
Di depan rumah sakit itu.
Alice dan Julia terus melontarkan kata-kata kasar pada Kalila. Mereka marah, mereka kesal, mereka geram karena Kalila yang selalu mengganggu rumah tangga Rallyn. Wanita mana yang tidak memaki seseorang yang sengaja masuk ke dalam kehidupan seseorang dan ingin menjadi bagian dalam rumah tangga orang itu.
"Kalian, tuh kenapa? Selalu saja menyalahkannya aku padahal teman kalian yang merebut Ashka dari aku," ucap Kalila.
"Tidak seperti itu, Kalila. Dulu kamu pergi karena perusahaan mereka yang mulai bangkrut, sekarang kamu datang dan ingin kembali karena kamu tahu perusahaan mereka sudah bangkit lagi. Pergilah, Kalila! Cari laki-laki lain yang masih sendiri jangan menjadi perempuan yang tidak punya harga diri," ucap Arka dengan suara pelan.
"Kamu bicara apa, Arka? Kamu menasihatiku?" Kalila menatap Arka dengan terapan tajam. "Aku tahu apa yang aku lakukan, berhenti ikut campur urusanku atau aku akan–"
"Akan apa?" tanya Arka memotong perkataan Kalila.
"Kamu siapa hah? Memang apa yang mau kamu lakukan? Memecat kami dari perusahaan. Ingat, ular sawah. Mulai sekarang perusahaan tidak dipimpin oleh Pak Ashka lagi, sekarang semua Bu Reni yang menangani," ucap Julia.
"Bisanya bergantung pada orang lain. Dasar, Ular sawah," sambung Alice.
*******
Di dalam ruangan rawat Jo.
__ADS_1
"Saya kecewa sama kamu, Jovanka. Kalau kamu mencintai perempuan lain, kenapa tidak kamu kembalikan Rallyn pada kami? Dengan sesuka hati, kamu menyakiti dia seperti ini," ucap Pak Hardi mengeluarkan kekecewaannya pada sang menantu.
"Ayah, saya minta maaf. Saya khilaf, tolong jangan bawa Rallyn pergi, saya janji saya akan memperbaiki diri setelah ini," ucap Jo.
"Memperbaiki diri tapi setelah kamu seperti ini. Siapa lagi yang mau sama laki-laki cacat seperti kamu," ucap Bu Herlina.
Karena terlalu kecewa dan sakit hati oleh perbuatan Jo pada Rallyn. Bu Herlina mengucapkan kata-kata kasar pada Jo seakan dia lupa bahwa di sana ada Bu Reni, ibu kandungnya Jo. Sementara itu, Jo hanya bisa diam tanpa kata, perkataan ibu mertuanya itu memang benar. Perempuan mana yang mau padanya yang sekarang sudah mengalami melumpuhkan dan juga kebutaan.
Bu Reni yang sedang duduk di sofa itu, hanya bisa diam. Dia tak dapat membela putra satu-satunya karena memang dia bersalah. Meski sebenarnya dia merasa sakit atas perkataan besannya, tapi memang itulah kenyataannya. Sekarang anaknya tak dapat melihat dan tak dapat berjalan lagi seperti sediakala.
"Astaghfirullahalazim. Bu, ibu sadar gak, Ibu bicara apa? Dia suamiku, Bu," ucap Rallyn.
"Ibu pernah bilang, setiap pernikahan pasti ada cobaan dan godaannya. Ibu juga pernah bilang, sebagai seorang perempuan, kita harus menjaga nama baik suami dan menyimpan aib keluarga sendiri. Aku pikir ini adalah cobaan dalam pernikahanku, Bu, Yah. Sekarang aku sedang berusaha menjaga keutuhan rumah tangga yang baru seumur jagung ini. Aku sengaja tidak mengatakan pada Ibu tentang yang terjadi pada rumah tanggaku karena aku ingin menjaga nama baik suamiku, aku tidak mau Ayah dan Ibu membenci orang yang aku cintai. Aku cinta sama dia, Bu," jelas Rallyn.
Mendengar perkataan Rallyn, Bu Reni begitu bangga padanya. Bagaimana tidak, diusianya yang terbilang masih muda, Rallyn bisa menyembunyikan luka dari orang terdekatnya. Dia tidak memberitahu Ayah dan Ibunya tentang Jo yang sudah berselingkuh, dia malah menyimpan luka itu sendiri demi menjaga nama baik suaminya.
"Pak, Bu, tolong berikan anak saya kesempatan kali ini saja. Jujur, saya tidak sanggup jika harus kehilangan Rallyn. Saya sudah terlanjur menyayanginya," ucap Bu Reni.
"Tidak bisa. Sekali mengkhianati selamanya dia akan tetap melakukan itu. Saya tidak siap melihat anak saya sakit," ucap Bu Herlina.
__ADS_1
"Tolong, Bu. Sekali ini saja, jika memang anak saya tidak bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik, saya sendiri yang akan mengantarkannya pada Bapak dan Ibu," ucap Bu Reni.
"Ayah, Ibu, saya janji tidak akan melakukan hal yang sama. Saya tidak akan membuat Rallyn terluka," ucap Jo.
"Rallyn mencintainya, Yah, Bu. Tolong izinkan Rallyn tetap di sini, bersamanya. Jika memang Rallyn sudah tidak kuat lagi menghadapi cobaan ini, Rallyn akan pulang dan meminta pelukan dari kalian. Tolong jangan ajak Rallyn pergi dalam kondisi Mas Jo yang seperti ini, Rallyn ingin merawatnya," ucap Rallyn dengan penuh permohonan.
Di ruangan itu terdengar penuh dengan suara isak tangis dari Bu Herlina, Rallyn dan Bu Reni. Bu Herlina sedih karena mengetahui penderitaan sang anak sedangkan Bu Reni, dia takut kehilangan Rallyn.
Rallyn yang memang sudah sangat mencintai Jo, pasti dia sedih karena takut orang tuanya tidak mengizinkannya melanjutkan hubungan pernikahannya dengan Jo yang akhirnya, perjuangannya dalam mempertahankan rumah tangganya sia-sia begitu saja.
"Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari dia. Ayah harap, bukan kehidupan mewah yang kamu kejar darinya. Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk itu," ucap Pak Hardi yang tak mengerti mengapa Rallyn masih tetap ingin bertahan padahal suaminya sudah menyakitinya dan membuat luka yang sangat dalam.
Pak Hardi dan Bu Herlina adalah orang biasa yang tak pernah memanjakan Rallyn dengan kemewahan, karena itulah Pak Hardi berpikir demikian, mengingat sejak anaknya menikah dengan Jo, dia menjadi hidup enak tanpa harus capek bekerja. Bukannya Pak Hardi menuduh Rallyn seperti itu. Dia bicara begitu hanya untuk mengingatkanku Rallyn bahwa harta tidak dapat membuatnya bahagia dalam menjalani semua kisah hidupnya.
"Tidak, Ayah. Kenapa Ayah bicara seperti itu padaku. Aku benar-benar mencintainya, Yah," sahut Rallyn.
"Tidak, Pak. Rallyn tidak seperti itu, dia tidak begitu. Saya tidak merasa Rallyn memanfaatkan uang anak saya." Bukannya curiga dengan perkataan ayahnya Rallyn, Bu Reni malah membela Rallyn, dia tidak setuju dengan perkataan Pak Hardi karena memang selama ini Rallyn tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan bahkan untuk uang bulanannya, pun, ia tidak pernah meminta berapa nominal yang harus diberikan padanya oleh Jo padahal Rallyn tahu bahwa Jo adalah anak dari pemilik perusahaan besar.
"Tolong, Bu. Tolong bujuk ayah agar tidak memaksaku pergi dari suamiku," ucapan Rallyn pada sang ibu. Dia tahu bahwa hanya ibunya saja yang dapat membujuk ayahnya. Dia juga tahu bahwa ibunya pasti akan setuju dengan keinginannya yang ingin tetap bertahan dengan Jo.
__ADS_1
Bersambung