
Di kafe itu Rallyn dan dua temannya asyik mengobrol sampai mereka melupakan Jo yang sedang menunggu Rallyn entah di mana.
"Kalian sadar gak sih kalau Pak Arka itu manis," ucap Julia.
"Hati-hati Pak Arka mungkin udah ada yang punya," ucap Alice.
"Biar saja, aku hanya sebatas mengagumi saja tidak ada niatan untuk memiliki," ucap Julia.
"Perasaan yang manis itu gula deh kenapa jadi Pak Arka? Apa mungkin Pak Arka yang punya pabrik gula makanya dia jadi manis," ucap Rallyn.
"Eh tapi kok kamu tahu kalau Pak Arka manis, emang kamu pernah mencicipinya? Menjilatnya mungkin?" sambung Rallyn.
"Dasar aneh. Maksud aku bukan manis gula tapi manis karena kelewat ganteng," ucap Julia.
Rallyn dan Alice tertawa terbahak mendengar nada bicara Julia yang terdengar sedang kesal.
"Hai cewek-cewek," ucap seorang laki-laki yang kebetulan berada di kafe itu juga.
"Hai," ucap Alice sementara Rallyn hanya cuek saja.
"Boleh gabung?" tanya laki-laki yang sepertinya masih singel itu.
"Oh, silahkan," ucap Julia.
"Terima kasih. Perkenalkan nama saya Alvaro, panggil saja Al," ucap laki-laki itu.
"Hai, aku Julia," ucap Julia.
"Aku Alice," ucap Alice.
"Salam kenal Julia, Alice," ucap Alvaro.
"Permisi, boleh saya tahu nama kamu?" ucap Al pada Rallyn.
Rallyn tersenyum tipis lalu berucap, "nama saya Rallyn."
"Sepertinya kamu tipe orang yang irit bicara ya?" ucap Al lagi.
"Biasa aja," ucap Rallyn.
"Ngomong-ngomong kamu sendirian?" tanya Alice.
__ADS_1
"Hmm, dimana teman kamu atau pacar mungkin?" sambung Julia.
Al tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak punya pacar kalau teman ada tapi karena ini malam minggu jadi mereka pergi kencan dengan pasangan masing-masing," jelas Al.
"Uuuh, kasian," ucap Julia.
"Kalian sendiri tidak bersama pacar kalian?" tanya Al.
"Duda itu mana sih? Kok dia gak ke sini, apa dia sengaja gak ke sini karena gak mau mengganggu aku dan teman-teman aku?" batin Rallyn sembari mencari-cari keberadaan Jo di tempat itu.
"Rallyn, kenapa kamu diam saja? Sedang menunggu seseorang ya?" tanya Alvaro.
"Tidak. Tidak sedang menunggu siapa-siapa lagi pula kami semua ini tidak memiliki pacar," ucap Rallyn.
Alice dan Julia saling menatap satu sama lain. Mereka tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rallyn mengapa Rallyn berkata seperti itu seolah dirinya tak mengakui bahwa dirinya sudah menikah.
"Kamu memang orangnya pendiam ya. Dari tadi kamu cuma diam dan baru bicara saat ada yang bertanya," ucap Al pada Rallyn.
"Aku ke toilet sebentar ya. Kalian lanjut aja ngobrolnya," ucap Rallyn sembari beranjak dari tempat duduknya.
Rallyn pun segera pergi dari sana namun, bukan ke toilet melainkan ke tempat parkir untuk mencari Jo.
Setelah berjalan lumayan jauh, langkahnya terhenti saat melihat Jo sedang digelenditi seorang perempuan. Terlihat dengan jelas olehnya, perempuan itu mendekatkan dadanya seolah sedang menggoda Jo.
Perlahan Rallyn berjalan mendekati mereka agar dirinya dapat mendengar perbincangan mereka!
"Ayolah, Ashka kamu sudah lama menduda. Sejak Kalila pergi tidak pernah sekali pun aku melihatmu dekat dengan seorang perempuan," ucap perempuan itu.
"Davina menyingkir lah, aku tidak ingin diganggu," ucap Jo.
"Ashka, aku tidak akan meminta hubungan yang jelas. Aku mau dijadikan perempuan simpanan asalkan sama kamu, dari dulu aku suka sama kamu bahkan saat kamu masih berhubungan baik dengan Kalila."
Dari jarak yang tidak terlalu jauh Rallyn tetap tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, suara berisik dari kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya yang terdapat didepan kafe itu membuat pendengaran Rallyn tidak fokus pada satu suara saja.
"Perempuan itu siapa sih?" batin Rallyn sembari terus memperhatikan mereka.
"Astaga Rallyn. Ngapain sih kamu sibuk mencari tahu siapa perempuan itu? Lagipula terserah di duda mau ngapain sama dia kalau pun mereka berpacaran gak akan merugikan aku malah menguntungkan karena si duda pasti menceraikan aku," batin Rallyn lagi.
"Davina tolong menjauh dari aku. Apa kamu tidak malu melakukan hal ini padaku," ucapan Jo.
__ADS_1
"Ashka, aku cinta sama kamu. Kenapa sih kamu gak pernah bisa menerima aku padahal aku selalu memperhatikan kamu lebih dari Kalila, aku mencintai kamu lebih dari Kalila bahkan saat Kalila sudah pergi pun aku masih mencintai kamu," ucap Davina.
"Ngaco kamu. Aku harus menemui seseorang," ucap Jo sembari pergi meninggalkan Davina di sana!
Rallyn segera menyelinap ke balik mobil untuk menghindari Jovanka!
Setelah Jo sudah masuk ke dalam kafe itu Rallyn pun langsung masuk dan langsung bergabung kembali dengan teman-temannya!
"Dari mana kamu, Lyn? Masa dari toilet lama banget," ucap Alice.
"D_dari ... aku dari toilet kok," ucap Rallyn.
"Lama banget," ucap Julia.
"Tadi tiba-tiba perut aku melilit jadi bolak-balik toilet," ucap Rallyn berbohong.
"Apa! Kamu. Ya ampun Rallyn, ayo kita ke rumah sakit," ucap Jo yang mendengar pengakuan Rallyn.
"Selamat malam, Pak," ucap Alice dan Julia pada Jo.
"Malam," ucap Jo dengan sedikit senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Kamu menguping pembicaraan kami?" tanya Rallyn.
"Nggak, tadi aku nunggu kamu di depan karena aku kehausan aku ke sini untuk memesan minum," jelas Jo.
"Bohong aja. Siapa perempuan itu, kenapa Jo tidak mau bicara jujur?" batin Rallyn.
"Kamu ada masalah dengan perut kamu. Masih sakit gak? Kita ke dokter aja sekarang," ucap Jo lagi.
"Nggak, udah gak apa-apa kok," ucap Rallyn.
"Serius kamu? Benar kata Pak Ashka tuh kalau kamu sakit ke dokter sana," ucap Alice yang khawatir dengan kesehatan Rallyn.
"Aku udah gak apa-apa kok, serius deh," ucap Rallyn.
"Ya udah, kita pulang sekarang aja yuk. Aku takut kamu sakit lagi nanti," ucap Jo.
"Kita juga mau pulang," ucap Alice.
"Oh ya Lyn, tadi Alvaro titip salam katanya dia ma– mmmph! Mmph!" Belum selesai dengan ucapannya, Alice menutup mulut Julia agar tak menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Jo menatap Julia dan Alice seakan ingin menanyakan siapa Alvaro itu?
Bersambung