
"Apa kamu akan terus melihat ku ketika tidak berdaya seperti ini?"
"Kamu salah! Aku tetap disini karena ada hal penting yang ingin aku beritahu pada anda?"
"Beritahu? Soal apa?"
"Aku merasa di-perusahaan PT. Antariksa grup ada sesuatu yang salah? Misal pengeluaran disana setiap bulan tidak masuk akal, memang secara bukti ada beberapa notif nota yang tertera jika pengeluaran itu untuk biaya itu semua, tapi aku curiga ada pihak lain yang korupsi pada dana perusahaan Stella?"
"Aku sudah kirimkan beberapa foto pada WhatsApp anda yang menurutku kurang masuk akal, jika dugaan anda sama seperti diriku aku rasa kita harus menyelesaikan masalah ini dengan segera!"timpal Arabella.
"Baiklah aku tidak mau berfikir keras kali ini, jika anda memang punya tugas segera selesaikanlah aku ngantuk!"ucap Alex.
"Sebenarnya dengan siapa aku berhadapan saat ini? Siapa laki-laki yang ada dihadapan-ku ini apa segitu tidak pedulinya dia!"batinnya dengan tatapan Arabella yang masih fokus menatapnya.
"Kenapa anda masih menatapku? Apa diriku harus mengancam mu! Dengan begitu kau akan menurut!"
Tak peduli akan ucapan yang barusan dilontarkan pria yang jelas-jelas sudah menjadi suaminya. Arabella yang terlihat merasa capek, dirinya berlalu mendekati ranjangnya, merebahkan tubuhnya dan memutuskan untuk tertidur.
Pagi yang cerah nampaknya telah menampakkan sinarnya. Arabella yang baru membuka kedua matanya, tatapannya beralih pada pandangan seseorang yang dengan serius mengerjakan entah suatu yang sudah memenuhi seluruh meja.
"Apa yang anda lakukan?"tanya Arabella beralih pandangan seseorang itu beralih meliriknya.
"Kita ada tugas baru!"balasnya lalu dirinya beranjak dari tempat duduknya.
"Apa ini mengenai Perusahaan Stella itu?"
"Bisa dibilang seperti itu!"balasnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah!"
Keduanya berada didalam mobil, mengenakan pakaian yang sedikit berantakan, rambut pendek sebahu yang dilakukan Arabella tidak membuat orang-orang yang mengenalinya akan tau siapa dia sebenarnya.
Sedangkan Alex dengan penyamaran kumis tebal lan rambut sedikit berantakan tak akan memungkinkan bagi orang yang kenal dengannya akan tau jika aslinya dia adalah Alex.
"Apa kau sudah siap?"tanya Arabella.
"Iya diriku sudah siap, tapi kira-kira apa rencana anda ini akan berhasil. Anda menyuruhku menyamar jadi salah satu official gril di Kantor Stella, sedangkan kamu mengenakan seragam kantor layaknya seorang karyawan baru yang hendak akan melamar kerja di kantor ini.
Duduk disamping beberapa karyawan yang hendak ingin melamar kerja. Pandangannya fokus pada satu wanita yang menurutnya memiliki sikap tidaklah beres. Dan baru beberapa menit Alex duduk disebelahnya wanita itu memandang Alex dengan tatapan sinisnya. Memperhatikan dari ujung kaki sampai kepala, wanita itu pun akhirnya buka suara.
"Anda? Apa yang ingin anda lakukan apa anda ingin melamar kerja juga di perusahaan besar ini?"tanya wanita itu berlalu Alex pun menatapnya.
"Iya saya memang ingin berniat ingin melamar kerja disini, memangnya kenapa mbak? Apa ada yang salah dengan saya? Saya kan sudah mengenakan pakaian yang rapi apa seseorang seperti saya masih tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan ditempat besar seperti ini?" tanya Alex dengan ekspresinya menundukkan kepala seolah-olah ia sedang bersedih.
"Hey sadarlah, ini itu perusahaan besar. Bahkan para karyawan yang kerja disini tidak lagi main-main mereka langsung keterima hanya karena mengandalkan orang yang terlahir dari golongan kaya. Sedangkan kau? Apa yang kau banggakan dari dirimu ini, bahkan kemeja yang kamu kenakan aja sudah terlihat kamu itu orang yang tidak mampu dan dekil jadi pastinya kamu akan nyesel nanti, jadi sudahlah dari pada nanti kamu akan nangis lebih baik kamu menyerahlah karena disini tidak akan ada karyawan yang modelnya seperti anda. Dan pastinya kamu tidak akan keterima disini pergilah," usirnya dengan mendorong Alex hinga terjatuh.
"Maafkan saya mbak kalau saya sudah membuat anda marah. Tapi saya tidak akan menyerah kala rezeki seseorang berbeda-beda. Ada juga orang yang ucapannya terlalu tinggi dialah orang yang nantinya akan menyesal karena omongan itu sendiri yang terlalu menyombongkan dirinya seolah-olah dialah yang terhebat..
"Apa maksud anda. Jadi anda ngatain saya?" balasnya dengan tatapan geramnya.
"Hey kamu itu kalau jalan punya mata gak sih, disini jalanan masih lebar kenapa kamu menumpahkan air ini kebajuku apa kamu tahu berapa harga pakaian yang saya kenakan ini,"bentak wanita itu sesaat ia sadar seseorang menumpahkan air pada pakaiannya.
"Berapapun mahal harga yang anda kenakan nyatanya tidak akan mampu membuat diri anda terlihat keren," balas seorang wanita yang kemudian ia menyiram kan kembali air itu pada wanita tersebut.
"Apa kamu bilang!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Sayang sudahlah jangan ladeni wanita stress ini?"
"Sayang...oh jadi laki-laki ini adalah suami kamu pantesan kalian berdua sama-sama kampungan, dan orang-orang miskin.
"Jaga bicara anda jika anda tidak mau akan menyesal atas ucapan anda sendiri. Jadi aku minta cepatlah anda minta maaf padanya jika anda tidak mau nangis nanti, cepat!" gertak Alex tapi tak dihiraukannya oleh wanita itu.
"Apa maksud kamu menyuruhku untuk minta maaf padanya? Memangnya apa salahku?"balas Wanita itu dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Ada apa ini kenapa pada ribut-ribut apa ada masalah Carla," tanya salah seorang berjas rapi yang kemudian menghampiri mereka.
"Ini Om dua orang kampungan ini sengaja mencari masalah denganku. Bahkan mereka juga dengan beraninya menghinaku dihadapan banyak orang, jadi om cepatlah pecat dia! Om kan seseorang yang paling dipercaya oleh Tuan Arlan jadi cepatlah pecat dia om! Pecat dia!"
"Kalian? Sejak kapan kalian bekerja disini dan kenapa aku baru lihat kalian sekarang apa kalian pekerja baru di perusahaan ini?"
"Maafkan kami tuan, kami akui kami memang sangatlah salah tapi kami mohon jangan pecat kita saya mohon, jika kita dipecat mau makan apa anak kami nanti saya mohon jangan pecat saya...saya mohon," mohon Arabella beberapa kali ia menundukkan kepalanya.
"Kamu lihat kan Carla, Om belum apa-apa laki-laki culun ini sudah terlebih dulu meminta maaf dengan om jadi sudah kamu tidak perlu nangis lagi ya.
"Iya Om.
"Dan kamu? Kamu dengan beraninya telah membuat keponakan saya ini nangis dan menerima malu didepan mereka semua. Sedangkan kalian? Kalian hanyalah orang-orang miskin yang mungkin hanya akan mengandalkan kerja disini untuk bisa menahan lapar tapi kenapa kalian sok hebat yang dengan beraninya mempermainkannya tanpa tahu resiko apa yang akan terjadi nanti. Tuan Arlan adalah seseorang yang sangat mempercayai saya. Dan sayalah seseorang yang dapat kepercayaan untuk memegang kendali perusahaan ini dan kalian? Dengan beraninya kalian menganggu dia jadi sudahlah pergi dari sini karena perusahaan ini tidak akan mau menerima seseorang dekil dan miskin seperti kalian. Jadi cepat pergi!"usir pria itu dengan mendorong Alex hinga terjatuh bersimpuh dilantai.
"Sekarang saya sadar jika perusahaan ini hanya akan mengendalikan orang-orang kaya saja. Apa dengan adanya orang kaya disini perusahaan akan maju tidak kan. Dan darimana aturan seperti ini dibuat. Bahkan anda? Anda ini hanyalah orang kepercayaannya jadi mana mungkin anda berlagak sok hebat dan menjadi penguasa atas tindakan anda ini. Apa anda tidak takut jika Nyonya besar akan tahu seperti apa cara kerja anak buah kepercayaannya di perusahaan ini? Apa anda tidak takut jika anda akan dipecat di perusahaan ini?" tantang Alex yang kemudian bangkit. Sesekali ia menarik kera kemeja laki-laki itu dan memberikan senyuman sinisnya.
"Anda sangatlah lancang dan beraninya anda berkata seperti itu? Rasakan ini,"
__ADS_1
Satu pukulan hampir saja mengenai wajah Alex. Akan tetapi dengan sigap, Alex menghalaunya sekaligus mencegah tangan pria itu untuk menyentuhnya.
BERSAMBUNG.