
Kaki serasa kaku seakan-akan tak mampu mendekati seseorang yang terbujur kaku diatas brangkar berselimut kain putih yang menutupi hinga atas sampai ujung kaki. Bercak noda darah yang masih menempelnya tak menguatkan langkah Arabella untuk semakin dekat dan semakin mendekati jasad dari almarhumah Mamanya.
Mulutnya terbungkam tak percaya atas apa yang ia alami saat ini, berharap semuanya hanya mimpi nyatanya semua yang ia alami sungguh-sungguh benar nyata.
Mendekati sekumpulan kawanan polisi yang sedang ikut memeriksa, salah satu polisi tampan tak kuasa melihat air mata dari seorang Wanita berselimut air mata yang membanjiri kedua sudut matanya.
"Arabella kamu?"ucap Polisi itu lantas langsung menghampirinya.
Timpal seorang polisi tampan tersebut, memegang kedua pundaknya seolah-olah dirinya sedang memberikan cagar agar wanita dihadapannya kuat atas musibah yang barusan dialaminya
" Angga Ini semua tidak benar kan? Mama tidak mungkin meninggal kan aku kan? Ini semua bohong kan?"ucapnya berselimut air mata yang tak kunjung surut.
"Arabella aku mohon jangan lihat! Aku mohon jangan! Kamu tidak akan pernah sanggup aku mohon!"
"Ijinkan aku untuk melihatnya aku harus melihat Mama? Aku harus melihatnya?"
"Arabella! Aku katakan kamu jangan pernah mendekatinya, kondisi Mama kamu tidak lagi utuh kamu tidak akan pernah sanggup aku mohon! Aku mohon turuti apa kemauan ku, aku mohon! Tolong ikuti saran aku, aku mohon!"
"Aku tidak bisa aku melihatnya, ijinkan aku untuk memandangi wajah cantiknya untuk yang terakhir kalinya aku mohon?"
"Baiklah!"
Air matanya mulai pecah melihat seseorang yang ia cintai hanya terbujur kaku tanpa adanya nafas yang terlihat.
Kedua suster yang melihat itupun langsung menarik lengan Arabella, agar ia menjauh dari jenazah Mamanya. Karena jenazahnya akan dimasukkan kedalam peti jenazah.
"Maaf! Kamu tidak memberikan ijin pada anda untuk melihatnya, anda sangat syok anda akan sangat terkejut jika melihat kondisi Mama anda yang sangat mengenaskan. Ini sudah jadi keputusan kamu dan demi kebaikan anda, kamu mohon jangan lihat! Kami mohon!"
"Lepasin! lepasin aku! Aku ingin melihat Mama lepaskan aku, aku mohon!" ucap Arabella terus berontak. Namun karena Dokter tadi juga ikut menahan lengannya, alhasil ia tak bisa bergerak.
*****________________________*****
__ADS_1
Meratapi tulisan nama yang tertera pada batu nisan dengan nama Claudia Putri, hati Arabella seketika hancur berkeping-keping bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi.
Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama Mamanya dengan diselimuti penyesalan dan kecewakan terdalamnya.
Menyesali semuanya tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpanya.
Seribu pertanyaan ingin sekali ia tanyakan akan tetapi mulutnya serasa terkunci. Bahkan ia tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat saat ini. Berharap ini semua adalah mimpi tapi nyatanya ini beneran terjadi
Terduduk dan memandangi sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Claudia Putri sembari melamun akhirnya lamunan Arabella pun teralihkan sesaat ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba mendatanginya dengan menepuk pundak kanan Arabella.
"Saya tahu kalau kamu masih sangat berduka karena kehilangan Mamamu secara dadakan seperti ini, tapi ada hal penting yang saya rasa kami juga harus mengetahuinya," timpal Angga beralih pandangan Arabella menatapnya.
"Angga? Kamu pasti tau siapa pembunuh dari Mamaku jadi katakan! Katakan siapa orangnya ayo katakan!"
"Tujuanku kemari memang aku ingin memberitahu mengenai soal itu, BLACK BLAXER mungkin bisa dikata geng pembunuh itulah orang dibalik pembunuhan tragis dialami Mama kamu, tapi apesnya kita telah kehilangan cctv bukti rekaman seseorang yang telah membuang jasad Mama kamu!"
"BLACK BLAXER? Kenapa lagi-lagi aku harus berhadapan dengan si kejam itu? Dulu Papa yang mereka bunuh dengan motif yang sampai saat ini aku pun tidak tau apa motifnya dan sekarang Mama? Orang yang satu-satunya aku punya kenapa juga mereka rebut kenapa!"
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dirimu, biarpun kita beda derajat jauh kamu sampai sekarang tidak lupa siapa aku bahkan bersedia membantuku aku sangat bersyukur Angga? Aku sangat bersyukur?"
"Selama SMP bahkan SMA kita selalu bersama jadi mana mungkin aku akan melupakan kamu, itu tidaklah mungkin Ar jadi jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan padaku paham!"
"Iya kapten aku paham!"goda Arabella yang akhirnya mampu tersenyum tipis.
"Aku senang akhirnya aku mampu melihat kamu tersenyum lagi, oh iya apa kamu mau aku antar pulang?"
"Tidak perlu!"
Sahutan seseorang yang tiba-tiba menimpali pembicaraan keduanya. Asal suara dari arah samping, nampak pria gagah lan tampan sedang memberikan tatapan tajamnya pada keduanya.
__ADS_1
"Siapa anda?"tanya Angga, beralih seseorang yang tak lain Alex sendiri perlahan-lahan ia mulai menghampirinya.
"Kenalin aku Alex suaminya jadi anda tidak perlu repot-repot nganterin dia paham!"
"Su ... suami?"tanya Angga tak percaya dengan ucapan pria itu.
"Iya dia itu suamiku jadi maaf jika aku menolak ajakan mu Ang kamu gak papa kan?"
"Iya aku gak papa kok, maaf aku yang salah tidak seharusnya aku asal bicara seperti tadi maafkan aku!"
"Iya gak papa santai aja lagi!"
"Wajah pria ini? Kenapa aku merasa tak asing melihatnya apa aku pernah berpapasan dengannya?"batinnya dengan memberikan tatapan penasarannya.
"Kenapa sedari tadi anda terus memperhatikanku apa anda mengenalku? Ataukah sebelumnya kita pernah bertemu?"timpal Alex serasa risi dipandang sebelah mata.
"Maaf! Bukan maksudku menganggu anda, hanya saja aku merasa wajah anda tidak asing bagiku entah suatu keadaan aku seperti pernah melihatmu tapi aku rasa aku yang salah orang jadi lupakanlah. Oh iya mengenai hubungan kalian? Apa kalian sama-sama saling mencintai?"
"Maksudnya?"
"Aku takut anda tidak setampan seperti wajah yang anda miliki, aku takut jika anda hanya memandang Arabella sebelah mata. Bahkan pernikahan kalian aku serasa tak percaya jika pernikahan kalian terjadi atas dasar cinta sama cinta?"
"Kayaknya kita tidak perlu lagi memperjelas bahkan menunjukkan keharmonisan rumah tangga kita. Aku sangat mencintainya jadi anda tidak perlu cemas! Mengenai anda sendiri? Ada hubungan apa diantara kalian?"
"Iya kebetulan Arabella itu teman semasa SMP bahkan SMA ku dulu, kamu cukup dekat, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, anda yang sekarang sudah menjadi suaminya saya harap anda menjaganya dengan baik, belum lagi kasus kematian kedua orang tuanya yang bernasib tragis aku rasa ini semua akan memberikan dampak buruk pada kehidupan Arabella nantinya, jadi jagalah dia melebihi anda menjaga diri anda sendiri!"
"Anda tenang-lah aku suaminya bagaimana bisa aku tidak mampu untuk menjaganya ya sudah karena anda suaminya sudah kemari saya pergi dulu permisi!"
"Baiklah!"
Berjalan secara membelakangi keduanya terlihat santai tanpa menaruh rasa curiga antar keduanya. Tak lama tatapan Angga terlihat berbeda setelah dirinya membelakangi tatapan Alex.
__ADS_1
"Apa aku hanya salah orang? Ataukah ini sungguh-sungguh benar dia orangnya? Kejadian beberapa tahun yang lalu atas kematian Papanya Arabel di Rel itu, aku sempat melihat jelas cctv sebelum cctv hilang adanya seorang pria dalam mobil berjas hitam yang memantau dua anak buahnya membuang jasad yang tak lain jasad itu jasad Papanya Arabella, ini hanya sebuah kebetulan tapi mana mungkin dalam kasus yang sama seperti ini?"
BERSAMBUNG.