Penjara Cinta Psikopat Kejam

Penjara Cinta Psikopat Kejam
Bab 72 . " Bertahanlah."


__ADS_3

"Sekarang diatas gedung ini hanya ada kita? Aku tidak perduli dengan cara apa kalian ingin menyiksaku sampai m*ti jadi silahkan lakukanlah!"


"Tuan ini benar-benar diluar dugaan kita selama ini kita sangat kesusahan untuk melenyapkan Pria ini tapi hari ini hanya dengan memancing mengunakan wanita itu cara ini sungguh diluar dugaan kita?"


"Kalian jangan banyak omong! Jika kalian ingin membunuhku ayo bunuh aku, kalian sudah membawa senjata jadi tunggu apalagi cepat lenyapkan aku! Cepat lenyapkan!"


"Kamu tenanglah tidak akan lama pisau sekaligus pistol ini akan menembus dan memporak-porandakan tubuhmu! Aku bisa saja membunuhmu tepat dihadapan ku saat ini juga, tapi aku sadar dengan membunuhmu langsung maka aku tidak akan melihat penderitaan dan rasa sakit yang akan kamu rasakan nanti, jadi sebelum kita gunakan sengaja utama kita sebagai pemanasan kayaknya balok kayu ini yang terlebih dulu akan mencicipi tubuhmu sampai remuk jadi bersiaplah! Rendy cepat lakukan pemanasan!"


"Baik tuan!"


"Ingat Lex tahan emosi kamu! Tahan ... bukan Alex namanya jika dia tidak punya akal cerdas agar terbebas dari mereka jadi tahan dan pikirkan sesuatu ayo pikirkanlah!"


Satu pukulan mendarat tepat pada dada kekar Alex, tubuh yang tadinya berdiri kokoh nyatanya mulai ambruk merasakan pukulan yang amat menyakitkan. Bukan hanya sekali, lagi-lagi pukulan tersebut pria itu layangkan hingga merobohkan tubuh dari Pria yang ia gebukin layaknya kesetanan.


Memar bahkan bercak darah terdapat pada sekujur tubuh Alex, tubuhnya serasa remuk mendapatkan perlakuan kasar dan pukulan memb4b1 but4 yang bisa saja mampu membunuhnya. Tubuhnya serasa tak mampu bangkit, tersungkur ketanah dengan tenaga yang amat sulit diartikan apa dia mampu bertahan terbebas dari jeratan pria iblis yang mungkin hari ini mereka mampu memangsanya.


"Ayo Lex kamu harus kuat! Kamu harus kuat bertahanlah! Bertahanlah!"


"Sampai kapan kalian akan terus menyiksaku seperti ini? Sudahkah kalian puas memberikan serangan bertubi-tubi ini? Apa kalian tidak berfikir langsung untuk membunuhku saja jika hari inilah kesempatan yang pas untuk kalian membunuhku?"


"Tenanglah hari ini memang sudah kita atur serapi mungkin jika hari ini adalah hari terakhir kamu menginjakkan kakimu dimuka bumi ini? Jadi selain hari ini aku pastikan tidak akan ada lagi hari yang akan kamu lakukan apalagi sampai bisa bersama dengan seseorang yang sangat kamu cintai? Tapi melihatmu seperti sudah kehabisan tenaga mungkin dengan membuka ikat ditangan kamu itu akan sedikit membuatmu lega? Mungkin juga aku akan melihat seperti apa rasa sakit dari hebohnya tubuh kamu ketika pisau ini akan menancap langsung ke tubuhmu? Baiklah Rendy lepas ikatan tali itu?"


"Tuan serius ingin melepaskannya bukankah itu cara yang salah?"

__ADS_1


"Melihatnya kehabisan tenaga aku rasa tidak akan ada tenaga lagi baginya untuk berjuang apalagi melawanku jadi lepaskan saja!"


"Baiklah jika itu keputusan dari Tuan!"


Serangan bertubi-tubi yang terus saja menyerangnya tanpa ampun, membuat tubuhnya tidak berdaya terkapar diatas tanah, merasa tubuhnya tak mampu lagi bayang-bayang wajah Arabella muncul dalam benak pikirannya, kembali mengingat masa lalu pembantaian pada keluarganya yang pelakunya tak lain dua pria tersebut sekejab emosinya kembali memuncak.


Bahkan tubuhnya yang serasa m*ti rasa kini perlahan-lahan mulai bangkit, kedua orang tua yang m*ti mengenaskan ditangan kedua pria ini apa mungkin dia akan merelakan dirinya begitu juga orang yang disayangi akan ikut m*ti ditangan kedua pria ini.


"Tidak Lex! Kamu tidak boleh lemah! Sebelum kamu m*ti terlebih dulu balaskan dendammu pada kedua pria penyebab dari meninggalnya kedua orang tuamu! Kamu bisa saja m*ti ditangannya,.tapi kamu harus ingat jika keduanya tidak m*ti di tanganmu keduanya tidak akan segan-segan untuk membunuh wanitamu begitu juga calon anakmu pikirkanlah kamu harus kuat! Kamu harus kuat bisa melawan mereka kamu harus kuat!"batinnya dengan memberikan tatapan tajamnya.


"Lihatlah dia seperti manusia yang tidak punya tenaga sama sekali? Dia kelihatan sangat lemah dan tidak berdaya haruskah kita membunuhnya sekalian agar dirinya tidak perlu menahan rasa sakit sampai selama ini?"


"Selama ini dia hanya banyak omong dengan bangganya merasa paling hebat dan tidak tertandingi tapi lihatlah yang kamu ucapkan memang sangatlah benar! Dia sudah lemah! Bahkan sangking lemahnya untuk menatap kita saja dia tidak sanggup dia memang sangatlah lemah! Dia memang sangatlah lemah!"


Cibiran terus saja kedua pria itu layangkan. Mengingat kembali dalam bajunya dia sempat menyembunyikan sebuah pisau lipat kecil, ide berliannya muncul tak menunjukkan akan kecurigaan dari kedua pria itu lantaran pria dihadapannya sudah memiliki rencana licik, kedua pria itu hanya menunjukkan senyuman licik merasa jika keduanya sangatlah hebat dan tak tertandingi.


Memulai perdebatannya tanpa memikirkan kondisi dan lokasi saat ini, keduanya yang memberikan serangan bertubi-tubi memukul secara membabi buta, Baron yang punya rencana serius ingin menjatuhkan lawannya namun naas belum mampu rencananya berhasil secara sempurna dirinya berbalik terjatuh pada ketinggian gedung ini.


Hanya mampu mengandalkan kekuatan tangannya yang memegang dengar erat pembatas pagar di ketinggian gedung ini, sedangkan tubuhnya yang mendapatkan genggaman erat dari Baron diwajahnya wajah keduanya mulai memerah melirik arah bawah yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.


Rendy yang berniat ingin menerjunkan keduanya tangannya mulai melepaskan genggaman erat pada penyangga itu namun nasibnya telah keduluan setelah datangnya Angga dan juga Arabella yang spontan telah mengagetkannya tak sengaja tubuhnya ikut hilang kendali terjun kearah yang sama, tangannya yang mulai mencari pengait hingga berhasil berpegangan pada benda sesuatu dan ikut bergelantungan seperti keduanya.


Angga yang spontan memegang erat genggaman tangan Alex, namun usahanya tak membuahkan hasil sadar jika aku tangannya pun juga ikut terluka.

__ADS_1


"Alex aku mohon bertahanlah! Aku mohon bertahanlah kamu tidak boleh lepas dari genggaman tangan kita bertahanlah!"


"Mungkin hari ini hari dimana aku akan pergi? Mungkin juga mimpi tadi malam telah memberikan tanda jika mimpi itu adalah asli dari nasibku sendiri? Mungkinkah hari ini hari terakhir aku menatap kamu?"


"Kali ini aku mohon bertahan dan jangan pernah lepaskan genggaman tangan kamu? Kamu harus bertahan aku mohon bertahanlah!"


"Sekarang aku tidak tau apa aku harus bahagia karena melihat kamu akhirnya bisa mencemaskan aku? Aku mungkin sangat bahagia melihat kamu sudah peduli lagi denganku, tapi aku tidak bisa bodoh! Aku tidak bisa bodoh mempertahankan genggaman tangan ini yang nantinya akan menyelematkan nyawa dua Pria tidak berguna ini? Keinginanku sedari dulu aku ingin membunuh penjahat yang sudah melenyapkan kedua orang tuaku dan mungkin juga inilah cara satu-satunya aku melenyapkan keduanya dari muka bumi ini. Terima kasih Bin! Terima kasih kamu sudah mau memberikan aku pintu maaf terima kasih?"


"Tidak! Siapa yang bilang aku sudah memaafkan kamu? Aku baru akan memaafkan kamu kalau kamu berhasil naik keatas dan bersanding denganku dan juga anak kita? Aku mohon bertahan dan naiklah keatas aku mohon?"


"Jangan gila Lex! Kamu jangan gila? Aku berjanji aku akan mengabulkan permintaan apapun yang kamu minta tapi aku mohon jangan bunuh aku! Aku mohon jangan bunuh aku?"rengek Baron dalam tidak keberdayaannya.


"Aku menyesal telah melakukan semua ini? Aku berjanji seperti yang tuan katakan aku berjanji aku bakal jadi anak buahmu tapi aku mohon selamatkan kami, kami mohon! Ingatlah masih ada seseorang yang harus kamu perjuangan aku mohon selamatkan kami!"timpal Rendy selanjutnya.


"Menyelematkan kalian maka itu artinya aku sendiri yang memberikan peluang besar bagi kalian untuk tetap menghancurkan ku? Aku kenal kalian mulut hanya mampu berkata tapi tidak dengan niat kalian yang sungguh-sungguh akan melakukannya, membunuh dan melenyapkan kalian dari dunia ini mungkinlah itu cara satu-satunya aku berhasil menyelematkan orang-orang yang aku sayangi?"


"Gak Lex! Kamu bilang apa? Di-dunia ini tidak ada seorang pun yang akan bahagia mendapatkan kesempatan seperti ini? Kamu harus naik berikan kedua pria bajingan itu kesempatan untuk menata kembali kehidupan mereka sedangkan kamu? Kamu sudah mendapatkan pintu maaf dari Arabella inikan yang kamu mau jadi aku mohon bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!"Dengan berusaha Angga mencoba menarik namun tangan kanannya yang terluka tak mampu memperkuat pegangan tangan tersebut.


"Aku mohon Lex bertahanlah aku mohon bertahanlah!"


Kedua tangan kekar yang sedari tadi mempertahankan beban berat yang masih bergelantungan. Darah segar mulai keluar dari tangan pria itu, wajahnya serasa tak tahan memperjuangkan beban berat yang sangat menyakitkan untuk ia pertahankan. Memandang wajah seseorang yang paling ia sayang melebihi siapa pun, sesekali ia menunjukkan senyumannya pada Wanita yang hanya bisa menangis.


Tangan yang tadinya berpegangan dengan eratnya kini perlahan-lahan tangan kekar itu sudah tidak mampu mempertahankan apa yang semestinya tidak ia pertahankan. Ketiga tubuh yang tadinya berpegangan dengan eratnya, kini ketiga tubuh itu jatuh kebawah dengan ketinggian yang belum bisa dipastikan. Wajah wanita itu yang hanya mampu menangis kini air matanya mulai pecah melihat seseorang yang ia pertahankan dengan tatapan tak percayanya melihat seseorang yang mungkin ia sayangi jatuh bak seperti sampah.

__ADS_1


"Alex .....


BERSAMBUNG


__ADS_2