Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 54 Diam tanpa kata


__ADS_3

Di taman milik rumah sakit itu. Rallyn dan Alika duduk bersebelahan di kursi yang ada di sana. Alika asyik memakan es krim yang dibelikan oleh Rallyn sedangkan Rallyn hanya diam sambil melamun.


Rallyn merasa terbebani dengan permintaan ibu mertuanya yang meminta dirinya tetap bertahan bersama Jo sedangkan dirinya sudah sangat tersakiti dengan pernyataan Jo yang tidak mau melepaskan Kalila. Meski dirinya sangat mencintai Jo tapi dirinya tidak bisa menerima perempuan lain dalam rumah tangannya sekali pun perempuan itu adalah mantan istrinya Jo. Baginya begitu sulit menerima perempuan itu meski sebenarnya laki-laki berhak memiliki lebih dari satu istri asalkan dia mampu bersikap adil pada istri-istrinya.


"Ma, kenapa Mama mau pergi dari rumah?" tanya Alika dengan begitu polosnya.


Rallyn yang sedang sibuk dengan semua pemikirannya pun terhenyak dari lamunannya sesaat setelah mendengar suara Alika. "Eh, kenapa, Sayang?" tanyanya.


"Kenapa, Mama ingin pergi dari rumah? Apa aku tidak cukup baik, sehingga Mama tidak mau tinggal bersama aku lagi? Aku janji aku tidak akan menjadi anak yang nakal," ucap Alika lagi.


"Apa yang kamu bicarakan, hmm? Kamu anak yang baik. Mama sayang sama kamu, Mama ingin pergi karena mama kangen sama kakek dan nenek kamu. Mama ingin menginap di rumah mereka," jelas Rallyn berbohong.


"Ajak aku juga ke rumah kakek dan nenek. Alika juga kangen sama mereka," ucap Alika lagi.


Rallyn tersenyum tipis, dalam hatinya, dia merasa pilu karena Alika sangat membutuhkan dirinya sebagai pengganti Kalila. Dia meneteskan air mata lalu memeluk Alika.


"Kalau saja kamu tahu, aku bukan ibu kandungmu. Apa kamu masih mau memanggilku dengan sebutan 'mama'?" batin Rallyn.


Saat mereka sedang asyik berpelukan, Bu Ningrum datang dari arah belalang dan langsung menghampiri Rallyn dan Alika. Bu Ningrum mengusap punggung Rallyn, mencoba menguatkan menantu di rumahnya itu. Sedikit pun dirinya tidak rela kehilangan Rallyn.


Dirinya tahu bahwa Rallyn dan Jo menikah bukan karena cinta tapi setelah tinggal bersama dengan Rallyn, sifat dan sikap Rallyn berhasil membuatnya nyaman dan percaya bahwa Rallyn adalah ibu yang tepat untuk Alika. Bu Ningrum sudah terlanjur menyayangi Rallyn dan menganggap Rallyn sebagai anaknya dan bukan menantunya.


"Nenek harap pikirkan lagi niat kamu untuk pergi dari rumah. Alika sangat menyayangi kamu dan Nenek juga tidak siap kehilangan kamu," ucap Bu Ningrum.

__ADS_1


"Aku perlu berpikir untuk itu, Nek. Untuk apa aku masih di sana sementara suamiku sendiri sudah mempunyai tempat lain untuk bersandar. Aku bukan perempuan kuat yang bisa menerima perlakuan suami yang memilih mendua, aku tidak bisa, Nek. Aku kesakitan," ucap Rallyn


"Semua rumah tangga pasti ada ujiannya. Mungkin ini ujian untuk kamu, Nenek yakin kamu pasti bisa melewati ini semua," ucap Bu Ningrum lagi sementara Alika hanya diam karena dia memang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.


Rallyn menghela nafasnya panjang lalu membuangnya kasar. "Jangan bicarakan ini dulu, Nek. Sekarang yang utama adalah kesembuhan mama," ucapnya.


"Ayo kita pulang! Ashka yang akan menemani mama kamu malam ini," jelas Bu Ningrum.


"Nenek pulang duluan saja. Aku perlu bicara berdua dengan mama," ucap Rallyn.


"Ya sudah. Pulang jangan terlalu malam! Nenek pulang ya," ucap Bu Ningrum lagi.


"Iya, Nek," sahut Rallyn.


"Alika ayo pulang, Sayang!" ajak Bu Ningrum pada Alika.


"Hati-hati ya, Nek," ucap Rallyn. Bu Ningrum hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Rallyn.


Sementara itu, setelah kepergian Bu Ningrum dan Alika. Rallyn masih asyik duduk di sana meski adzan maghrib sudah berkumandang, dia masih tertegun merenungi nasib hidupnya yang tak seindah yang dia bayangkan.


"Sudah maghrib. Kamu tidak ingin shalat?" tanya Jo yang entah sejak kapan berada di sana.


Rallyn hanya diam dan tak menoleh ke arah Jo dan menatapnya walau sedikit. Dia beranjak dari duduknya dan langsung mencari masjid atau mushola terdekat dari rumah sakit itu.

__ADS_1


Jo langsung berjalan menyusul Rallyn dan langsung mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Rallyn. Dia meraih tangan Rallyn berharap bisa berjalan bergandengan. Rallyn yang masih menyimpan kemarahan langsung menarik tangannya dari genggaman Jo dan langsung mempercepat langkahnya untuk menjauhi Jo.


"Rallyn! Rallyn aku mohon jangan diamkan aku seperti ini," ucap Jo sembari terus berjalan mengikuti Rallyn.


Rallyn terus terdiam hingga sampailah mereka di depan sebuah mesjid. Rallyn langsung berjalan ke arah tempat wudhu untuk perempuan sedangkan Jo masih berdiri di sana sambil menatap kepergian Rallyn.


"Aku mencintai Kalila tapi aku sangat takut kehilangan kamu Rallyn. Aku mencintai kalian berdua, aku kesulitan memilih siapa yang tepat untukku. Bagiku kalian berdua begitu istimewa," batin Jo.


*********


Di kediaman Kalila.


Saat ini Davina sedang bersama Kalila di teras rumah itu. Mereka bercanda ria membicarakan semua yang terjadi pada mereka. Satu hal yang membuat Davina tertarik dengan topik pembicaraan mereka, yaitu pembicaraan tentang Jo yang ternyata masih mencintai Kalila.


"Kamu yakin kalau Ashka benar-benar mencintai kamu?" tanya Davina sembari menatap Kalila.


"Tentu saja tapi dia kayaknya belum mau melepaskan si Rallyn itu," sahut Kalila.


"Pokoknya kamu harus berusaha agar Ashka melepaskan si Rallyn. Kamu satu-satunya perempuan yang pantas untuk Ashka," ucap Davina lagi.


"Aku pasti menyingkirkan Rallyn. Dia bukan apa-apa bagiku, perempuan kecil itu sebentar lagi akan ditendang dari istana keluarganya Ashka," ucap Kalila penuh percaya diri.


"Dan setelah itu, kamu yang akan ditendang dari istana itu. Akulah perempuan yang akan menjadi pendamping Ashka yang terakhir dan untuk selamanya," batin Davina dengan senyuman licik yang terukir di bibirnya.

__ADS_1


Dua sahabat itu tersenyum dengan masing-masing memiliki arti tersendiri. Kalila tidak pernah tahu bahwa ternyata sahabatnya itu sedang berpikir untuk menyingkirkannya juga dari kehidupan Jo.


Bersambung


__ADS_2