Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 32 " Hampir bunuh diri "


__ADS_3

Tuhan? Jika hamba boleh mengeluh apa alasanmu memberikan hamba cobaan sebesar ini? Hamba sudah tidak kuat lagi menahan semua cobaan yang Tuhan berikan ini. Seseorang yang sangat aku sayangi melebihi diriku sendiri. Bahkan tanpanya hamba rasa hamba tidak sanggup melanjutkan kehidupan yang amat suram ini, hamba tidak sanggup.


Memiliki seorang Suami tapi apa gunanya Suami jika dirinya tidak pernah perduli pada istrinya sendiri. Apa gunanya semua ini? Apa?"


Berjalan tanpa adanya tenaga yang kuat sekaligus tujuan yang akan ia tuju, ia pun akhirnya melihat sebuah jembatan yang bawahnya sudah teraliri sungai yang sangat deras. Lantas ia pun menghampiri sungai tersebut dengan wajah putus asa LAN pasrahnya.


"Sekarang hidupku sudahlah hancur jadi untuk apa aku masih bertahan hidup jika hidupku hanya akan jadi taruhan seperti ini. Mama Maafkan Arabella karena Arabella sudah lemah dan gagal menjadi putri kebanggaan Mama. Maafkan Arabella, Papa ... Arabella kangen sama Papa ijinkan Arabella menyusul kalian. Sungai ini sungai yang sangat indah biarlah tempat ini menjadi saksi akan kematian ku biarkan sungai ini menjadi bukti jika aku sudahlah kalah dari peperangan ini."Tangisannya pecah, sesekali ia menatap air sungai yang mengalir dengan sangat deras membuat air mata Arabella tak henti-hentinya terhenti.


Berdiri tepat diatas batu besar dan berdiri diatas sungai yang mengalir dengan sangat deras, Arabella, melambaikan kedua tangannya ia pun memejamkan kedua matanya dengan tersenyum lepas, hingga tinggal selangkah lagi Arabella melangkah, sungai ini akan jadi saksi tiadanya seorang wanita cantik dan berambut panjang ini.


Akan tetapi niat yang Arabella rencanakan telah gagal total, setelah ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangan Arabella dari belakang dengan tarikan kerasnya membuat dirinya pun terjatuh.


Bruk...


Suara jatuhan pun terdengar, melihat dirinya gagal melakukan tindakan bun*h di*i yang hendak ia lakukan barusan. Arabella pun menatap balik sosok seseorang yang berdiri tegak didepannya dengan menunjukkan raut wajah geramnya.


''Kau? Apa yang ingin anda lakukan disini apa anda ingin terjun dari sini?"ucap seseorang yang tak lain adalah Alex.


''Jangan halangi aku! Lepaskan aku! Lepaskan aku biarkan aku terjun dari sini aku tidak mau menambah beban lagi lepaskan aku! Lepaskan aku!"


''Kamu jangan gila apa kamu pikir dengan cara bunuh diri kamu bisa lari dari permasalahan kamu tidak! Itu tidak akan pernah terjadi jadi ayo pergi !"

__ADS_1


''Tidak aku tidak mau lepaskan aku! Lepaskan aku!"


''Baiklah jika kamu tidak ingin pergi baiklah biar cara ku sendiri yang memaksamu untuk pergi!"


Memberikan pukulan pada Arabella tepat mengenai belakang lehernya, Arabella akhirnya tak sadarkan diri. Melihat Arabella yang dalam keadaan tidak sadarkan diri Alex segera mengangkatnya.


"Apa yang terjadi tuan?"


"Dia barusan hendak akan melakukan bunuh diri dan untungnya aku segera menolongnya tadi!"


"Menolong? Kenapa tuan harus menolongnya bukankah penderitaannya sudah tuan sendiri yang merencanakannya? Bahkan niat balas dendam tuan padanya tuan tidak akan pernah lupa kan?"


"Iya tuan yang dikatakan Rico memang benar, melihat tuan menolongnya bukankah ini sudah jadi tanda-tanda jika tuan sudah mulai menyukainya?"


Dalam masa duka aku rasa waktu inilah yang cocok untuk menyerang hatinya secara perlahan, menggoda dengan ucapan manis, bersikap seolah-olah kita memperdulikan dan sangat mencintainya aku rasa rencana-ku ini tidak cukup sudah untuk aku lakukan!"


"Saat ini kami tidak tau harus berbuat apa Tuan, jika tuan sudah berencana ingin membalaskan dendam atas Papanya dimasa lampau, kita hanya bisa mendukung tuan.


Dalam ruangan itu hanya terdapat dua orang yang berada didalam sana, dan orang itu yang tak lain adalah Arabella yang masih dalam kondisi terbaring dan juga Alex sendiri. Langkah demi langkah telah pria kekar itu lalui, hingga posisinya yang tepat berada disamping brankar wanita itu berada.


Beberapa langkah ia berhasil menginjakkan kakinya memasuki ruangan ini, pandangan Alex yang tadinya terlihat santai kini, ia pun hanya bisa terdiam setelah dirinya melihat sesosok wanita cantik yang dalam kondisi terbaring pingsan diatas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa aku melihat kondisimu dalam keadaan seperti ini, kenapa rasanya hatiku malah menyebut nama Stella? Apa segitu cintanya aku padanya sampai-sampai melihatmu pun bayang-bayang Stella masih terlintas jelas dalam pikiranku? Bahkan memikirkan balas dendam itu rasanya hatiku sudah tidak sanggup lagi?"


Kedua mata cantiknya masih terpejam, kini kedua mata cantik itu telah menunjukkan akan kelopak mata yang perlahan-lahan mulai terbuka dengan sendirinya. Sadar dari pingsannya, wanita itu lantas memandang laki-laki dihadapannya yang seperti sedang menunggu akan kesadarannya.


"Apa kau gila! Anda pikir dengan cara bunuh diri anda akan terbebas dari semua permasalahan ini?"tanya Alex.


"Jika anda inggin membu*uhku, aku malah berterima kasih sekali sama anda. Lantaran anda mau membantu saya untuk mengakhiri hidup yang sama sekali tidak ada gunanya ini. Dengan anda memutuskan untuk membunuhku! Aku malah senang karena aku akan bertemu dengan Papa dan Mama di Surga nanti, ayo bunuh aku! Ayo bunuh aku jika cara itu yang ingin anda lakukan ayo!"


Ucap dan air mata Arabella yang sama-sama jatuh berbarengan dengan diselimuti suara yang tersedu-sedu dan dengan menunjukkan senyum lepas yang dilakukan Arabella membuat pria yang berada dihadapannya bisa terdiam, tidak berani berkata sepatah kata pun lagi.


"Kenapa anda masih diam apa anda tul*?"


"Jangan banyak berkata ayo makanlah!"


Hari berlalu dengan sangat cepat


Tiga hari kemudian adalah hari dimana Mamanya telah dipanggil oleh yang maha kuasa, selama tiga hari itu juga, Arabella hanya terdiam tanpa memikirkan apapun tak terkecuali jika hanya memikirkan akan nasib Mamanya.


"Sudah tiga hari dia masih terdiam layaknya orang tidak waras seperti ini? Untungnya aku sudah berbicara pada Kakek dengan bilang kalau kita lagi melaksanakan bulan madu jadi kayaknya untuk masalah rumah aku tidak perlu takut lagi, tapi soal dia?"


"Apa mungkin dia tidak akan terkena depresi berat jika terus memikirkannya? Mengingat tindakannya akan bunuh diri itu sudah membuktikan jika dia sudah tidak perduli lagi dengan kondisinya? Astaga Lex ... Kenapa malah kamu yang cemas! Bukankah dengan tragedi ini kamu bisa manfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan kelangsungan rencanamu? Berpura-pura mencintainya dan perduli padanya bukankah ini waktu yang pas untuk menjalankan aktingmu ini?"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2