
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, mobil yang dikemudikan oleh Jovanka itu tiba di depan rumah sakit terdekat dari rumahnya. Jo segera turun dari mobilnya lalu membuka pintu belakang untuk mengeluarkan sang ibu yang kini tak sadarkan diri. Beberapa petugas rumah sakit langsung menghampiri mobil Jo dengan membawa tandu berjalan untuk mengevakuasi pasien.
Rallyn dan Jo turut mendorong tandu itu sampai tiba di depan ruangan IGD. Setelah itu mereka membiarkan dokter menangani Bu Reni agar dapat diselamatkan. Di depan ruangan itu baik Rallyn mau pun Jo hanya saling diam, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Rallyn hanya berdiri sambil menyadari punggungnya di dinding. Dia sedih kecewa atas perbuatan suaminya terhadapnya dirinya dan kini dia juga sedih karena sang ibu mertua yang tiba-tiba sakit, mungkin karena berita buruk yang disampaikannya. Dia merasa bersalah karena terlalu egois, seharusnya dirinya tidak perlu memberitahu mereka tentang Jo yang memilih menjalin hubungan lagi dengan mantan istrinya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan itu. Jo dan Rallyn pun langsung menghampirimu dokter itu dengan langkah cepat.
"Dokter, bagaimana keadaan mama saya?" tanya Jo pada dokter itu.
"Pasien selamat tapi masih harus dirawat di rumah sakit ini," jelas dokter itu.
"Dokter, kalau boleh tahu. Kenapa tiba-tiba mama saya pingsan?" tanya Rallyn yang masih merasa bersalah.
"Pasien memiliki riwayat penyakit jantung. Saat penderita penyakit jantung mendengar berita yang mengejutkan dalam arti kata dia kaget atau terkejut maka reaksinya akan seperti ini. Saya sarankan agar pasien tidak mendengar berita buruk agar perasaannya tidak terguncang," jelas dokter itu.
"Baik, terima kasih, dokter," ucap Rallyn.
"Kalian bisa menemui pasien saat pasien sudah dipindahkannya ke ruang rawat inap," jelas dokter itu lagi.
Jo dan dan Rallyn hanya mengangguk paham. Mereka membiarkan dokter itu pergi dari sana tanpa mengucapkan sesuatu apa pun lagi. Rallyn duduk di kursi ruang tunggu sedangkan Jo terdiam di tempat itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Setelah beberapa menit. Kini Bu Reni sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan dia pun sudah bisa ditemui.
Di ruangan itu. Rallyn duduk di kursi yang berada di samping ranjang rumah sakit yang di atasnya ada Bu Reni yang sedang terbaring lemah. Dia menatap wajah ibu mertuanya dengan tatapan sendu, tak sedikit pun kata yang terucap dari bibirnya. Saat itu hanya ada suara isak tangis dari mulut Rallyn.
__ADS_1
"Rallyn," gumam Bu Reni sembari meraih tangan Rallyn.
"Iya, Ma. Ada apa? Mama mau minum atau mau ke toilet?" tanya Rallyn sigap.
"Jangan jangan pergi. Mama mohon," ucap Bu Reni yang tak mendapat respon dari Rallyn karena perempuan itu hanya diam sembari menundukkan kepalanya.
"Jangan pikirkan itu dulu, Ma. Fokus saja pada kesembuhan Mama," ucap Jo sembari berjalan menghampiri Bu Reni.
"Keterlaluan kamu, Ashka. Mama kecewa sama kamu," ucap Bu Reni.
"Ma, udah. Jaga emosi, Mama. Aku gak mau Mama terus terbaring di sini," ucap Rallyn.
"Eyang!" seru Alika yang baru tiba di ruangan itu.
Akika datang bersama Bu Ningrum. Gadis kecil itu sangat mengkhawatirkan neneknya hingga dia terus saja meminta Bu Ningrum untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Aku mau melihat Eyang, aku mau menemani Eyang di sini," jelas Alika.
Bu Ningrum berjalan mendekati Bu Reni lalu menatap menantunya yang sedang terbaring sakitnya. "Kamu baik-baik saja, Re?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir," sahut Bu Reni dengan suara pelan.
"Syukurlah, cepat sembuh kasian Alika yang mengkhawatirkan kamu terus," ucap Bu Ningrum lagi.
"Aku juga gak mau seperti ini, Ma."
__ADS_1
"Ma, aku izin ke luar sebentar," ucap Rallyn yang mesra tidak nyaman berada di dekat Jo. Amarahnya belum mereda hingga dirinya merasa tidak suka melihat sosok suaminya di sana.
"Kamu mau kemana? Mama gak mau kamu pergi kalau pun harus ada yang pergi. Kalila orangnya, dia yang harus pergi dari rumah tangga kalian," ucap Bu Reni.
"Jangan bahas itu dulu, Ma. Aku gak mau membahas itu dan lagi aku gak akan pergi, aku hanya keluar untuk mencari angin segar. Aku merasa sesak di sini," ucap Rallyn.
"Biar Alika temani," ucap Bu Ningrum. Sengaja dia menyuruh Rallyn membawa Alika agar Rallyn tidak bisa pergi jauh. Dirinya tidak rela jika harus kehilangan sosok Rallyn dalam keluarganya.
Rallyn mengangguk pelan lalu menggandeng Alika. Dia pun langsung keluar dari ruangan itu tanpa berucap sesuatu apa pun lagi.
Setelah Rallyn pergi. Bu Ningrum menatap Jo dengan penuh kekecewaan. "Keterlaluan sekali kamu, Ashka! Apa kurangnya Rallyn itu, hah! Dia cantik, dia baik dia sayang sama anak kamu tapi kenapa kamu memperlakukan dia seperti ini?" ucap Bu Ningrum.
"Aku mencintainya, aku tidak ingin dia pergi tapi aku juga mencintai Kalila. Aku tidak bisa melupakan Kalila," jelas Jo.
"Apa yang kamu lihat dari perempuan itu, Ashka? Dulu dia meninggalkan kamu dan anak kamu disaat kamu susah, disaat perusahaan kamu mengalami kebangkrutan bahkan dia sampai menyebabkan papamu meninggal dan sekarang ... setelah lima tahun, setelah perusahaan kamu bangkit dengan seenaknya dia mau masuk lagi kedalam keluarga ini. Buka mata kamu, Ashka!" Karena terlalu emosi, tak sadar Bu Ningrum berteriak di dalam ruangan itu.
"Pergilah, Ashka jika kamu ingin bersama Kalila tapi jangan bawa sedikit pun harta peninggalan papa kamu. Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah membiarkanmu perempuan itu mencicipi uang yang dihasilkan dari perusahaan papa. Mama tidak ikhlas," ucap Bu Reni.
"Ma, aku tidak akan pergi meninggalkan Mama. Aku sayang sama mama," ucap Jo.
"Tapi perlakukan kamu pada Rallyn menandakan bahwa kamu tidak pernah menyayangi mama. Mama lebih baik kehilangan kamu daripada kehilangan Rallyn. Mama kecewa sama kamu," ucap Bu Reni lagi.
Semenjak kejadian lima tahun lalu itu, Bu Reni dan Bu Ningrum sangat membenci sosok Kalila. Mereka kecewa karena ternyata Kalila hanya mencintai harta Jo saja, semua terbukti dengan kepergian Kalila saat perusahaan mereka merosot dan semua semakin jelas karena Kalila pernah berkata bahwa dia tidak ingin hidup susah besama Jo dan anaknya.
Kalila membuat luka dalam di hati mereka dan tentunya Jo juga tapi entah apa yang ada dalam pikiran Jo sehingga kini dia mau menerima Kalila kembali. Seolah dia lupa dengan luka masa lalu hingga dia rela mengecewakan Rallyn yang jelas-jelas lebih baik dari mantan istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung