
Rallyn masih berdiri di tempatnya dan tiba-tiba Jo memeluknya dari belakang!
"Kamu menggoda ku," ucap Jo sembari mencium leher belakang Rallyn.
Rallyn menggeliat karena merasakan desiran halus yang menusuk kalbu.
"Kamu mau apa?" tanya Rallyn dengan suara seolah sudah dikuasai oleh hasrat bercinta.
Jo terus saja mencium leher belakang Rallyn sambil memainkan dua benda yang terdapat di dada Rallyn.
Rallyn terdiam mematung saat merasakan sentuhan yang berbeda, sentuhan yang kini sudah membawanya ke alam surga.
Untuk sesaat Jo menghentikan permainannya dan mematikan lampu darurat yang ditinggalkan oleh Bu Reni di kamarnya.
Rallyn pun langsung memeluk Jo karena memang dia takut kegelapan!
"Kenapa dimatikan?" tanya Rallyn.
Jo tersenyum lalu menyalakan senter kecil yang penerangannya sangat minim.
"Sekarang sudah ada cahaya, apa kamu masih takut?" ucap Jo.
Rallyn menggelengkan kepalanya, perlahan ia melepaskan tangannya yang sedang memeluk Jo!
"Kamu akan lebih suka kegelapan saat sedang bersamaku," ucap Jo yang tak membiarkan Rallyn melepaskan pelukannya.
Jo melingkarkan tangannya di pinggang Rallyn dan semakin mengeratkannya agar tidak ada jarak diantara mereka.
"Ahh, kamu membuat aku sesak," ucap Rallyn karena Jo terus mengeratkan pelukannya.
"Kenapa? Tadi kamu bilang kamu sudah tidak takut," ucap Jo sembari menempelkan keningnya pada kening Rallyn.
"Sekarang aku bukan takut pada kegelapan, aku takut padamu," ucap Rallyn sembari menahan dada Jo agar tak menempel pada tubuhnya.
"Aku tidak mengigit. Tenang saja," bisik Jo.
Jo mulai ******* bibir Rallyn yang sedari tadi mengganggu otaknya, tangan nakalnya pun mulai meraba bagian dada sang istri dan berusaha melepaskan handuk yang dipakai untuk menutupi tubuh Rallyn.
Rallyn hanya pasrah dengan keadaan saat itu, matanya tertutup dan tangannya mencengkeram baju Jo dengan sangat erat.
__ADS_1
Jo terus bermain karena merasa tidak mendapat penolakan dari Rallyn, dengan santainya ia menyusuri setiap lekukan tubuh ramping milik gadis bernama Rallyn itu.
Satu per satu Jo membuka kancing bajunya, perlahan tapi pasti Jo mulai membuka bajunya. Dengan masih berdiri di tempat itu mereka berdua saling serang satu sama lain dan saling berbagi kenikmatan yang baru Rallyn rasakan dalam seumur hidupnya.
Jo memangku tubuh Rallyn dan merebahkannya di atas tempat tidur!
Jo tak membiarkan waktunya terbuang sedikit pun, dia langsung menindih tubuh Rallyn dan kembali melanjutkan permainannya. Kini Jo sudah sampai bawah tapi tidak berniat untuk melakukan permainan yang lebih gila dari itu.
Jo masih ingat dengan Rallyn yang belum mengizinkannya untuk masuk ke area sana. Perjanjiannya hanya bagian atas dan tengah saja yang boleh ia datangi tapi sepertinya Jo sedikit melanggar perjanjian itu karena kini dia asyik bermain di area yang Rallyn larang.
"Aaah." suara de****n halus terdengar dari mulut Rallyn.
Jo menatap wajah Rallyn yang sedari tadi hanya menutup mata, sebuah senyuman terukir di bibirnya lalu ia kembali melanjutkan aksinya.
Hampir dua puluh menit berlalu, Jo sudah selesai dengan hasratnya, meski tak melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya tapi ia cukup puas karena apa yang ia tahan-tahan selama ini sudah terpenuhi.
Jo mencium pipi Rallyn dan menutup tubuh polos itu dengan selimut.
"Terima kasih dan maaf sedikit melanggar perjanjian kita," bisiknya namun tidak dihiraukan oleh Rallyn.
Malam ini menjadi malam yang membawa keberuntungan bagi Jo, meski tidak beruntung sepenuhnya tapi setidaknya ia dapat menikmati apa yang seharusnya dia dapatkan dari Rallyn.
Di kediaman Kalila.
"Ashka sudah kaya lagi? Itu artinya dia tidak bangkrut, perusahaannya tidak mengalami kebangkrutan," batin Kalila.
Ada sedikit penyesalan dalam diri perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu. Setelah tahu perusahaan Jo sudah bangkit lagi, ia menjadi ingin kembali pada Jo dan hidup seperti dulu lagi.
Ya, sebelum mereka menikah perusahaan Jo memang sedang maju pesat tapi setelah dirinya hamil perusahaan keluarga Jo mulai menurun bahkan saat dirinya melahirkan Alika, perusahaan milik keluarga Jo sudah benar-benar bangkrut. Dirinya yang tidak ingin hidup miskin pun memilih pergi dan kembali pada orang tuanya yang tinggal di luar negeri.
"Dulu aku yang mendampingi Ashka saat dia sulit, apa salahnya sekarang aku kembali dan meminta hidup bersama lagi dengan Ashka, lagipula saat aku pergi, dia masih mencintaiku mungkin sampai sekarang dia masih mempunyai perasaan yang sama padaku," batin Kalila lagi.
Kalila tersenyum membayangkan dirinya yang akan hidup bersama lagi dengan Ashka dan dengan harta kekayaan yang melimpah tentunya.
*******
Malam ini waktu terasa berjalan begitu cepat, baru mereka tidur dan pagi pun mulai menyapa.
Rallyn membuka matanya dan merasakan sesuatu menindih tubuhnya. Dia membuka selimutnya dan benar saja, ia mendapati tangan Jo menindih perutnya yang ternyata masih polos tanpa sehelai benang pun.
__ADS_1
Semalam setelah permainan panas itu, dirinya merasa kelelahan dan langsung tertidur, dirinya baru terbangun saat mendengar suara azan subuh berkumandang.
Rallyn menggerakkan tubuhnya dan mencoba menyingkirkan tangan Jo dari perutnya namun, bukannya menyingkir dari tubuhnya, Jo malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Baru subuh, kamu mau kemana?" tanya Jo tanpa membuka matanya.
"Aku mau mandi, gerah dari semalam gak mandi," ucap Rallyn.
Jo membuka matanya lalu tersenyum, tangan nakal itu mulai beraksi lagi di tempat favoritnya.
"Hentikan, gak cukup apa semalam membuat aku lemas," ucap Rallyn.
"Itu belum apa-apa. Saat nanti aku menunjukkan kehebatan rudal ku, kamu akan semakin lemas tak berdaya," bisik Jo.
"Diamlah, jangan menakut-nakuti aku," ucap Rallyn.
"Gimana kalau kita buktikan sekarang?"
"Kenapa tidak tadi malam saja sekalian," batin Rallyn.
Semalam memang dirinya sudah terlanjur mendapatkan kenikmatan duniawi dari Jo, bahkan kalau pun Jo melanggar perjanjian mereka, Rallyn tidak akan marah karena sebenar semalam dirinya sudah mengizinkan suaminya itu untuk melakukannya.
"Kamu terdiam, berarti boleh," ucap Jo lagi.
"Nggak boleh. Lain kali saja, sekarang sudah pagi tuh, kamu harus ke kantor dan aku juga harus ke kantor," ucap Rallyn sembari berusaha melepaskan tangan Jo yang masih melingkar di tubuhnya.
"Malam nanti ya," ucap Jo.
"Terserah kamu tapi aku tidak janji kalau tiba-tiba aku ketakutan aku mau lari ke kamar mama," ucap Rallyn dengan sedikit bercanda.
"Serius boleh?" Jo menatap Rallyn penuh harap.
Rallyn menatap Jo balik lalu tersenyum lebar.
"Ngaco kamu, baru kemarin kita melakukan perjanjian masa hari ini kamu sudah mau melanggarnya?" ucap Rallyn.
Jo terdiam, padahal dirinya sangat berharap bisa melakukan malam pertama secepatnya sementara itu Rallyn hanya mengulum bibirnya saat melihat Jo yang nampak kecewa padahal tanpa meminta izin pun Rallyn sudah siap untuk menerima kedatangan Jo.
Bersambung
__ADS_1