kan sekarang!"


"Saya mohon ampuni saya ampuni saya tuan.


"Cepat bawa dia ke kandang yang sudah saya siapkan. Disana sudah ada buaya peliharaan, jadi biarlah dia menjadi santapan para predator itu cepat Rangga lakukan perintah saya!'


"Baik Tuan saya akan melakukannya ayo cepat jalan! Ayo jalan sekarang!"


"Saya mohon ampuni saya Tuan ampuni saya.


Tubuhnya yang seketika gemetar, beberapa kali ia meminta ampun tapi ucapannya hanyalah angin yang mudah terbawa entah arah mana. Menyeret tubuh pria tidak berdaya dengan paksa lan kasar.


Dengan spontan tubuh itu dilempar ke kandang yang sudah terdapat 10 ekor buaya yang sudah menanti akan makan siangnya. Kerumuman buaya yang sudah berhamburan memporak-poranda kandang, mencabik-cabik tubuh manusia itu hingga tidak terbentuk lagi akan tubuh manusia pada awalnya.


"Gimana apa semuanya beres? Tidak ada jejak yang tertinggal kan?"


"Tuan tenang saja semuanya berjalan sesuai rencana. Tubuh Pria itu sudah dimakan habis oleh 10 buaya peliharaan Tuan jadi Tuan gak perlu cemas semuanya aman terkendali!"


"Baiklah saya suka kerja kamu!"


"Baik Tuan!"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2