Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 25 Tadi gak sakit


__ADS_3

Pagi hari, semua orang di rumah Bu Reni sedang sarapan bersama.


"Gari ini aku sekolah diantar Mama ya," ucap Alika.


"Mama harus kerja, Sayang," ucap Jo.


"Nggak apa-apa, hari ini aku minta cuti ya, aku mau antar Alika sekolah," ucap Rallyn.


"Oh ya udah, kalau kamu mau nya gitu," ucap Jo.


"Alika, makan dulu biar sekolahnya pintar," ucap Bu Reni dengan senyuman di bibirnya.


"Alika gak mau makan, Eyang," ucap Alika.


"Anak zaman sekarang emang susah makan," ucap Bu Ningrum.


"Alika gak lapar," ucap Alika lagi sambil mendorong piring makannya yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.


Rallyn beranjak dari duduknya dan menghampiri Alika yang duduk di samping Bu Reni!


"Mama suapi ya." Rallyn meraih piring makan Alika lalu menyendok nasinya.


"Ayo buka mulutnya," ucap Rallyn sembari menyediakan sendok berisi nasi ke mulut Alika.


"Gak mau," ucap Alika sambil memalingkan wajahnya.


"Alika! Alika! Makan kalau gak makan nanti mamanya papa bawa ke kantor," ucap Jo dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Ayo, Sayang makan dulu," ucap Rallyn lagi.


Alika masih kukuh tidak mau makan nasi itu.


"Rallyn, udah biarin aja dulu Alika, kamu lanjut makan saja," ucap Bu Reni.


"Permisi, Bu. Ibu memesan baju-baju ini dari butik?" tanya Lela sembari memperlihatkan beberapa dress padaBi Reni.


"Orangnya udah datang ya? Iya, saya yang memesannya. Taruh saja di kamar Jo, itu pakaian untuk Rallyn," ucap Bu Reni.


"Ma, padahal gak usah sebanyak itu, aku baru beli baju kemarin," ucap Rallyn.


Jo tersenyum melihat mamanya begitu baik pada Rallyn.


"Gak apa-apa Rallyn, kemarin kan kamu beli baju buat di rumah orang tua kamu sekarang kan kamu di sini nanti kamu pilih-pilih aja yang mana yang kamu sukai kalau ada yang tidak cocok bisa dikembalikan lagi ke butik," jelas Bu Reni.


"Semuanya pasti cocok kalau dipakainya sama Rallyn kalau aku yang pakai gak bakal ada yang cocok, yang ada aneh jadinya," ucap Jo.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma maaf sudah merepotkan," ucap Rallyn.


"Jangan berterima kasih, Mama senang ada kamu di sini," ucap Bu Reni.


"Alika gak mau makan nasi ini?" tanya Rallyn pada Alika yang hanya dibalas anggukan saja oleh Alika.


"Gak apa kalau gak mau makan nanti Mama buatkan bekal untuk Alika makan di sekolah ya," ucap Rallyn.


"Kayaknya aku berangkat lebih awal, lupa kalau hari ini ada rapat," ucap Jo sembari melihat jam di tangannya.


"Aku berangkat sekarang ya, bye Alika," ucap Jo lalu berjalan meninggalkan ruang makan dengan menenteng tas kerjanya!


"Papa!" seru Alika.


Seketika Jo menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menjadi menghadap meja makan lagi!


"Ya, ada apa, Sayang?" tanya Jo.


"Waktu aku menginap di rumah Tante, biasanya kalau Om mau pergi kerja suka cium pipi, cium kening Tante dulu kenapa, Papa nggak mencium Mama?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"A– itu ... itu. Oh iya, Papa lagi sakit gigi," sahut Jo dengan gelagapan.


Bu Ningrum dan Bu Reni tersenyum melihat tingkah Jo yang gugup karena tak tahu harus menjawab apa.


"Tadi, Papa makan ayam goreng giginya gak sakit," ucap Alika lagi sambil terus menatap papanya.


"Oh sekarang yang sakit yang kanan padahal kemarin yang sakit yang kiri," ucap Alika lagi.


Sontak perkataan Alika berhasil membuat Bu Reni dan Bu Ningrum tertawa terbahak-bahak. Alika memang sulit untuk dibohongi karena dia termasuk anak yang cerdas yang dapat mengingat semua hal dalam sekali kata dan satu kali melihatnya.


Sementara itu Rallyn hanya terdiam sembari mengulum bibirnya menahan tawa, ia merasa tergelitik oleh kelakuan Jo pagi ini yang begitu konyol. Bagaimana bisa dia salah memegang pipinya padahal kemarin dia sendiri yang mengatakan bahwa gigi sebelah kiri yang sakit.


Jo menghela napasnya lalu membuangnya kasar, "Alika memang gak bisa dibohongi tapi ada untungnya juga aku bisa cium Rallyn pagi ini," ucap Jo di dalam hatinya.


Jo berjalan menghampiri Rallyn dan Rallyn pun langsung berdiri karena tahu duda itu pasti sedang ingin mengabulkan pertanyaan anaknya.


Jo berdeham beberapa kali lalu meraih kedua belah lengan atas Rallyn.


"Maaf ya," ucap Jo lalu mencium kening Rallyn.


"Sedikit saja," ucap Rallyn pelan tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali.


"Mama, Papa kerja dulu ya. Mama hati-hati saat di sekolah nanti," ucap Jo pada Rallyn setelah mencium kening Rallyn.


"Iya, Papa. Papa juga hati-hati ya," ucap Rallyn dengan senyuman yang dipaksakan, tangannya mengelus dada Jo dengan maksud merapikan jas yang Jo kenakan.

__ADS_1


"Berhasil juga mencium Rallyn. Tiap hari aja kamu protes, Nak biar Papa bisa dapetin Mama," batin Jo.


Jo langsung pergi setelah itu dan tak menoleh ke belakang lagi karena tak ingin mendapatkan pertanyaan atau permintaan yang lebih sulit lagi dari putri satu-satunya itu!


Setelah jam berlalu sejak kepergian Jo, kini Alika sudah siap untuk pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh Rallyn.


Gadis kecil itu terlihat begitu gembira karena akan mengenalkan mamanya pada teman-temannya.


"Rallyn, kamu bisa bawa mobil?" tanya Bu Reni.


"Tidak, Ma. Saya tidak bisa mengemudikan mobil kalau motor bisa," sahut Rallyn.


"Di sini gak ada motor, ada motor Ashka tapi motor besar memangnya kamu bisa pakai motor sport?" ucap Bu Reni lagi.


"Gak bisa, hanya motor matic saja yang saya bisa," ucap Rallyn.


"Ya udah kalau gitu Mama aja yang bawa mobil lain kali kamu harus kursus mengemudi biar bisa nyetir sendiri," ucap Bu Reni.


Rallyn tersenyum lalu mengangguk pelan, mereka pun mulai masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Bu Ningrum dan Lela di rumah!


*******


Di kantor Jovanka.


"Pagi, Pak," ucap Alice dan Julia menyapa bos mereka.


"Pagi," ucap Jo dengan senyuman manisnya.


"Aaaah Lice, aku tuh bisa kena diabetes kalau tiap hari liat senyum Pak Ashka," ucap Julia sembari menyandarkan kepalanya di pundak Alice.


"Ingat, suaminya Rallyn tuh," ucap Alice.


"Eh iya tapi Rallyn nya mana ya? Kok gak ada," ucap Julia keheranan.


"Oh iya, kemana tuh anak? Jangan-jangan semalam baru tempur, gawangnya udah jebol jadinya dia kesulitan untuk berjalan," ucap Alice.


"Gawang siapa yang jebol? Memang semalam ada pertandingan bola?" tanya Arka yang tiba-tiba nimbrung pembicaraan dua gadis itu.


Arka yang tiba-tiba muncul membuat Alice dan Julia terkejut karena mereka sedang membicarakan sesuatu yang sensitif.


"Astaghfirullah, Pak Arka bikin kaget aja. Ini, Pak kita lagi membicarakan pertandingan bola antara kampung," ucap Julia berbobot.


"Oh," ucap Arka.


Julia dan Alice hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Pak Arka yang hanya ber oh ria saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2