Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 10 Ciuman pertama


__ADS_3

Di restoran itu, setelah selesai makan mereka tidak langsung pergi dari sana mereka masih duduk di tempatnya dan mendengarkan cerita dari Alika.


Terlihat kebahagiaan yang begitu besar di wajah gadis kecil berusia lima tahun itu.


"Mama, Papa boleh kita foto bersama? Aku ingin mengabadikan kebersamaan kita yang jarang terjadi ini," ucap Alika.


"Boleh dong sayang," ucap Rallyn.


Rallyn mengeluarkan ponselnya lalu mulai mengambil gambar mereka.


"Siap ya," ucap Rallyn dan satu jepretan kamera ponsel pun berhasil didapatkan.


"Lihat ini," ucap Rallyn memperlihatkan hasil foto nya pada Alika.


"Boleh gak kalau fotonya aku lagi dicium Papa dan Mama?"


"Boleh dong, sini mau sama Mama dulu atau Papa dulu?" ucap Jo.


"Nggak gitu, Pa kita fotonya bertiga. Papa cium pipi kiri dan Mama yang kanan," ucap Alika.


"Eumm, Mas tolong fotoin kita ya," ucap Rallyn pada salah satu pengunjung restoran yang duduk di dekat mereka.


"Oh ya, boleh Mbak." Laki-laki itu meraih ponsel Rallyn lalu mengambil foto sebanyak beberapa kali setelah itu dia mengembalikan ponsel itu pada Rallyn.


"Terima kasih ya, Mas," ucap Jo dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Iya, sama-sama, Mas."


"Bisa kita pulang?" ucap Jo.


"Mama masih harus kerja," sambung Rallyn.


Alika tersenyum lalu mengangguk mantap, mereka pun segera keluar dari restoran itu setelah hampir satu setengah jam menghabiskan waktu di sana.


Selama diperjalanan pulang, tak ada sedikitpun pembicaraan diantara mereka. Rallyn dan Jo sama-sama tak mempunyai topik pembicaraan yang bisa mereka bahas karena memang mereka belum saling mengenal satu sama lain yang akhirnya keduanya sama-sama kaku dan enggan membuka pembicaraan.


"Mama sama Papa lagi marahan ya?" ucap Alika.


Perkataan Alika membuat Rallyn dan Jo menatap anak itu lalu saling menatap satu sama lain.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Rallyn.


"Aku dan Papa suka diam-diaman saat sedang berantem. Apa Papa juga melakukan hal yang sama saat sedang marah sama Mama?" ucap Alika.


Perkataan Alika membuat Rallyn tersenyum lebar dan menatap Jo sekilas.


"Tidak. Papa tidak pernah marah sama Mama, kami terdiam karena ...." Rallyn menggantung ucapannya.


"Kenapa?" ucap Alika.

__ADS_1


"Papa lagi sakit gigi," ucap Jo.


"Sejak kapan Papa sakit gigi? Selama ini Papa tidak pernah sakit gigi. Gigi Papa putih, bersih dan sehat," ucap Alika.


Perkataan Alika membuat Jo maupun Rallyn kehabisan kata-kata yang akhirnya mereka hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Alika.


Alika memang anak yang cerdas, meski dia hidup tanpa Mama kandungnya tapi ia begitu pintar dalam semua hal termasuk hal-hal kecil yang biasa dilakukan di rumah sehari-hari.


"Kita sudah tiba. Lihat, Eyang sudah menunggumu," ucap Jo setelah mereka tiba di depan rumah Bu Reni.


Alika pun turun dari mobil lalu segera berlari menghampiri neneknya!


"Ma, aku sama Rallyn langsung pergi ya," ucap Jo tanpa turun dari mobilnya.


"Hati-hati," ucap Bu Reni.


Jo pun langsung mengemudikan mobilnya lagi menuju kantornya!


"Maaf ya hari ini Alika mungkin membuat kamu kesal," ucap Jovanka.


"Gak apa-apa, namanya juga anak kecil," sahut Rallyn.


Jo hanya tersenyum dan terus fokus pada jalanan yang sedang ia lalui.


Setelah berkendara selama sepuluh menit akhirnya mereka tiba di kantor Jo.


Setelah memarkirkan mobilnya Jo segera turun dari mobilnya dan berjalan untuk membukakan pintu mobil untuk Rallyn!


Keduanya nampak saling menatap sepertinya mereka sama-sama terkejut dengan kejadian itu.


"M_maaf. Rallyn maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya," ucap Jo.


Jo sangat takut Rallyn akan marah padanya karena sudah berani mencium kening Rallyn.


"Mmm, tidak apa. Lain kali lebih hati-hati lagi aja jangan sampai kamu ketahuan sengaja melakukan itu," ucap Rallyn sembari mengusap keningnya.


"Aku janji."


Rallyn langsung berlalu dari hadapan Jo dan langsung menuju ke meja kerjanya!


"Dari mana sama suami duda?" ucap Alice saat Rallyn tiba di meja kerjanya.


"Diam, kamu. Aku lagi bete jangan ganggu dulu," ucap Rallyn sembari menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya!


"Baru abis jalan sama suami kok bete gitu. Eh ngomong-ngomong udah belah duren belum?" ucap teman Rallyn yang satu lagi.


"Kalian bisa diam gak sih? Bertanya nya nanti saja," ucap Rallyn.


"Rallyn!" panggil Arka yang sengaja datang untuk memanggil Rallyn.

__ADS_1


"Ya, Pak ada apa?" sahut Rallyn sigap.


"Ikut ke ruangan saya," ucap Arka.


"Tapi Pak, saya belum menyelesaikan pekerjaan saya."


"Ikut saja, saya tidak meminta pekerjaan kamu yang belum selesai itu." Arka langsung pergi menuju ruangannya.


"Pasti aku mau diomelin ini gara-gara balik kantor terlambat," ucap Rallyn setelah Arka pergi.


"Gak mungkin Pak Arka berani memarahi kamu, kamu kan istrinya bos," ucap teman Rallyn yang lain.


"Istri bos apaan ... kalian gak tahu ya apa yang sebenarnya terjadi." Rallyn pun langsung berjalan menuju ruangan Arka!


"Beruntung banget jadi Rallyn baru satu bulan kerja langsung dinikahi oleh bos," ucap teman Rallyn.


"Sst! Kerja jangan ngerumpi," ucap Alice.


Mereka pun lanjut kerja sebelum kena score dari Pak Arka.


Di dalam ruangan Arka.


"Duduk," ucap Arka pada Rallyn.


"Terima kasih." Rallyn pun langsung duduk di kursi yang berada di sebrang meja kerjanya Arka.


"Maaf, Pak ada apa ya?" tanya Rallyn.


"Saya mau memberikan penawaran sama kamu."


"Penawaran apa? Saya mau mengundurkan diri tapi tadi Anda melarang," ucap Rallyn.


"Bukan penawaran itu. Sekarang kamu sudah menjadi istri dari Pak Ashka gak cocok kalau kamu duduk di posisi sekarang ini."


"Lalu?" ucap Rallyn.


"Kamu boleh menempati posisi saya yaitu asistennya Pak Ashka," ucap Rallyn.


"Nggak-nggak. Pak Arka, saya nyaman di posisi sekarang," ucap Rallyn.


"Tapi Rallyn, kamu itu istrinya Pak Ashka lho."


"Kalau gitu saya memilih mengundurkan diri saja dan silahkan minta ganti ruginya pada Pak Jovanka Ashkara itu," ucap Rallyn.


"Keras kepala sekali kamu ya. Pergilah dan lanjutkan pekerjaanmu," ucap Arka kesal.


"Terima kasih, Pak." Rallyn tersenyum lalu segera pergi dari ruangan itu!


"Rallyn memang beda dari yang lain, pantas saja Pak Ashka memilih mempertahankan dia," batin Arka sembari menatap kepergian Rallyn.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2