
Di sekolah.
Bu Reni menepikan mobilnya di parkiran sekolah dan setelah itu mereka semua turun dari mobilnya secara bersama-sama!
Alika berjalan dengan terus menggandeng tangan Rallyn! Sebuah senyuman bahagia terus membingkai di wajahnya. Gadis itu terus berjalan menghampiri kerumunan teman-temannya yang sedang berkumpul di taman sekolah.
"Hai semuanya, lihat siapa yang bersamaku?" ucap Alika dengan gembira.
Anak-anak itu pun langsung menoleh ke arah Alika, ada beberapa anak yang menghampiri Alika dan Rallyn!
"Kamu diantar sama siapa?" tanya anak perempuan itu pada Alika.
"Ini Mamaku," jelas Alika.
"Wah ternyata benar kamu punya mama," ucap gadis itu lagi, "teman-teman lihatlah Alika ternyata punya mama!" seru gadis kecil itu lagi pada teman-temannya.
Sementara itu di tempat biasa Bu Reni menunggu Alika, Bu Reni tersenyum melihat Alika yang gembira seperti itu. Baru kali ini Alika terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan teman-temannya.
"Bu Reni, siapa yang bersama Alika?" tanya salah seorang ibu dari murid di sana.
"Itu Mamanya Alika," sahut Bu Reni.
"Wah masih muda ternyata ya Mamanya Alika itu."
Bu Reni hanya tersenyum menanggapi perkataan orang tua murid itu.
"Alika, sambil nunggu jam belajar tiba kamu makan ya biar Mama suapi," ucap Rallyn.
"Tapi Alika mau main," ucap Alika.
"Makan sambil main," ucap Rallyn dengan senyuman manisnya.
Rallyn pun membuka bekal untuk Alika dan mulai menyuapi Alika dengan telaten.
**********
Di kediaman Rallyn.
"Bu, Rallyn ada telpon?" tanya Pak Hardi pada istrinya.
"Tidak, Yah mungkin sebentar lagi dia akan menelpon," sahut Bu Herlina.
__ADS_1
"Dari tadi Ayah mau pergi kerja kayak ada yang kurang karena gak ada Rallyn," ucap Pak Hardi.
Rallyn adalah anak tunggal dari Pak Hardi dan Bu Herlina, selama ini Rallyn tidak pernah pergi sampai menginap karena itulah saat Rallyn tidak ada di rumah, orang tuanya merasa kehilangan.
"Ibu juga kayak ada yang hilang, Yah tapi mau gimana lagi kita tidak bisa melarang Rallyn pergi karena dia kan pergi sama suaminya," jelas Bu Herlina.
"Ayah ngerti, Bu. Ya kayak ada yang hilang aja gitu. Tiba-tiba anak kita menikah dan sekarang pergi," ucap Pak Hardi. Terlihat jelas di wajah Pak Hardi ada rasa yang begitu berat untuk melepaskan putri yang ia anggap masih kecil itu.
"Anak kita sudah dewasa, semoga dia bahagia dengan suaminya."
"Justru itu yang Ayah khawatirkan, Bu. Rallyn kan gak mau menikah, kemarin saja dia selalu berontak dan tak pernah memperlakukan suaminya dengan baik bahkan Rallyn tidak pernah berbicara lembut pada Jo," jelas Pak Hardi.
"Kalau di rumah mertuanya dia pasti bisa bersikap baik, Yah. Rallyn anak yang baik dan tahu cara sopan santun tidak mungkin dia bersikap seperti di rumah sendiri."
"Semoga saja, Bu. Kalau gitu Ayah pergi kerja dulu ya," ucap Pak Hardi sembari beranjak dari duduknya.
********
Di sekolah.
"Selamat siang ibu-ibu," ucap Davina pada ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya belajar.
"Belum, Mbak," sahut salah satu ibu itu.
"Masuk, tadi Bu Reni hanya mengantarkan Alika lalu pegi lagi," jelas ibu itu lagi.
"Mmm, ya udah deh biar saya yang nunggu Alika." Davina memang sering menemui Alika dan Bu Reni saat di sekolah, tujuannya hanya satu yaitu untuk mendekati mereka agar dirinya bisa lebih gampang mendapatkan Jovanka.
Rallyn yang tengah duduk di kursi taman sekolah Alika, dia sedang menunggu proses belajar mengajar selesai tak sengaja mendengar percakapan mereka, ia pun merasa penasaran siapa orang yang menanyakan Alika dan Bu Reni.
Rallyn menoleh menatap ke arah ibu-ibu yang sedang berkumpul itu dan ia langsung mendapati Davina yang berbicara dengan ibu-ibu itu.
"Perempuan itu, sebenarnya siapa dia? Waktu itu dia sangat dekat dengan Jo dan sekarang dia datang ke sini untuk menemui Mama dan Alika," batin Rallyn sambil terus menatap mereka.
"Apa mungkin perempuan itu mantan istrinya Jo?" batin Rallyn lagi.
Tak lama saat Rallyn sibuk dengan semua pertanyaannya, kegiatan belajar mengajar pun selesai. Alika keluar dari ruang kelasnya dan langsung berjalan sembari mencari-cari Rallyn.
"Sayang! Disini," ucap Davina sembari melambaikan tangannya pada Alika.
"Alika!" seru Rallyn.
__ADS_1
Alika pun langsung berlari ke arah Rallyn, sedikit pun Alika tak menghiraukan Davina.
Seketika senyum Davina lenyap begitu saja saat Alika berbelok dan menghampiri Rallyn.
"Aku cari Mama tahunya Mama ada di sini," ucap Alika pada Rallyn.
"Siapa perempuan itu, apa mungkin dia pembantu baru tante Reni?" batin Davina sembari berjalan menghampiri Alika dan Rallyn!
Tak lama sebelum Davina berhasil mendekati Rallyn dan Alika, Jo tiba di sana untuk menjemput anak dan istrinya.
"Sayang!" seru Jo sambil berlari kecil ke arah Rallyn dan Alika.
"Hai Ashka, ternyata kamu yang menjemput Alika. Aki baru tiba di sini mau jemput Alika," ucap Davina.
"Tante Davina ngapain ke sini?" tanya Alika pada Davina.
"Alika juga mengenal perempuan ini," batin Rallyn.
"Kamu gak perlu repot-repot menjemput Alika karena ini bukan kewajiban kamu," ucap Jo.
"Ashka, aku hanya ingin dekat dengan Alika," ucap Davina.
"Ni perempuan siapa sih kok dia berani nempel-nempel sama Jo?" Rallyn terus bertanya dalam hatinya tentang siapa Davina sebenarnya, mengapa Davina tak ragu untuk menggenggam tangan Jo bahkan berusaha memeluk Jo.
"Kita langsung pulang saja yuk! Di sini panas," ucap Rallyn.
"Ini pengasuh Alika? Wah, Ashka kamu pintar sekali mencari babbysitter," ucap Davina.
"Dia istriku," ucap Jo.
Davina menatap dan memperhatikan Rallyn dari ujung kepala hingga ujung rambut lalu tertawa kecil.
"Yang benar saja, kamu menikahi gadis SMA?" ucap Davina yang mengira Rallyn masih seorang siswa.
"Terserah apa yang kamu pikirkan. Ini Rallyn, istri aku," ucap Jo.
Jo langsung memangku Alika lalu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Rallyn dan mulai berjalan meninggalkan area sekolah!
"Dia pasti bercanda," gumam Davina sembari terus menatap kepergian mereka.
"Kalau pun benar perempuan itu adalah istri kamu, aku akan menyingkirkan dia karena hanya aku yang berhak memiliki kamu Ashka," batin Davina.
__ADS_1
Bersambung