Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 45 " Rasa kecewa "


__ADS_3

Termenung seorang diri didalam ruangan, sesekali ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 5 artinya hampir seharian ia terkurung, mendengar langkah seseorang mulai membuka gagang pintu tak menunjukkan wajah ceria akan hadirnya pria kekar yang jelas-jelas suaminya sendiri.


Dengan membawa satu nampan makanan, menghampiri Wanita yang masih bersimpuh dilantai, lirikan dari wanita itu tak menunjukkan akan rasa bahagia akan kehadiran Pria tersebut.


"Sampai kapan anda akan terus berdiam seperti ini? Ini makanlah!"


"Jika tujuanmu hanya memperlakukan aku kayaknya seekor hewan kenapa kamu tidak mengijinkan ku untuk pergi!"


"Jangan banyak omong cepat makan!"


Kedua ekpresi wajah yang sama-sama tidak mendukung satu sama lain, malas untuk berdebat yang setiap harinya keduanya lakukan, Pria itu yang berniat akan pergi kini langkahnya sekejap terhenti setelah salah satu anak buahnya tiba-tiba mendatanginya.


Dengan menunjukkan ekpresi wajah seakan-akan dilanda rasa gugup sekaligus cemas yang ditunjukkannya, Alex yang sedari tadi hanya menunjukkan tatapan kebingungan ia lantas bertanya


"Kenapa? Apa yang membuatmu menjadi gugup seperti ini apa ada masalah yang terjadi?"


"Tuan! Kita dalam masalah besar?"

__ADS_1


"Masalah besar, maksudnya?"


"Kami mendapatkan laporan mengejutkan dari supir Tuan Wijaya yang mengatakan jika pagi ini beliau dinyatakan tewas setelah beberapa hari beliau mengalami sakit yang tak kunjung reda?"


"Apa anda serius?"


Bagaikan tersambar petir disiang bolong tanpa adanya hujan yang melanda. Arabella yang hanya duduk bersimpuh berselimut rasa takut lan cemasnya, kini rasa takut yang sedari kemaren menghantuinya telah sekejap berubah menjadi rasa tidak percaya akan kata yang barusan Rico ucapkan


"Katakan apa yang anda katakan barusan itu sungguh tidaklah benar kan?" Tak menghiraukan pertanyaan yang diucapkan Arabella, Alex yang mengajak pergi Rico tanpa memberikan waktu padanya untuk menjelaskan pertanyaan yang barusan diucapkannya.


"Ini tidak mungkin? Apa yang barusan dia katakan pasti sungguh-sungguh tidak benar? Iya itu semua pasti bohong ia pasti bohong!"


Meratapi tulisan nama yang tertera pada batu nisan dengan nama Purnomo Wijaya Rahadi, hati Arabella seketika hancur berkeping-keping bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri mempercayai jika apa yang ia lihat sungguh-sungguh benar jika seseorang yang barusan ia temui kemaren kini orang itu sudah terbujur kaku didalam gundukan tanah yang ia pandang sekarang ini.


Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi. Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama nama tersebut dengan penyesalan dan kecewakan terdalamnya.


Menyesali semuanya tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Kek! Maafkan aku karena aku tidak bisa menyelamatkan Kakek maafkan aku! Aku bodoh jika saja pada waktu itu aku tidak pergi mungkin ini semua tidak akan terjadi, mungkin aku masih bisa melihat kakek disampingku maafkan aku! Maafkan aku!"


"Untuk apa anda harus menangisi kepergian kakek! Kakek bukanlah kakek kandungmu, bahkan aku rasa jika kakek tau siapa sebenarnya anda dia juga tidak akan sudi berhadapan dengan wanita sepertimu! Jadi haruslah air matamu!"


Bangkit dari makam kakek yang masih baru bertaburan banyak bunga, Arabella menatap Alex dengan tatapan kekecewaan, melayangkan satu tamparan bahkan bukan hanya sekali ia memberikan tamparan itu beberapa kali, ia melayangkan tepat kearah kanan-kiri yang saat itu juga membuat pandangan Alex berdecak kaget


"Bagi anda aku memang tidak berguna! Tapi apa anda sadar sesakit apa anda menghinaku itu semua tidak akan pernah menyurutkan niatku untuk tetap bertahan dalam gempuran rumah tangga yang amat sangat menyakitkan ini! Bahkan kalau bukan anak kandung ini aku juga mungkin sudah pergi meningalkan laki-laki tidak punya hati sepertimu tapi kali ini? Gara-gara anda nyawa kakek melayang, mungkin jika waktu itu anda tidak menembak-ku dan tidak mengurungku aku mungkin akan berhasil membawa Kakek pergi dari kediaman itu, ini semua gara-gara anda! Jadi jika ada orang yang harus disalahkan itu anda paham!"


"Punya hak apa anda berani mengancam-ku seperti itu? Anda bukanlah Stella sedangkan yang kakek ketahui anda itu Stella cucu kandungnya jadi jika anda merasa sedih karena tidak akan ada kemungkinan besar mendapatkan warisan itu jangan coba-coba untuk berlagak seolah-olah tersakiti karena anda disini tidaklah ada hubungan dengan kekayaan itu paham!"


"Iya aku sadar aku memang tidak berhak mendapatkan semua warisan itu, sadar aku bukan siapa-siapa yang tak berhak untuk menerima semuanya, tapi apa anda tau jika aslinya kematian kakek asli sabotase? Bahkan kedatangan ku kemaren sudah membuatku tambah semakin yakin jika kematiannya pasti ulah dari seseorang dalam yang telah menginginkan kematiannya. Dan untungnya kakek sudah terlebih dulu berpesan jadi aku rasa selain aku tidak akan ada orang lain lagi yang tau tentang rahasia ini, sedangkan anda? Jika anda merasa anda orang yang paling dipercaya kakek? Kenapa kakek tidak memberitahu anda soal ini dan kenapa harus aku? Iya kenapa harus aku?"


"Apa maksudmu? Memangnya sebelum kakek meninggal apa yang dia ucapkan?"


"Punya hak apa anda bisa bertanya seperti itu! Bukankah aku sudah tidak pernah kau anggap jadi apa urusanmu! Sudahlah kita akhiri semuanya!"


Pergi dari pandangannya tanpa banyak ucapan yang ditunjukkan Arabella terhadap pria itu, Alex hanya menatapnya dengan tatapan sinis tak percaya jika wanita yang telah menjadi istrinya berlagak seolah-olah tak perduli.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2