
Setelah kehebohan pagi tadi, kini saatnya makan siang tiba. Rallyn langsung beranjak dari duduknya dan mengajak Alice makan siang!
Di kantin kantor itu, Rallyn memesan bakso kesukaannya sedangkan Alice membawa bekal dari rumah.
"Yakin pesan dua mangkuk?" ucap Alice pada Rallyn.
"Yakinlah, masa nggak," sahut Rallyn.
"Jadi duda tua yang kamu maksud itu adalah pak Ashka," ucap Alice sembari menyuap makanannya.
"Aku gak tahu kalau ternyata dia itu bos kita," ucap Rallyn masih dengan nada kesal.
"Sekarang kamu udah mau dong jadi istrinya dia?"
"Aduh Alice, aku mau makan. Please jangan bahas dia, aku gak mau membicarakan tentang nasib aku yang jelek ini," ucap Rallyn.
Alice hanya tersenyum kecut karena mendapat respon tidak menyenangkan dari sahabatnya itu.
"Ibu bos," ucap karyawan lain.
"Gak nyangka ya ternyata ibu bos kita masih sangat muda," ucap karyawan yang lainnya.
"Ibu bos! Traktir kita ya hari ini," ucap teman mereka yang sudah dekat dengan Rallyn sejak dia masuk ke perusahaan itu.
"Diam! Diam kalian semua!" seru Rallyn sembari menggebrak meja.
Semua orang di sana terkejut melihat kemarahan Rallyn yang selama ini tidak pernah dilihat oleh mereka.
"Kalian tuh kenapa sih? Ibu bos, ibu bos. Aku ini hanya karyawan biasa di sini," ucap Rallyn.
"Dinikahi bos bukannya seneng kamu malah bete," ucap Arka.
"Pak Arka ngapain sih ikut-ikutan aja. Ah jadi malas makan kalau gini," ucap Rallyn.
Rallyn bangkit dari duduknya lalu berjalan ke tempat yang sepi tapi masih dalam area kantor.
"Mbak Rallyn! Ini baksonya," ucap petugas kantin itu.
"Makan aja. Saya udah kenyang," ucap Rallyn.
"Buat saya aja," ucap Arka.
"Anda yakin mau makan bakso milik Rallyn?" ucap Alice.
"Kenapa memangnya?" tanya Arka.
__ADS_1
"Cabainya banyak," sambung Alice.
"Gak masalah." Arka duduk di kursi tempat tadi Rallyn duduk dan mulai menyentuh bakso itu.
Di depan kantor.
Rallyn duduk bersama pak satpam yang sedang menikmati kopi dan gorengan.
"Mbak Rallyn ngapain nongkrong di sini?" ucap Pak satpam itu.
"Saya lagi pengen di sini aja, Pak. Emang gak boleh ya?" ucap Rallyn.
"Tentu saja boleh. Mbak mau kopi? Kalau mau akan saya buatkan," ucap satpam itu.
"Gak usah, Pak terima kasih."
"Mama!" seru Alika sambil berlari menghampiri Rallyn.
Rallyn dan satpam itu langsung menoleh ke arah suara dan Rallyn langsung terkejut saat melihat Alika ada di sana.
"Bu Reni," gumam satpam itu saat melihat mamanya Jo berjalan membuntuti Alika.
Rallyn tersenyum ke arah Alika lalu langsung memeluk tubuh gadis kecil itu!
"Mama kok gak pulang? Aku kangen sama Mama," ucap Alika.
"Mama gak usah kerja kan ada Papa," ucap gadis kecil itu dengan gaya polosnya.
"Hey, sayang!" Jo keluar dari kantor dan langsung melihat putrinya sedang bersama dengan Rallyn.
Jo pun langsung berjalan menghampiri mereka!
"Papa!" Alika langsung memeluk Jo saat Jo tiba di depannya.
"Ashka, Alika memaksa Mama ke sini, dia mau bertemu dengan ...." Bu Reni menghentikan ucapannya karena tidak ingat dengan nama menantu barunya.
"Rallyn. Nama saya Rallyn," ucap Rallyn seolah tahu bahwa Bu Reni akan menyebut namanya.
"Dari pagi dia ingin bertemu kamu, Nak," ucap Bu Reni sembari mengelus lengan Rallyn.
"Ma, Pa kita makan siang bersama yuk! Aku pengen pamerin Mama ke teman-teman aku," ucap Alika.
"Eumm, sayang kayaknya makan barengnya nanti aja ya. Papa lagi sibuk selain itu Mama kamu juga masih harus menyelesaikan pekerjaannya," ucap Jo.
Sebenarnya Jo tidak ingin mengecewakan putrinya tapi ia juga tidak mungkin memaksa Rallyn untuk pergi makan bersama dengan keluarganya. Ia tahu bahwa Rallyn belum menerima pernikahan mereka dan pastinya Rallyn juga belum bisa menerima Alika sebagai anak sambungnya.
__ADS_1
Alika menundukkan kepalanya dan tiba-tiba air mata pun mulai berjatuhan menetes membasahi pipinya.
"Alika, jangan nangis, sayang. Kita akan makan siang bersama kalau Papa kamu gak mau kita aja berdua," ucap Bu Reni.
Rallyn yang awalnya hanya diam kini mendekat pada Alika lalu menghapus air matanya dengan telapak tangannya.
"Ssstt, jangan nangis masa udah gede masih nangis. Malu tahu," ucap Rallyn pada Alika.
"Aku mau teman-teman aku tahu kalau aku juga punya Mama. Setiap hari aku sekolah diantar oleh Eyang, mereka mengejek ku karena aku tidak punya Mama, mereka bilang kalau aku anak nakal makanya aku tidak punya Mama," ucap Alika dengan suara terbata-bata.
Jo hanya diam mendengar curhatan Alika pada Rallyn, ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang putri tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sampai saat ini Mama kandung Alika tidak pernah menampakkan diri pada Alika meski hanya sekali seumur hidup Alika.
"Kenapa kamu mendengarkan perkataan teman-teman kamu padahal kamu tahu kamu punya Mama," ucap Rallyn.
"Karena aku tidak pernah bertemu Mama. Papa tidak pernah mengenalkan aku pada Mama," sahut Alika.
"Sekarang Mama ada di sini. Ayo kita makan siang bersama-sama," ucap Rallyn.
Meski dirinya tidak mau menerima pernikahannya dengan Jo tapi dirinya tidak bisa melihat Alika bersedih karena tak pernah bersama dengan Mamanya. Dirinya ikut sesak mendengar perkataan Alika yang sering diejek oleh teman-temannya karena tak pernah diantar sekolah oleh seorang Mama.
Sebagai seorang anak, Rallyn pernah bahkan sering merasakan kehilangan jika berpisah dengan Ibunya meski hanya beberapa saat. Ia merasa kasihan pada Alika yang seumur hidupnya sama sekali tidak pernah bertemu dengan Mamanya.
"Mama serius?" ucap Alika penuh kegembiraan.
Gadis kecil itu menatap wajah Rallyn dengan tatapan mata yang berbinar dan senyum yang mengembang lebar selebar benernya.
Rallyn tersenyum lalu mengangguk pelan. Melihat Alika yang begitu bahagia, ia pun ikut merasa bahagia.
"Kamu serius?" ucap Jo pada Rallyn.
Rallyn tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Terima kasih," ucap Jo.
"Ayo kita pergi sekarang!" Alika menggandeng Rallyn dengan tangan kanan dan menggandeng Jo dengan tangan kirinya! Mereka pun berjalan berdampingan menuju mobil Jo.
Bu Reni hanya diam dan hanya berdiri di tempat semula, ia tak berniat untuk ikut serta bersama mereka, ia ingin memberikan waktu kebersamaan antara Jo dan Rallyn agar mereka dapat mengenal satu sama lain lebih dalam lagi.
"Eyang! Ayo," seru Alika setelah masuk ke dalam mobil Jo.
"Eyang tunggu di sini saja. Eyang sakit pinggang kalau pergi lebih jauh lagi," sahut Bu Reni berbohong.
"Kita aja ya yang makan bersama," ucap Jo.
"Ya udah. Ayo kita pergi Pa," ucap Alika dengan gembira.
__ADS_1
Setelah tiba di salah satu restoran terdekat dari kantornya, mereka pun turun dari mobilnya dan mulai memasuki restoran itu!
Bersambung