Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 70 pertemuan mengejutkan Bu Reni dan Kalila


__ADS_3

Keesokan harinya sekitar pukul lima pagi. Rallyn baru terbangun dari tidurnya, dia langsung memeriksa ponselnya yang ternyata mati. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya lalu segera mengisi daya baterai ponselnya, setelah tersambung dia pergi ke kamar mandi untuk segera memberikan diri.


Lima belas menit dia di dalam kamar mandi, akhirnya dia selesai dengan semua urusan pribadinya. Dia menghampiri ponselnya dan segera menyalakannya. Setelah ponselnya menyala, dia mendapat banyak notifikasi panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan dari Bu Reni dan juga Bu Ningrum.


Rallyn membaca pesan dari Bu Reni dan alangkah terkejutnya dia saat membaca pesan itu yang mengatakan bahwa Jo mengalami kecelakaan saat hendak pulang ke rumahnya. Tak terasa air mata menetes dari pelupuknya, tanpa pikir panjang dia segera mengenakan pakaiannya dan langsung bergegas pergi ke rumah sakit dengan tanpa menggunakan make_up bahkan rambutnya pun masih dalam keadaan basah.


"Rallyn, kamu mau ke mana? Masih terlalu pagi untuk pergi ke luar," ucap Pak Hardi yang baru pulang dari masjid.


"Aku mau ke rumah sakit, Yah. Jo kecelakaan," sahut Rallyn sembari memutar motornya hendak segera pergi.


"Apa? Sekarang dia di rumah sakit mana? Ayah juga mau menengoknya."


"Di rumah sakit xxx. Aku duluan ya, Yah." Rallyn pun langsung tancap gas. Dia begitu khawatir pada suaminya itu.


Dua puluh menit berkendara. Rallyn tiba di rumah sakit itu, dia memarkirkan motornya dan langsung berlari memasuki rumah sakit itu. Dia mengambil ponselnya lalu menelpon sang ibu mertua untuk menanyakan di ruangan mana Jo dirawat.


[Ma. Mas Jo dirawat dimana? Sekarang Mama di mana?] kata Rallyn setelah Bu Reni menerima telponnya.


[Di ruangan VIV di lantai dua, dengan nomor ruangan 112.]


Rallyn pun segera naik ke lantai dua dengan menaiki lift, setelah itu dia segera mencari kamar dengan nomor 112 seperti yang diberitahukan oleh ibu mertuanya. Tak lama dia melihat Bu Ningrum sedang berdiri di samping pintu ruangan yang di dalamnya ada Jo, dia pun langsung berlari menghampiri Bu Ningrum. Dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, dia bertanya pada Bu Ningrum.


"Nek, di mana Mas Jo? Apa dia baik-baik saja. Maafkan aku karena aku baru bisa datang, semalam handphoneku mati," jelas Rallyn.


"Dia di dalam. Kamu lihat saja sendiri kondisinya," ucap Bu Ningrum.


Rallyn membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam ruangan itu. Di sana ada Bu Reni yang sedang duduk sambil menatap Jo yang terbaring dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


"Mas," ucap Rallyn lalu segera menghampiri Jo.

__ADS_1


"Kenapa begini, Mas?" tanya Rallyn sembari menangis.


"Rallyn, itu benar suara kamu?" tanya Jo.


Jo membuka matanya tapi dia bertanya seperti itu. Dia menggerakkan sebelah tangannya mencari-cari di mana sosok istrinya. Hal itu membuat Rallyn kebingungan, dia segera meraih tangan Jo lalu menggenggamnya.


"Aku di sini, Mas," ucap Rallyn.


"Dia mengalami kebutaan akibat kecelakaan yang dialaminya," jelas Bu Reni tanpa menunggu Rallyn bertanya.


Deg! Serasa dihantam petir di siang bolong, tiba-tiba jantungnya terasa berhenti berdetak. Rallyn menatap wajah sang suami yang kini tak dapat menatapnya lagi. Betapa dia terkejut mendengar pernyataan yang begitu berat ini.


"Apa?" gumam Rallyn.


"Selain itu, Ashka juga mengalami kelumpuhan," sambung Bu Reni lagi.


Air mata Rallyn semakin deras saat mengetahui bahwa suaminya juga mengalami kelumpuhan. Dirinya hancur mendengar semua kenyataan yang harus diterima oleh suaminya.


"Mas, kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah," ucap Rallyn yang semakin mengetatkan genggamnya di tangan Jo.


"Kamu akan sembuh. Aku yakin kamu akan kembali seperti semula lagi," ucap Rallyn lagi. Sesekali dia mencium tangan Jo dengan lembut.


"Aku sudah tidak berguna lagi, sekarang. Aku tidak akan menahanmu untuk pergi, aku tidak bisa lagi membahagiakan kamu," ucap Jo.


"Jangan bicara seperti itu, Ashka. Kamu pasti sembuh," ucap Bu Reni.


"Mama benar. Jangan bahas itu dulu, Mas. Fokus pada penyembuhan kamu dulu, aku di sini, untuk kamu," sambung Rallyn.


*******

__ADS_1


Waktu terus berjalan, kini siang hari mulai menyapa. Seperti biasa, Kalila akan datang ke kantor Jo untuk menemui kekasihnya itu. Dengan tanpa ragu, dia berjalan masuk ke dalam kantor itu dan langsung menuju ruangan Jo.


Setibanya di depan pintu ruangan Jo, dia langsung membuka pintu itu dengan senyum lebar selebar bibirnya. Seketika senyumannya bilang begitu saja saat dia melihat Bu Reni yang duduk di kursi Jo.


"Mama," ucapnya dengan raut wajah terkejut.


"Kenapa? Kaget, kamu saat melihat saya di sini?" tanya Bu Reni dengan nada bicara datar.


"Ma. Kok, Mama yang di sini. Ashka ke mana?" tanya Kalila yang sudah tak punya rasa malu.


"Ashka kecelakaan tadi malam. Mulai sekarang saya yang akan menggantikan posisi dia," jelas Bu Reni.


"Apa! Terus sekarang kondisinya bagaimana, di rumah sakit mana dia dirawat?" tanya Kalila yang terkejut mendengar pernyataan dari mantan ibu mertuanya itu.


"Kamu pikir, saya akan memberi tahu kamu? Tidak, Kalila. Saya tidak sudi anak saya dekat-dekat dengan perempuan pembawa petaka seperti kamu. Sekarang anak saya kecelakaan pasti gara-gara kamu, gara-gara kamu yang selalu datang menggodanya," ucap Bu Reni dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Kenapa, Mama menyalahkan aku? Kami berdua saling mencintai, Ma," ucap Kalila.


"Diam kamu, Kalila! Saya sudah muak melihat wajah kamu. Pergi kamu!" bentak Bu Reni hingga suaranya terdengar sampai ke luar ruangan itu.


Arka yang kebetulan lewat ke ruangan itu, langsung masuk ke dalam ruangan Bu Reni karena takut tejadi sesuatu fi dalam sana. Dia melihat Kalila berdiri di hadapan Bu Reni dan Bu Reni yang duduk sambil menatap Kalila dengan tatapan tajam.


"Ada apa ini? tanya Arka.


"Arka, bawa perempuan ini keluar dari sini! Jangan biarkan dia masuk lagi ke kantor saya," titah Bu Reni pada Arka.


Arka mengangguk lalau menarik tangan Kalila dan menyeretnya ke luar ruangan itu tanpa berkata-kata. Kalila sempat menolak, tapi Arka terus memaksanya keluar. Jangankan Bu Reni, dirinya saja sudah tak ingin berbicara dengan perempuan yang saat ini sedang dipaksanya keluar dari area kantornya.


"Lepaskan!" Kalila menarik tangannya kasar hingga terlepas dari cengkraman Arka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2