
Di sofa itu, Jo terus memaksa Rallyn. Dia memeluk Rallyn dengan kuat sambil berusaha mencumbu istrinya itu. Dengan sekuat tenaganya, Rallyn terus menolak dan berusaha lepas dari Jo. Tangisnya semakin pecah saat dirinya tak dapat melawan karena tenaga Jo lebih kuat darinya.
"Nggak! Aku gak mau. Lepasin aku!" teriak Rallyn sembari mendorong dada Jo.
Tak mendengarkan teriakan Rallyn. Jo terus saja melakukan apa yang dia inginkan. Dengan entengnya dia memangku tubuh Rallyn lalu membawanya ke tempat tidur. Dia membengkak tubuh istrinya lalu langsung menindihnya dari atas.
Plak!
Rallyn menampar pipi Jo dengan sekuat tenaganya. Ini kali pertamanya dia melakukan kekasaran pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Tak ada yang bisa dia lakukan lagi selain memberikan tamparan keras pada Jo saat dirinya mempunyai kesempatan untuk melawan.
Sementara itu, sedikit pun Jo tak mempermasalahkan tamparan yang didapatnya dari Rallyn. Dia hanya menatap Rallyn sekilas lalu kembali berusaha melampiaskan hasratnya.
"Aku tidak mau. Aku tidak mau, jangan lakukan ini padaku," ucap Rallyn dengan tangis yang semakin deras.
"Aku tidak akan memaksa kalau, kamu mau berjanji bahwa, kamu tidak akan pergi dan tidak akan mrnggugat cerai aku," ucap Jo sembari mengusap air mata Rallyn.
"Jahat, kamu. Kamu memang jahat Jovanka."
"Aku tidak jahat, Rallyn. Aku cinta sama kamu, aku tidak ingin pisah dari kamu," ucap Jo lalu mencium pipi Rallyn.
"Menyingkirlah dari sini. Aku mohon," ucap Rallyn lagi.
"Berjanji dulu kalau kamu tidak akan pergi dariku."
__ADS_1
"Ini bukan cinta, Jo. Yang kamu rasakan padaku bukan cinta tapi nafsu. Tidak ada cinta yang menyakitkan seperti ini, tidak ada cinta yang melukai sampai sedalam ini," ucap Rallyn dengan air mata yang tak pernah surut.
"Ini cinta. Aku cinta kamu, aku sayang sama kamu."
"Kalau kamu cinta sama aku, tidak akan pernah ada Kalila dalam hatimu. Kamu tidak akan pernah mencintai mantan istri kamu lagi," ucap Rallyn dengan suara terbata-bata.
"Aku cinta sama kamu. Kamu tidak perlu tahu aku dengan Kalila."
"Tolong!" teriak Rallyn karena tidak ingin berjanji bahwa dirinya akan bertahan. Rallyn sudah bisa memastikan bahwa dirinya tidak akan sanggup hidup bersama laki-laki yang sudah jelas-jelas menyakiti dirinya.
"Jangan berteriak karena kamu hanya akan menghabiskan suaramu saja. Orang-orang di rumah ini tidak akan pernah mendengar suara teriakan kamu karena kamar ini kedap suara," jelas Jo.
Rallyn tak berucap lagi. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah. Tenaganya sudah mulai habis karena sedari tadi dirinya terus melawan Jo.
"Lepaskan aku, Jo. Aku tidak mau di sini, aku mau pulang, aku mau pulang," ucap Rallyn, kini dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Jo menggerakkan tangannya meraih satu buah dada milik sang istri lalu mer**asnya dengan begitu santai seolah mereka sedang baik-baik saja. Dia tersenyum tipis dengan mata yang terus tertuju pada wajah sang istri.
"Katakan bahwa kamu tidak akan pergi dariku," ucap Jo lagi.
"Dasar lalaki edan, stres. Diracun sia ke ku aing," ucap Rallyn didalam hatinya dengan menggunakan bahasa Sunda.
"Kenapa kamu diam? Ayo katakan!" Jo mengencangkan tangannya yang saat ini masih memegang benda kenyal itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau berjanji. Aku tidak mau hidup dalam penjara cintamu yang gila ini," ucap Rallyn sembari mendorong dada Jo agar turun dari atas tubuhnya.
"Aku tidak mau melepaskan kamu." Jo membenamkan wajahnya di dada Rallyn dengan tangannya yang berusaha menyusup masuk ke dalam baju yang dikenakan oleh Rallyn.
Rallyn menelan ludahnya kasar, dalam hatinya ada kemarahan yang besar bahkan sampai menggunung. Dalam hatinya dia berjanji, jika saat ini Jo benar-benar melakukannya padanya maka sampai kapan pun tidak akan pernah ada maaf untuk suaminya itu.
Karena merasa tak ada pergerakan atau pun suara dari Rallyn. Jo mengangkat kepalanya ke atas untuk dapat menatap wajah Rallyn. Dia melihat Rallyn masih menangis tapi tak mengeluarkannya suara mungkin Rallyn sudah kehabisan tenaga. Pikir Jo.
Jo menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Rallyn hingga kini dia terbaring di samping Rallyn. Dia berbaring dengan posisi menyamping menghadap Rallyn, diraihnya pipi perempuan itu lalu diusap air matanya dengan lembut.
"Aku tidak sejahat itu. Aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku tapi satu yang harus kamu tahu, aku mencintai kamu dan selamanya kamu akan menjadi istri aku," ucap Jo dengan suara lembut.
Rallyn menepikan tangan Jo lalu bergulir membelakangi Jo karena tak ingin melihat wajah laki-laki yang sudah menyakitinya itu. Meski Jo tak benar-benar memper***anya tapi benci di hatinya sudah terlanjur hadir dan tak dapat hilang hanya satu kebaikan Jo saja.
"Tidurlah, Sayang. Istirahatlah dengan tenang, aku tidak akan mengganggu tidurmu lagi," ucap Jo dengan sedikit berbisik. Perlahan Jo memeluk Rallyn dari belakang dan mulai menutup matanya.
Rallyn hanya diam dan membiarkan Jo memeluknya, tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dirinya sangat merindukan pelukan itu daripada Jo. Dirinya memang membenci sosok laki-laki yang kini memeluknya itu tapi rasa benci itu tak dapat menghapus cintanya yang sudah terpanjang tumbuhan.
Perlahan tapi pasti, Rallyn mulai menutup matanya dan kini akhirnya dia tertidur. Merasakan suara nafas Rallyn yang mulai teratur, Jo membuktikan matanya lalu duduk di sana. Ditatapnya Rallyn yang tertidur dengan posisi membelakanginya, ini kali pertama perempuan itu tidur dengan posisi itu karena biasanya Rallyn akan tidur menghadap ke arahnya atau dengan posisi terlentang. Dia masih bisa mendengar suara sedu tangis Rallyn meski perempuan itu sudah tertidur pulas.
"Maafkan aku, Rallyn. Aku memang egois tapi aku tidak bisa menahan rasaku pada Kalila. Aku sudah terlalu mencintaimu dan sekarang secara sengaja dan dalam kesadaran penuh aku menyakiti dan mengecewakan kamu," batin Jo.
Entah apa yang meracuni pikiran Jo sehingga dia begitu tergila-gila lagi pada Kalila yang jelas-jelas dulu pernah menyakiti hatinya. Dirinya tak peduli meski perbuatannya menyakiti istri dan juga keluarganya. Lama, Jo menatap Rallyn dalam hatinya dia merenungi dirinya, perbuatan pada istri yang sebenarnya sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Bersambung