
[Halo, Ashka. Tadi aku ke kantor, tapi kamu gak ada. Mana bilang kamu kecelakaan semalam, sekarang kamu di mana dirawat di rumah sakit mana?] kata Kalila sebelum Jo berbicara padanya.
"Kamu khawatir padaku?" tanya Jo.
[Tentu saja. Katakan sekarang kamu di mana, aku khawatir padamu, Ashka.]
"Aku di rumah xxx. Di ruangan nomor 112."
Rallyn menghela napasnya berat lalu membuangnya kasar. Dia meneteskan air mata saat Jo memberitahu Kalila di mana dirinya berada. Dalam hatinya dia berharap, Jo tidak harus memberitahu Kalila, tapi dirinya juga tidak mungkin mengajak Jo bertengkar dalam kondisi suaminya yang sekarang ini.
"Kalila akan ke sini," ucap Jo setelah sambungan telponnya terputus.
Rallyn langsung menarik tangannya dan meletakkan kembali ponsel itu di atas meja. Dia tak berucap apa pun, hanya ada air mata yang mengiringi pilu dalam hatinya.
"Ya Allah. Sakieu mah kurang meureun teguran teh. Meuni teu sadar saeutik-eutik acan ieu lalaki," gumam Rallyn setelah beberapa saat terdiam.
"Kamu bicara apa?" tanya Jo yang tak mengerti dengan perkataan Rallyn yang menggunakan bahasa Sunda.
"Aku berharap setelah ini, kamu benar-benar menceraikan aku. Aku sudah lelah," ucap Rallyn yang sebenarnya bukan itu arti dari perkataannya tadi.
"Jangan. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu," ucap Jo.
"Ih, sudah dalam kondisi seperti ini saja masih itu-itu aja jawaban kamu, teh. Na iraha rek nyarios. Nya ke ku abdi rek diserahkeun ka bapa sareng ka umi," ucap Rallyn lagi.
"Kamu, tuh kalau bicara jangan pakai bahasa asing. Aku gak ngerti," ucap Jo.
"Bodoamat, emang sengaja biar kamu gak ngerti. Kalau aku berani udah aku racuni kamu sekarang juga," batin Rallyn.
Beberapa menit tak ada pembicaraan diantara mereka. Jo meminta Rallyn mengambilkan ponselnya lagi. "Tolong ambilkan handphoneku," ucapnya.
Rallyn tak berucap. Dia mengambil lagi ponsel itu lalu meletakkan ponsel itu di genggaman Jo. Dia lupa kalau suaminya itu sudah tak dapat melihat lagi, hingga dia memberikan ponsel itu pada suaminya.
"Aku tidak bisa melihat. Bisa bantu aku?" ucap Jo.
"Maaf, Mas. Aku lupa." Rallyn mengambil lagi ponsel itu dari tangan Jo.
"Kamu mau apa dengan handphonemu, mau menelpon selingkuhan kamu itu?" tanya Rallyn.
__ADS_1
"Masuk ke mobile banking. Aku ingin mentransfer uang pada Ashka," jelas Jo.
Rallyn menyalakan ponselnya hendak mengikuti perintah dari suaminya itu, tapi dirinya tidak bisa mengakses ponsel itu karena menggunakan kata sandi untuk masuk ke menu handphone milik sang suami. "Butuh kata sandi. Aku tidak tahu apa kata sandinya," ucap Rallyn.
"Ketik nana kamu dan tanggal pernikahan kita," ucap Jo.
Rallyn langsung mengetik namanya dan ternyata benar, kunci ponsel itu pun terbuka. Dia langsung membuka aplikasi BRImo dan dia kembali harus memasukkan username pada aplikasi itu.
"Usernamenya apa?" tanya Rallyn.
"Jovanka25, sandinya Jovaskha221," ucap Jo lagi.
Rallyn segera mengetik sesuai yang diberitahukan oleh Jo dan kini dia sudah dalam menu mobile banking milik Jo. "Di sini ada bekas pengiriman uang ke rekening atas nama Arka Pradipta, apa ini nomor rekening Pak Arka?" tanya Rallyn.
"Iya. Transfer 15 juta padanya. Itu bonus untuknya bulan ini," jelas Jo.
"Udah aku transfer, butuh nomor pin untuk menyelesaikannya," ucap Rallyn lagi.
"Pin nya 552267," ucap Jo. Dan tak butuh waktu lama, transaksi pun sudah selesai.
"Udah selesai, sekarang apa lagi?" tanya Rallyn lagi dengan penuh kesabaran.
"Gak usah, uang bulan lalu masih ada," ucap Rallyn.
"Tidak apa-apa. Itu hak kamu, kamu transfer aja lagi dari situ. Sekalian kamu pegang handphoneku," ucap Jo lagi.
"Nanti kalau kamu gak sadar-sadar. Aku gasak semua uang kamu ini," ucap Rallyn tanpa ragu.
"Oh, rupanya kamu hanya menginginkan uangnya Ashka? Ketahuan ya, busuknya kamu," ucap Kalila yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
Rallyn menatap Kalila yang masih berdiri di ambang pintu. Dia menatap Kalila dengan tatapan sini.
"Rallyn-Rallyn. Emang dasar ya, kalau terlahir dari kalangan bawah tuh, yang dicari uang, uang dan selalu uang," ucap Kalila sembari berjalan menghampiri Jo.
"Kalila, kamu sudah tiba?" tanya Jo sembari mengangkat tangannya ke semarang arah untuk menyambut Kalila.
Kalila menghentikan langkahnya. Dia kebingungan mengapa Jo mengarahkan tangannya ke arah yang tidak tepat.
__ADS_1
"Selingkuhan kamu ini sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Dia buta dan dia juga lumpuh," ucap Rallyn sembari meninggalkan ruangan itu karena tak ingin mendengar percakapan mereka dan melihat tingkah laku mereka yang selalu berhasil membuatnya sakit hati.
"Apa! Sayang, kenapa begini?" Kalila terkejut. Dia langsung mendekati Jo lalu menggenggam tangannya.
"Kamu pasti sembuh. Mungkin ini hanya sementara, tenang ya ada aku di sini," ucap Kalila.
"Aku tahu kamu pasti akan selalu bersamaku. Terima kasih, Sayang," ucap Jo dengan senyuman lebar di bibirnya.
Jo mengelus punggung tangan Kalila dan Kalila mencium pipi Jo. Melihat mereka, Rallyn langsung membalikkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di dinding kaca itu. Dia menangis, entah kenapa, berkali-kali tersakiti oleh Jo, tapi dirinya tetap saja bertahan dalam rumah tangga yang menyakitkan itu.
Setelah beberapa detik. Rallyn pergi untuk mencari kesenangan di luar, dia tidak ingin bersedih memikirkan melakukan suaminya yang tidak sadar juga. Sementara itu, di dalam ruangan rawat Jo.
Kalila duduk di kursi tempat tadi Rallyn duduk. Dia terus menggenggam tangan Jo sambil terus mengelus lengan Jo dengan tangan yang satunya. Kalila menangis melihat kondisi Jo saat ini, dia tidak tega orang yang dicintainya seperti itu.
"Kal," ucap Jo.
"Ya. Ada apa?" ucap Kalila.
"Di sini ada Rallyn?" tanya Jo.
"Tidak ada. Dia pergi," sahut Kalila yang memang Rallyn tidak ada di sana.
"Di meja ada dompetku. Tolong ambilkan uang dari sana," pinta Jo.
Kalila tersenyum lalu segera meraih dompet Jo yang tergeletak di atas meja. "Kamu mau mengambil uang untuk apa?" tanya Kalila sembari mengambil dompet itu.
"Untuk Rallyn beli makan. Ambilkan lima juta dan letakan di meja," titah Jo lagi.
Kalila membuka dompet itu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat isi dompet Jo yang begitu tebal. Dia mengeluarkan lima juta dan diletakkan di atas meja sesuai permintaan Jo, tapi sebelum dia meletakkan dompet itu lagi. Dia mengambil sisa uang itu dan memadukannya ke dalam tasnya.
"Lumayan, buat jajan. Yang lama aja kamu butanya, Ashka," ucap Kalila di dalam hatinya.
"Sudah aku ambil lima juta dan sudah aku letakkan di meja," ucap Kalila pada Jo.
"Terima kasih ya. Uang kami yang kemarin aku kasih, masih ada 'kan? Aku belum bisa memberi kamu uang lagi selama aku sakit," jelas Jo.
"Gak, apa-apa, Sayang. Aku gak masalah yang penting kamu cepat sembuh biar kita bisa jalan berdua lagi," ucap Kalila dengan mengulas senyum terpaksa di bibirnya.
__ADS_1
Bersambung