
Masih di Mall mewah itu. Rallyn dan Jo masih di tempat itu dan masih bersama dengan Mei dan Darren. Jo memang mengenal Darren dengan baik, mereka sudah saling kenal sejak beberapa tahun belakangan.
"Jadi, ini gimana? Mau lanjut jalan-jalan atau gimana?" tanya Jo pada Rallyn.
"Aku ... aku takut," ucap Rallyn.
"Kayaknya, Mbak Rallyn butuh masih syok dengan kejadian yang menimpanya," ucap Mei yang sedari tadi memegangi dress nya yang sobek di bagian bawah hingga menampakkan bagian paha atasnya.
"Kamu kenapa? Kaki kamu sakit?" tanya Darren pada Mei.
"Nggak. Ini ... gaunku sobek, tadi nendang penjahatnya kekencangan," sahut Mei lalu mengulum bibirnya.
"Ya udah kita beli aja baju baru, buat kamu ganti," ucap Darren.
"Terus ini gimana? Aku gak bisa jalan dengan kearah begini," ucap Mei lagi.
"Mbak, kebetulan saya pakai jas. Pakai ini saja untuk menutupi bagian yang sobek," ucap Jo sembari membuka jas nya lalu memberikannya pada Mei.
Mei menatap Darren, mengisyaratkan bahwa dia bertanya, apakah boleh atau tidak dia menerima tawaran dari Jo. Darren mengangguk dan Mei pun segera meraih jas milik Jo lalu segera mengikatkan jas itu di pinggangnya.
"Mbak, mari saya antar untuk cari baju nanti biar saya yang bayarin," ucap Rallyn pada Mei.
"Oh, iya, boleh tapi sebenarnya gak usah dibayarin," sahut Mei dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Gak apa. Ayo, Mbak!" Rallyn dan Mei pun masuk ke dalam Mall itu dan langsung memasuki toko pakaian sementara Jo Dan Darren masih berdiri di tempat semula.
"Pak Darren, istrinya hebat ya. Jagoan, bisa mengalahkan tiga preman sekaligus," ucap Jo.
"Itulah istri saya. Jangankan tiga, lima preman saja dia bisa menanganinya," ucap Darren dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Enak, dong, Pak kayak punya bodyguard pribadi," ucap Jo sembari menggerakkan tangannya mempersilahkan Darren untuk berjalan memasuki Mall itu dan menyusul istri mereka.
"Justru saya sering ketakutan. Istri saya yang tangguh itu sering dalam bahau karena sering berantem demi menolong orang yang tidak dia kenal. Contohnya seperti yang terjadi barusan, dia tidak mengenal, Anda dan istri tapi dia tetap menolong kalian," ucapan Darren.
Di dalam Mall itu tepatnya di toko baju khusus wanita. Rallyn dan Mei sedang memilih-milih baju yang akan mereka beli, kebetulan di sana juga ada Kalila yang sedang berbelanja.
"Aww, Rallyn. Kamu di sini? Sama siapa? Sendiri ya, karena suami kamu sibuk terus sama aku," ucap Kalila tanpa rasa malu.
Mantan istri Jo ini memang sudah putus urat malunya hingga dia berani mengakui hubungan gelapnya dengan Jo dideportasi istri sahnya dan di depan beberapa orang di sana termasuk Mei. Kalila sudah tak perduli lagi dengan perasaan Rallyn dan sindiran-sindiran pedas yang kadang terlontar dari mulut Rallyn. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana dirinya bisa mendapat Jo kembali.
"Dunia ini sempit banget ya. Di kantor, aku ketemu kamu, di sini juga ketemu kamu. Apa mungkin kamu sengaja mengikuti ke mana pun suamiku pergi?" ucap Rallyn.
"Kamu itu sudah kalah, Rallyn. Ashka sudah memilih aku," ucap Kalila dengan suara nyaring.
Mei yang tidak tahu permasalahan diantara mereka, hanya diam dan memilih pergi untuk mencoba baju yang sudah dia pilih baru saja. Mei masuk ke dalam ruangan ganti dan langsung memakai baju yang dipilihnya tadi.
"Kamu itu punya malu gak, Kalila? Sebagai seorang wanita, kamu sama sekali tidak punya harga diri, kamu mengejar seorang laki-laki yang sudah beristri dan tanpa malu, kamu mengumbar hubungan gelap kalian. Miris sekali jadi kamu, Kal. Gak laku sama laki-laki yang masih sendiri," ucap Rallyn yang kini mulai berani melawan Kalila. Rallyn mulai melakukan pertahanan dirinya dari kelakuan si pelakor yang selalu membuatnya lemah.
"Jangan main kasar di depan saya!" ucap Mei sembari menangkis tangan Kalila. Mei menatap Kalila dengan tatapan tajam lalu membanting tangan Kalila pelan.
"Kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan orang," ucap Kalila dengan suara lantang.
"Saya, memang tidak kenal pada kalian berdua tapi saya tidak suka adanya kekerasan. Mending kamu pergi sebelum saya panggil satpam," ucap Mei yang merasa tak harus mengeluarkan kemampuannya untuk mengusir Kalila.
"Awas, kamu ya Rallyn." Kalila berusaha menjambak rambut Rallyn, tapi Rallyn lebih dulu pergi meninggalkan Kalila di sana.
"Mbak, jangan ladeni orang ini. Jiwanya sedang terganggu," ucap Rallyn sebelum akhirnya dia meninggalkan Kalila di sana.
Kalila yang kesal pun langsung pergi dari toko itu dengan perasaan kesal. "Kurang ajar, si Rallyn itu. Udah berani merendahkan aku di depan banyak orang. Awas saja, aku akan melaporkan ini pada Ashka," ucap Kalila di dalam hatinya sambil terus berjalan meninggalkan toko itu.
__ADS_1
Sementara itu masih di toko pakaian itu. Mei dan Rallyn lanjut berbelanja, meski Mei sudah menemukan dress yang ia sukai dan kini sudah memakainya tapi dia masih ingin membeli baju lain lagi.
Tak lama Darren dan Jo tiba di sana. Mereka berjalan menghampiri Rallyn dan Mei yang sedang asyik memilih pakaian di sana. "Mbak, tolong jangan bicarakan tentang perempuan tadi di depan suami saya," ucap Rallyn pada Mei dengan suara pelan.
Mei tersenyum lalu mengangguk pelan. Dia langsung mendekati suaminya dan memintanya untuk menilai dress pilihannya itu. Sementara itu, Rallyn dan Jo berjalan ke lorong lain untuk melanjutkan belanjanya.
Setelah lama berkeliling di toko itu, akhirnya mereka selesai. Darren dan Mei sudah keluar lebih dahulu sedangkan, Rallyn dan Jo masih di toko itu, tapi akhirnya mereka pergi bersama dari tempat itu dan kini mereka sedang menuju restoran yang berada di lantai dua Mall itu. Mereka pun menaiki eskalator untuk tiba di salah satu restoran tempat biasa Rallyn dan Jo Makan.
Setibanya di atas, mereka langsung berjalan menuju sebuah restoran. "Pak Rama!" seru Jo pada seorang laki-laki yang sedang berjalan dengan menggandeng dua wanita di sisi kanan dan kirinya.
Laki-laki bernama Rama itu pun menatap Jo lalu tersenyum lebar ke arah mereka. "Eh, Pak Ashka. Di sini juga?" tanya Rama sembari melepaskan genggamannya dari dua perempuan yang bersamanya.
"Lagi pada belanja ya, sepertinya," ucap Darren yang juga mengenal Rama.
"Iya, Pak. Kami sedang mencari peralatan bayi, tapi ya itu dia, kami belum paham apa saja yang harus dibeli. Maklum, anak pertama," ucap Rama.
"Wah, sudah mau menjadi ayah rupanya. Selamat ya, Pak Rama, Bu ...." Jo menghentikan ucapannya karena tak tahu siapa nama istri dari Rama.
"Ah, ya sampai lupa. Perkenalkan ini Ayra, istri saya dan ini Fitri, istri kedua saya," ucap Rama tanpa rasa ragu.
"Apa! Dua istri?" Sontak, Rallyn dan Mei terkejut mendengar pernyataan Rama.
Ayra dan Fitri tersenyum ke arah dua perempuan cantik itu lalu menjabat tangan mereka secara bergantian. Mei dan Rallyn saling menatap, keduanya sama-sama terkejut dan bingung. Mengapa ada dua perempuan yang rela berbagi suami?
Sementara itu, Darren yang sudah tahu bahwa Rama memiliki dua istri, bersikap biasa saja seolah tak ada apa-apa. Dia menang termasuk tipe orang yang bodoamat dan tak ingin terlalu ikut campur urusan orang. Sementara itu, Jo yang juga baru tahu bahwa Rama mempunyai dua istri, hanya bisa terdiam dengan senyuman tipis di bibirnya. Dia tak percayakan dua istri Rama terlihat begitu akrab bahkan mereka sangat dekat, seperti tidak pernah ada keributan diantara mereka.
Bersambung.
Ayo, yang mau kenalan sama Babang Rama yang memiliki dua istri tapi tidak pernah ada keributan di antara mereka, intip kisah mereka di novel yang berjudul TAKDIR CINTA YANG KUPILIH.
__ADS_1
Tentunya karya author receh ini ya, Author: Lena laiha.