Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 46 " Apa Arabella akan selamat "


__ADS_3

Pada dasarnya setiap seseorang punya hak untuk berubah, entah menjadi baik atau pun malah sebaliknya berubah menjadi jahat ketika sadar jika orang yang kita sayangi nyatanya tidak pernah mendukung atau pun perduli terhadap kita.


Orang yang aku sayang semuanya telah pergi! Kakek, biarpun dia bukanlah kakek kandungku tapi setiap kali bertemu dengannya aku merasa sangat bahagia bisa merasakan punya seorang kakek yang sayang dan perduli padaku, tapi entah Tuhan yang tidak adil, lagi-lagi kebahagiaan itu telah Tuhan rebut yang kesekian kalinya. Memiliki suami tapi layaknya tidak seperti punya suami lantaran dirinya telah menganggap jika kita tidak ada jadi apa gunanya kehidupan ini.


Panas lan teriknya matahari telah menjadi saksi akan kemalangan hidup pada gadis cantik itu, hidup seorang diri tanpa rasa tulus yang diberikan pasangan apakah ia mampu melewati semua cobaan yang amat rumit ini.


Berjalan seorang diri, jalanan yang sepi tak terlihat kendaraan saling berlalu lalang yang melintasi jalanan ini. Tak lama hadirnya mobil hitam yang melintas dan memberhentikan kendaraannya spontan mampu menyadarkan akan bahaya yang akan ia timpa.


"Siapa kalian?"Tanpa berfikir banyak, kedua pria itu lantas membungkamnya tak membutuhkan waktu lama obat bius yang terdapat pada sapu tangan itu pun mulai bekerja mengakibatkan kesadaran Arabella menghilang.


Dilain tempat disalah satu ruangan pria bertubuh kekar hanya fokus pada Beberapa pekerjannya tak lama hadirnya seorang pria yang tiba-tiba mendekat membuyarkan fokusnya.


"Rico ada apa?"


"Maaf tuan bukan maksud saya ingin menganggu anda, barusan anak buah tuan melihat nyonya telah diculik, tidak tau siapa dalang dibalik semua ini tapi yang jelas pelakunya bukanlah anak buah Baron apa kita perlu menyelematkan nyonya segera mungkin!"


"Tidak perlu! Saya tau siapa seseorang yang telah menculiknya, terluka atau pun tidak itu bukanlah urusanku, jika dia masih memikirkan janin dan nyawanya dia juga pasti akan bilang secara jujur rahasia apa yang telah disembunyikan Kakek, termasuk pembicaraan apa yang telah kakek ucapkan padanya sehingga Tante Monika berani pakai cara kasar seperti ini, jujur kali ini aku ada di pihak Tante monika karena wanita itu bukanlah siapa-siapa, dia juga bukanlah cucu kandung yang selama ini Kakek pikirkan jadi biarkan masalah ini Tante Monika sendiri yang mengatur sebaik mungkin aku tidak perduli!"


"Baiklah jika itu keputusan yang tuan ambil, percaya atau tidak aku merasa penyesalan tidak akan lama akan tuan dapatkan, entah karena apa tapi aku yakin tuan tidak akan lama akan merasakan itu!"


Dalam ruangan terdapat banyak seseorang berseragam hitam yang tak lain adalah seorang bodyguard yang telah berbaris rapi menyambut kedatangan seseorang. Seorang wanita memasuki ruangan itu dengan wajah datar dan dingin miliknya, itu membuat aura seramnya keluar.


"Ada dimana aku ini?" Beralih tatapan Arabella terfokuskan pada wanita yang sedang duduk manis tak jauh dari tempat ia terikat saat ini.


"Anda? Apa yang anda lakukan apa semua ini anda pelakunya? Apa maumu kenapa anda menculik-ku lepaskan aku! Lepaskan aku! Apa alasan kenapa anda sampai nekat menculik-ku dengan cara seperti ini, lepaskan aku' aku ingin pergi," ucapnya yang berniat akan pergi, tapi langkahnya terhenti setelah Monika yang menghalanginya dengan kasar.


Menarik rambut Arabella dengan cukup keras. Dan mencengkram kedua rahang Arabella, Monika tidak akan pernah membiarkan jika Ara sampai berhasil kabur sebelum ia berhasil menyelesaikan sebuah rencana licik yang sudah ia siapkan sejak sedari awal.


"Gadis manis kamu tenang saja sayang aku tidak akan lama mengikat kamu seperti ini. Aku sengaja menculik-mu karena ada hal yang sangat penting yang ingin aku ketahui, sadar setelah kematian Papa tidak semudah itu bagiku untuk menguasai semua kekayaan itu, belum lagi Papa sudah dulu memberikan wasiat itu atas nama kamu jadi aku yakin anda pasti tau kan dimana letak semua sertifikat asli yang dimiliki kakek?"


"Bisa-bisanya anda bertanya soal warisan? Papa anda baru saja meninggal sehari yang lalu apa segitu terobsesinya anda menguasai kekayaan itu semua sampai-sampai tak ada rasa simpati belas kasihan anda pada Papa anda sendiri?"


"Sudahlah anak manis anda janganlah banyak omong! Aku tau lagi aslinya anda ini bukanlah Stella kan? Anda ini aslinya hanya wanita beruntung sekaligus wanita yang sangat mirip dengan Stella yang dengan gampangnya ingin berbalik menguasai semua kekayaan ini? Sadarlah anda bukanlah siapa-siapa, anda juga bukanlah keluarga besar kakek apa disini anda pantas berkata soal perebut kekayaan jika aslinya anda sendiri lebih licik memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan sampai-sampai ingin menguasai semua kekayaan itu yang aslinya atas nama Stella?"


"Jadi anda sudah tau siapa aku sebenarnya? Baiklah itu lebih baik setidaknya aku tidak perlu berpura-pura akting baik dihadapan anda lagi. Dan soal kekayaan ini, jujur aku sama sekali tidak ada niat sedikitpun untuk menguasai semua kekayaan kakek yang jatuh atas nama Stella, aku juga bisa memberikan semuanya pada anda tapi sadar sifat asli anda seperti apa, hal inilah yang mendorongku untuk jangan pernah melakukan ini semua apalagi sampai memindah hak waris atas nama anda karena itu sama aja aku mengorbankan semuanya dan menusuk Stella secara bertubi-tubi jadi sebelum semua itu terjadi aku tidak akan pernah melakukannya jadi paham kan!"


"Anda aku akui sangatlah pemberani, bahkan dalam keadaan seperti ini anda masih berani berucap bahkan tak menunjukkan wajah takut anda padaku tapi bukan Monika namanya jika dia tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan! Raka?"ucapnya dengan memangil nama itu, lantas seseorang menghampirinya.


"Iya nyonya apa ada yang bisa saya bantu!"


"Ambilkan sesuatu yang aku siapkan tadi!"

__ADS_1


"Baik Nyonya!"


"Dan kamu! Kamu pastinya sudah mengerti kan dengan resiko besar apa yang akan terjadi jika kamu sampai berani menantang ku?"


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan apa kamu ingin menghukum-ku atas perbuatan ku ini? Apa kamu ingin membunuhku sekarang juga apa dengan cambukan yang akan kamu lakukan kamu belum merasa puas?"


"Membunuh itu bagiku akan terlihat biasa karena kamu tidak akan merasa kesakitan lebih lama. Sedangkan menghukum bagiku cara itulah yang tepat untuk kamu dapatkan!"


Arabella berusaha melakukan pemberontakan tapi belum juga ia bisa melepaskan diri dari cengkraman mereka, sebuah pukulan kasar tepat mengenai wajah hinga membuat sudut bibir kanannya terdapat bercak darah.


"Berikan pil itu?"pinta Monika dengan tatapan tajamnya yang terus saja menatap Arabella dengan sinisnya.


"Ini nyonya!" ucap seseorang itu dengan membawa lima 10 butir pil hitam kotak pada Monika, lantas Monika pun mengambilnya.


"Minumlah," pinta Monika dengan memberikan beberapa pil hitam pada Arabella.


"Tidak aku tidak mau meminumnya sebelum kamu kasih tahu pil apa itu? Apa itu pil buat mengugurkan kandungan?"


"Sangat pintar!"


"Tidak aku tidak mau meminum pil itu jika kamu ingin minum, minum sendiri saja aku tidak mau lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Arabella? Iya itu kan nama kamu! Kamu itu sudah berada digenggaman-ku jadi apa kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja. Dan membiarkan janin yang ada dikandungan-mu ini terus membesar tidak lagi, jadi aku minta sekarang kamu minum kalau kamu tidak ingin aku sendiri yang memaksamu untuk meminum pil ini." Tatapan tajam yang ditunjukkan Monika semakin membuat Arabella takut dengan cara apa ia bisa meloloskan diri dari cengkraman mereka.


"Baiklah jadi kamu memaksaku untuk pakai cara lebih kasar dari ini baiklah tidak masalah bagiku memaksamu untuk meminum ini sangatlah mudah!" timpal Monika dengan melirik kedua anak buahnya yang sudah berjaga dari belakangnya.


"Kalian cepat pegang dengan erat kedua tangan wanita ini. Jika dia tidak mau meminumnya biar aku sendiri yang memaksanya," perintah Monika berlalu kedua anak buahnya pun mencengkram dengan erat kedua tangan Arabella.


"Ayo buka mulutmu!"


"Tidak! Aku tidak mau!"


"Baiklah kalau kamu tidak mau biar aku sendiri yang memaksamu!"


Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Arabella yang hanya menyisakan luka memar merah dengan adanya darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Berada dalam kandang harimau yang siap memangsanya dengan hidup-hidup, tatapan Arabella tidak menunjukkan jika dia akan takut.


"Apa itu cukup! Apa kamu masih ingin merasakan tamparan lagi yang kedua kalinya? Ingat Ara aku bukanlah wanita yang manis jika posisiku dalam keadaan terpojok seperti ini. Dan apa kamu sadar jika aku merasa terancam aku tidak akan segan-segan membunuh seseorang yang berani menghalangiku termasuk ini kamu sendiri. Jadi cepat muka mulut kamu jika kamu tidak ingin aku akan lebih jahat dari ini cepat buka!"


"Sudah aku bilang aku tidak mau apa kamu masih belum paham juga. Apa kamu pikir dengan sejuta kali pun kamu menampar-ku aku akan mengalah dan menyerah dengan semua ini tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Jika kamu ingin membunuh-ku silahkan, bunuh-lah aku jika itu akan membuat-mu merasa lebih lega asal jangan kamu pisahkan aku dengan darah daging-ku sendiri."Kedua tatapan yang saling bersahutan tak membuat Monika berfikir kedua kali atas keputusan salah yang telah ia ambil.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu cemas sayang! Aku tidak perlu membunuhmu dengan susah payah karena apa kamu tahu dengan meminum pil ini kamu akan mati dengan sendirinya. Dan mungkin untuk permulaan rasa sakit yang tidak tertahan perlahan-lahan akan membawa-mu pada ajal yang sudah pasti siap menjemput-mu


Dengan keadaan kedua tangan yang sudah mendapatkan cengkraman erat dari kedua anak buahnya. Monika dengan paksa ia mencoba memaksa Arabella untuk membuka mulutnya secara lebar. Akan tetapi bukan Arabella namanya jika dia tidak akan melakukan hal untuk menolongnya dirinya sendiri.


Kedua tangan Monika yang berusaha membukanya, Ara gunakan kesempatan ini untuk mengigit-nya secara kasar dan akhirnya darah berhasil keluar dari tangan Monika sendiri setelah Ara yang berhasil mengigit sudut jempol Monika yang membuatnya meringis kesakitan.


"Baiklah jika dengan cara mengugurkan aku gagal jangan salahkan aku kalau aku akan bertindak kasar! Tapi sebelum kita memulainya aku kasih anda kesempatan, katakan? Apa saja yang barusan dikatakan Kakek? Apa dia sungguh-sungguh memberitahumu tentang sebuah rahasia berupa harta Karun yang selama telah dibicarakan? Jika anda berani berkata jujur aku pastikan anda akan selamat dan hidup bebas jadi katakan? Katakan apa harta Karun itu sungguh ada bersama dengan Kakek? Apa anda juga tau dimana kakek menyimpan semua harta kekayaannya berupa mas batangan itu?"


"Sama seperti yang kakek katakan aku lebih memilih mati ketimbang harus menyerahkan semuanya pada orang yang salah! Anda paham!"


"Rupanya wanita sepertimu masih bisa keras kepala juga, sudah lihat nyawa kamu berada diujung tanduk tapi nyatanya semua ini tidak berpengaruh pada wanita sepertimu! Oh iya aku dengar-dengar hubungan kalian juga tidak sebaik seperti dulu, apa anda tidak ingin mengucapkan kata-kata terakhir untuk laki-laki yang sudah jadi suamimu itu? Okelah aku akan membantumu jadi mari bicaralah!"


"Tuan sejak tadi ponsel anda berdering apa anda sungguh-sungguh tidak ingin mengangkatnya? Ini dari nyonya Arabella saya takut dia butuh bantuan jadi alangkah baik tuan angkatlah!"


"Tidak perlu! Itu urusan dia kenapa harus kita yang repot-repot!"


"Tapi tuan! Dia istri anda bahkan dia juga mengandung anak kandung tuan!"


"Anda sekarang sudah berani membangkang?"


"Maaf Tuan!"


Beberapa kali sambungan itu terjadi secara terus-menerus dan selama itu juga tak ada respon bagi Alex untuk mengangkatnya, jalankan mengangkat melirik satu kali ponsel berdering itu pun kelopak matanya tak terlihat melirik kearah itu suara itu berasal.


"Sayang sekali ini sudah ke sepuluh kalinya kamu memangilnya tapi apa? Apa laki-laki yang jelas sudah jadi Suami mu ini berbaik hati mau menolong mu? Jangankan menolong dia bahkan hanya membiarkannya sungguh malang sekali nasib kamu sayang! Sungguh sangatlah malang!"


Sesaat kemudian Monika yang memerintahkan laki-laki tadi untuk memukul Arabella. Melayangkan pukulannya pada Ara membuat Arabella meringis sakit, ia berusaha kuat walau pun tubuhnya serasa ambruk sesaat mendapatkan pukulan bertubi-tubi tersebut.


"Kamu sudah gila Monika? Kamu sudah sangat gila! Lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Lepaskan dia aku rasa dia sudah cukup lemah saat ini jadi biarkan dia seperti ini," ucap Monika yang akhirnya ia pun berlutut dihadapan Arabella dengan raut wajah Arabella yang terlihat sangat kesakitan di-bagian dada belakangnya


"Kamu lihat kan ini akibat karena kamu sudah berani melawanku. Kamu memang sangat kembar seperti keponakan ku Stella, tapi sayang kalian tidak ada duanya, kalian sama-sama berani melawanku dan lihat kan sekarang akhirnya kamu merasakan seperti apa penderitaan yang Stella rasakan. Bahkan yang lebih parah kalian sama-sama akan ma*i tepat di tanganku jadi bukankah ini hebat?"


"Sudah aku duga kematian Stella memang ada hubungannya dengan anda? Terima kasih! Terima kasih diakhir ajal ku ini akhirnya kamu telah mengakui dengan sendirinya terima kasih!"


Tubuhnya yang seketika ambruk, membuat Arabella yang tambah merasa sakit ia hanya bisa tertunduk terdiam tak berkutik.


"Kalian para bedebah yang hanya bisa menyakiti orang-orang lemah dengan kekuasaan kalian. Kalian berani menyakiti tapi hanya dengan cara kekerasan apa itu pantas disebut dengan kata hebat? Tidak! Kalian pengecut dan kamu anda sangatlah pengecut apa kamu paham!"


Lantaran tidak terima menerima ocehan yang dilakukan Ara. Monika yang dengan panas hatinya ia melayangkan se-balok kayu yang akhirnya ia gunakan buat memukul Arabella secara bertubi-tubi.

__ADS_1


Arabella yang sudah serasa tak tahan ia akhirnya memejamkan kedua matanya setelah balok kayu yang tepat mengenai punggungnya disaat ia yang posisi tertunduk.


BERSAMBUNG.


__ADS_2