
Darah yang seketika keluar dengan deras membuat wajahnya berubah memucat. Bahkan tubuh yang tadinya berdiri tegak, ia tak mampu lagi untuk bisa menopangnya. Terjatuh dari ketinggian dengan darah yang terus-menerus mengalir dari kuping, hidung dan telinganya tak mampu memberikan kesempatan untuknya.
Sedangkan dua pria lain keduanya telah menghembuskan nafas terakhirnya tak menunjukkan akan tanda-tanda kesadarannya bersamaan dengan darah yang terus-menerus keluar dari kepalanya.
Arabella dan Angga sesampainya ia ditempat kejadian tersebut , ia dikejutkan dengan adanya pemandangan yang sangat mengejutkan. Wajahnya yang seketika memucat bahkan raut wajahnya tidak bisa ia sembunyikan lagi untuk menyembunyikan kesedihannya.
Melihat Alex yang sudah dalam berlumuran banyak darah, terdiam tak mengerakkan badan dan hanya mampu menunjukkan kedipan matanya. Paving yang tadinya bersih tanpa adanya noda, kini sekejab mata menjadi merah darah yang mengotori semuanya yang membuat pemandangan yang tak bisa dibayangkan lagi.
"Alex ...!
Teriak Arabella seketika pecah, bahkan tubuhnya seketika roboh setelah ia melihat Alex yang sudah dalam kondisi secara mengenaskan. Bahkan tubuhnya membuat darah pada berserakan seakan-akan air yang mengalir tanpa henti dari sudut mana pun.
Kedua mata yang tadinya sama-sama terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejamkan mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan di tanah dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori tanah halaman ini.
"Lex sabar dan kuatlah aku akan segera meminta bantuan jadi kamu harus kuat!"
"Jangan, kamu tidak perlu susah-susah melakukan itu karena mungkin ini adalah saatnya aku untuk pergi!"
"Lex. Apa yang kamu katakan kenapa kamu berkata seperti itu? Aku yakin kamu pasti kuat dan bisa melewati semua ini jadi aku mohon bertahanlah! Bertahanlah demi Arabella dan calon anak kamu aku mohon!"
"Ang ini mungkin, terakhir kalinya aku menatapmu, jadi kamu bersedia kan mengabulkan permintaan terakhir aku ini? Aku minta jika nanti aku sudah tiada menikahlah dengan Arabella?"
"Lex jangan berkata seperti itu, jika kamu tiada siapa yang akan menjaga Arabella siapa? Di-dunia ini tidak ada seorang Istri yang akan melakukan itu tidak! Aku tidak akan pernah melakukannya tidak akan!"ucap Angga dengan diiringi suara tangisannya.
"Aku mohon bertahanlah aku mohon bertahanlah! Aku tau kamu pasti akan bisa selamat aku yakin!"
__ADS_1
"Bo ... bolehkah aku memegang perutmu untuk yang terakhir kalinya?"
Tanpa membalas ucapan Alex, Arabella mulai menggenggam tangan Alex meletakkan tangan itu agar menyentuh perutnya yang sudah mulai buncit.
"Ini kan yang kamu mau? Sekarang aku sudah mengabulkannya jadi aku mohon bertahanlah dengan Aku dan anak kita aku mohon bertahanlah!"
"Aku bersyukur akhirnya disaat terakhir aku mampu memegang buah hatiku? Aku sangat bahagia terima kasih! Terima kasih! Jika aku boleh meminta lagi bisakah kamu memberikan nama anak kita dengan nama PUTRA BAGASKARA VERLANTO jika anak kita berjenis kelamin laki-laki? Aku sengaja menyiapkan nama itu agar suatu saat nanti aku pergi kamu bersedia memberikan wasiat terakhir ku ini, kamu bersedia kan?" Tak mampu membendung air matanya dan hanya mampu menangisi tanpa membalas ucapan sang Suami.
Belum juga Alex berkata lagi, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemeteran, keringatnya yang tiba-tiba keluar , bahkan wajahnya yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sangatlah pucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan akibat keretakan yang berhasil menembus sekujur tubuhnya, pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi, melihat Alex yang sedari tadi terdiam dan orang-orang yang melihatnya tambah semakin panik.
"Aku mohon bertahanlah aku mohon bantuan akan segera datang aku mohon!"ucap Arabella yang tak bisa menghentikan air matanya..
Tak bisa banyak yang dilakukan, orang-orang sekarang yang melihat Alex seperti ini, mereka hanya bisa menumpahkan kesedihannya.
" ikuti ucapanku, Asyhaduallla illaha ilallah, waashaduanna muhammad darrasuallah, Ikuti sampai ketiga kali.
Setelah berat hati Angga perlahan-lahan membantu Alex untuk bisa mengucapkan lafal tersebut. Setelah tiga kali ia mengikutinya dengan suara terbata-bata ia pun akhirnya bisa mengucapkan lafal tersebut, perlahan-lahan Alex pun mulai memejamkan matanya. Tangan yang tadinya menggenggam erat tangan Arabella kini perlahan-lahan mulai terlepas dengan sendirinya.
Tangisan Arabella seketika pecah ketika melihat orang yang paling dia sayangi telah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya.
"
"
"
__ADS_1
Meratapi tulisan nama yang tertera pada batu nisan dengan nama Alex Alexassa Verlano, hati Arabella seketika hancur berkeping-keping bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi.
Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama suaminya dengan penyesalan dan kecewakan terdalamnya.
Menyesali semuanya tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpanya.
Dan takdir lain sudah ia derita. Dan yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi. Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama suaminya dengan penyesalan dan kecewakan terdalamnya.
Menyesali semuanya tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpanya. Dan takdir lain sudah ia derita. Dan yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
Hari telah berlalu dengan sangat cepat, baru berapa hari sebelum kematian yang dialami Alex Suami yang selama ini tidak pernah ia harapkan untuk bisa mendapatkan pintu maafnya. Tapi kejadian yang terjadi menimpanya telah menyadarkan akan isi hatinya yang sesungguhnya, harus dengan lapang dada Arabella harus berpasrah jika apa yang terjadi memanglah sungguhan bukan adanya bunga tidur yang biasa setiap malam mengganggunya.
Terkadang kita tidak pernah tahu apa arti cinta yang sesungguhnya, jika awalnya aku sempat terluka dan tidak percaya apa itu cinta, tak berapa lama akhirnya aku pun sadar jika cinta pada dasarnya hanya aku bisa membuat kita terluka. Bahkan bisa dibilang cinta yang ada hanyalah akan menjadi beban perasaan dan kehancuran semata lantas kenapa aku harus mengenal cinta. Dan merasakannya jika pada akhirnya cinta itu malah berbalik membuat hati kita sendiri yang terluka.
Berfikir untuk memiliki hubungan lagi pada seorang pria entahlah rasanya aku sudah tidak ingin merasakan semua itu .
Karena aku tahu dengan mengenal seseorang dan mencintainya yang ada aku bakal mengulang kembali rasa sakit yang pernah aku alami dimasa lalu hinga saat ini.
Seribu pertanyaan ingin sekali ia tanyakan akan tetapi mulutnya serasa terkunci. Bahkan ia tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat saat ini sungguhlah nyata. Berharap ini semua adalah mimpi tapi nyatanya ini beneran terjadi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1