Penjara Cinta Suami Tua

Penjara Cinta Suami Tua
bab 79


__ADS_3

Rallyn masih berusaha untuk lepas dari pelukan orang itu, dia terkejut saat melihatmu wajah laki-laki itu. "Mas," ucapnya setelah melihat wajah Jo.


Jo melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Rallyn hingga kini dia menatap ke arahnya. Rallyn tersenyum, tapi air mata menetes dari sudut matanya. Dia bahagia melihat suaminya dapat berdiri tegak dan dapat melihat dirinya lagi.


"Mas, kamu ...." Rallyn memerhatikan Jo dari atas sampai bawah. Dia meraih kedua belah pipi Jo lalu mengusap kelopak mata Jo dengan ibu jarinya.


"Mas ... ini serius kamu? Kamu bisa melihat," ucap Rallyn dengan air mata bahagia yang mengalir deras di pipinya.


Jo tersenyum lalu meraih tangan Rallyn yang masih menyentuh pipinya. Dia menggenggam tangan itu dengan lembut lalu menciumnya beberapa kali.


"Maafkan aku," ucapnya dengan suara pelan.


Rallyn langsung berhamburan memeluk suaminya. Betapa dirinya bahagia melihat suaminya sudah pulih seperti sediakala. Entah kenapa, dirinya begitu bahagia dengan kesembuhan Jo padahal Jo sudah sering menyakitinya.


Jo memeluk erat tubuh Rallyn, sesekali dia mencium kepala istrinya. "Aku mencintaimu," ucap Jo.


"Kenapa kamu melakukan ini, Mas? Kenapa? Kamu pura-pura buta dan pura-pura lumpuh. Apa maksudmu, kenapa kamu tega menyakiti aku seperti ini?" ucap Rallyn yang masih dalam pelukan Jo.


"Aku akan menjelaskannya," ucap Jo lalu mencium kening Rallyn.


"Jangan menangis. Aku janji tidak akan membiarkan kamu menangis lagi," ucap Jo lagi sembari menghapus air mata Rallyn dengan telapak tangannya.


Di lorong itu, Arka terdiam sembari menatap Jo dan Rallyn. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dirinya keheranan melihat Jo yang sudah pulih bahkan terlihat seperti tidak pernah sakiti sebelumnya.


Jo segera memangku tubuh Rallyn dan membawanya memasuki ruangan Bu Reni. Ada sesuatu hal yang penting yang ingin dibicarakannya dengan Bu Reni dan Rallyn. Sementara itu, Arka masih terdiam mencoba mencerna apa yang dilihatnya saat ini.


"I_itu, Pak Ashka? Kenapa dia sudah sembuh? Kenapa kena azabnya sebentar banget?" ucap Julia yang melihat Jo tengah memangku Rallyn.

__ADS_1


Meski dia melihat Jo dari belakang, tapi dia sudah tahu pasti bahwa orang itu adalah Jo. Julia terus menatap ke arah Jo yang terlihat begitu mesra pada Rallyn. Di belakang Julia ada Alice yang juga tengah menatap mereka. Dalam pikirnya, apa ada yang salah dengan mereka berdua, mengapa Jo begitu cepat sembuh?


"Itu benar, Pak Ashka. Beliau sudah sembuh," ucap Arka yang awalnya tak percaya tapi dia mencoba untuk berpikir positif tentang bosnya itu.


"Waktu buta aja gak sadar-sadar, gimana sekarang udah sembuh?" ucap Alice.


"Kenapa dia cepat banget ya, sembuhnya? Kenapa gak selamanya buta saja," ucap Julia.


"Kalian ini, sukanya bicara jelek terus. Kenapa tidak berdoa, setelah ini Pak Ashka benar-benar sadar dari kesalahannya," ucap Arka lalu kembali ke ruangannya.


Awalnya dia ingin bertemu Rallyn untuk membantu Rallyn, mungkin dia kesulitan dalam sesuatu hal yang mungkin dirinya bisa membantu. Karena Jo ada di sana, jadinya, Arka mengurungkan niatnya untuk menemui Rallyn.


Di ruangan pribadi Bu Reni.


"Ashka!" Bu Reni langsung berdiri saat melihat Jo yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Rallyn masih tak percaya dengan yang sedang dia alami ini. Dia hanya diam sambil memastikan bahwa yang terjadi sekarang ini adalah nyata, bukan mimpi. Bu Reni mendekati Jo dan Rallyn lalu langsung duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Jo dan Rallyn.


"Ashka, kenapa kamu ke sini?" tanya Bu Reni seolah dirinya sudah tahu bahwa Jo tidak pernah sakit.


"Ma, aku gak tahan membohongi Rallyn. Aku gak bisa lagi melihat dia menangis," jelas Jo.


"Apa ini? Mama tahu bahwa sebenarnya Mas Jo, tidak pernah buat dan lumpuh?" tanya Rallyn kebingungan.


"Maafkan, Mama, Nak. Ashka yang meminta mama untuk berbohong. Kalau kamu mau marah, marah pada suamimu," ucap Bu Reni pada Rallyn.


Sebelumnya Jo memang sengaja meminta sang ibu untuk mengikuti rencananya. Dia sengaja melakukan kebohongan itu karena dirinya berpikir untuk memiliki dua istri yang akur seperti Pak Rama. Untuk itu dirinya harus menguji kedua perempuan pilihannya, apakah mereka bisa disatukan dalam satu rumah. Selain itu dirinya juga ingin membuktikan semua tuduhan keluarganya terhadap Alika yang akhirnya membawanya pada sandiwara ini.

__ADS_1


"Mas, apa maksudmu? Apa tidak cukup kamu menyakiti aku dengan berselingkuh dengan Kalila! Aku ikut sakit saat kamu dalam kondisi kemarin. Sebenarnya apa mau kamu, Mas? Kamu bilang, kamu cinta sama aku tapi kamu ... kamu terus saja menyakiti aku. Kurang apa, aku ini, Mas? Aku sudah berkali-kali memaafkan kamu tapi–"


"Karena aku ingin menikahi Kalila, aku ingin menjadikan kalian berdua sebagai istriku," ucap Jo memotong perkataan Rallyn yang tiada hentinya.


Seketika Rallyn terdiam. Dia tak percaya suaminya berani mengatakan itu di depan sang ibu, dirinya mulai berpikir bahwa sekarang Bu Reni sudah mengizinkan Jo untuk menikahi Kalila.


Kemarahan Rallyn mulai memuncak, terdengar dari deru napasnya yang kasar dan tak beraturan, terlihat juga dada Rallyn bergerak naik turun tanda dia sedang menahan amarahnya. Ingin rasanya dia mengacak-acak ruangan itu, tapi dirinya masih bisa menguasai emisinya dan memilih tetap berusaha tenang. Dirinya memang sudah berencana untuk pergi, siap tidak siap dirinya akan pergi saat kelakukan Jo sudah melampaui batas kesabarannya.


"Itu rencana awal. Sekarang tidak lagi, aku sudah tidak menginginkan Kalila lagi, aku hanya ingin kamu yang menemani aku sampai jantung ini berhenti berdetak, sampai ruh ini terpisah dari ragaku," ucap Jo, melanjutkan perkataannya yang belum selesai.


Air mata yang baru mulai mereda itu, kini keluar deras lagi. Setelah dirinya begitu marah pada Jo, ada secerca bahagia di hatinya. Mendengar perkataan Jo barusan membuat dirinya lega dan kemarahannya sedikit berkurang.


"Kenapa kamu begitu tega membohongi aku seperti ini, Mas?" ucapnya yang masih dilanda kebingungan


"Saat aku kecelakaan malam itu. Aku ditolong oleh Pak Rama, dia yang membawaku ke rumah sakit. Aku bicara banyak dengannya setelah aku mendapatkan pertolongan dokter. Sebenarnya tidak ada luka serius dalam duduk, tapi setelah bicara dengan Pak Rama, munculah ide untuk bersandiwara itu," jelas Jo.


"Maaf ya, Rallyn. Mama ikut membohongi kamu," ucap Bu Reni.


"Berarti kemarin, kamu melihat Kalila saat di taman?" tanya Rallyn.


"Aku melihatnya bahkan aku tahu saat kamu menatapku waktu itu. Menatapku dengan penuh cinta," sahut Jo.


"Jadi, sekarang kamu sudah tahu siapa itu Kalila dan siapa yang benar-benar mencintai kamu?" tanya Bu Reni.


"Maaf, Ma. Aku pikir Kalila benar-benar sudah berubah tapi ternyata dia masih Kalila yang dulu," ucap Bu Reni.


"Ngapain minta maaf sama, mama? Minta maaf sama istrimu. Dasar laki-laki bodoh, untung Rallyn sabar kalau tidak ... Mama akan kehilangan menantu," ucap Bu Reni dengan sedikit meninggikan suaranya. Dia kesal pada sang anak yang tidak pernah bisa diajak bicara baik-baik dan tidak pernah percaya saat diberitahu tentang Kalila olehnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2